Sunday, February 25, 2018

6 Selebgram yang Paling Hits 2017



Tahun 2017 merupakan tahun eranya instagram, kiblat-kiblat fashion dan caption yang kita sebut selebgram banyak bermunculan seperti jamur, explore instagram kita penuh selebgram-selebgram baru yang belum kita kenal. Dari beberapa peristiwa kemunculan selebgram tersebut ada beberapa selebgram yang menarik banyak sorot mata. Entah itu hal-hal positif atau negatif, namun itulah yang membuat selebgram itu muncul di artikel ini. mari kita simak sekilas saja.


Baca Selengkapnya..

Thursday, September 22, 2016

BURGREENS ; Junkfood sehat dan bersahaja



Junkfood yang sudah mempunyai citra buruk di masyarakat karena menomorduakan penggunaan bahan yang sehat diputar balikan oleh Max Madias dan Helga Angelina, partner bisnis sekaligus pasangan suami-istri pemilik BURGREENS; Restoran Burger dengan konsep healty, green, dan organic. Berawal dari keinginan kuat untuk hidup sehat dan kecintaannya pada makanan sehat Max dan Helga membuat binis makanan vegetarian dengan nama BURGREENS, BURGER dan GREENS, bukan Burger yang hijau namun Burger yang sehat karena hijau adalah perwakilan dari alam, dan alam adalah sumber bahan organik yang sungguh alami serta sumber sehat umat manusia. Semua menu makanan dan minuman nabati yang disediakan di BURGREENS mempunyai rasa yang tak kalah dengan menu-menu hewani,dan tentu saja menyehatkan karena Nutrisi dan protein dalam setiap menunya dipertimbangkan sesuai kebutuhan tubuh manusia agar mendapatkan manfaat dan gizi makanan yang seimbang. Menu yang ditawarkan pun berfariasi, Burger tetapi berbahan dasar organik, Steak dari mushroom, Nasi Goreng, Jejamuran, dan aneka minuman buah-buahan.

Baca Selengkapnya..

Saturday, September 17, 2016

Gintama ; Komik Review


Mangaka : Sorachi Hideaki

 Sakata Gintoki adalah samurai yang hidup di era ketika samurai tidak lagi dibutuhkan. Pasca perang dengan alien dari planet lain yang datang menyerang bumi. Makhluk-makhluk dari berbagai planet pun bekerja sama dalam berbagai bidang, seperti pasar bebas dalam lingkup galaksi. Gintoki tinggal bersama Kagura dan Shinpachi, mengambil pekerjaan sambilan apapun agar menghasilkan uang untuk membayar sewa rumah mereka.

 Sejarah jepang sudah menyebar ke seluruh dunia lewat banyak komik manga yang cukup popular seperti Samurai-x dan Gintama ini, lainnya saya tidak tahu tapi saya yakin banyak sekali yang mengambil tema atau latar belakang sejarah Jepang. Gintama dengan gagah datang memasuki harapan para pembaca komik shonen atau komik semacam pertarungan, namun para pembaca dipecundangi oleh kegagahan samurai yang berperilaku konyol namun berhati mulia, seperti pahlawan kebanyakan. Bodoh, mengejutkan, namun kuat dan membela kaum lemah. Komedi kental mewarnai setiap lembar bahkan panel komik, Memelintirkan sebuah pertumpahan darah oleh pihak yang saling bertikai dan sudah terkenal dengan kekejamannya sebagai samurai paska perang menjadi sebuah komedi yang paling tidak membuat pembaca tersenyum nyengir. Kekejaman masa perang dan sesudahnya pun menjadi sebuah realitas yang tak perlu ditutup-tutupi seperti di Indonesia ini.

 Alien menjadi pilihan untuk memunculkan karakter musuh umat manusia yang berwatak seperti para penguasa bumi, tamak, kejam, namun tersenyum ramah mengaku sebagai teman namun berpikiran lawan. Kata-kata yang sarkas menghiasi panel-panel namun tak perlu dikuatirkan merusak generasi karena generasi pembaca saat ini seharusnya cukup cerdas. Karena tanpa sarkasme, mungkin komedi di komik ini menjadi canggung. Guyonan-guyonan keseharian banyak sekali muncul dan saya juga tertawa dan sedikit menyimpulkan “Ternyata komedi keseharian di Jepang bisa di terima di Indonesia”. Kita sebut saja komedi universal.

 Gintama Tak menjijikan dengan menjilat pembaca dengan kisah cinta yang mendayu-dayu dan terlalu dipaksakan, kisah dalam Gintama selalu menarik untuk dibaca walaupun berkisar cerita yang bersifat “One-shot” atau langsung selesai. Hal ini membuat komik selalu bisa diteruskan selama komikus nya terus menggodok materi cerita sehari-hari yang menarik dan pas ditampilkan di era paska-perang menjelang modern. Tak terputus pada batas akhir cerita yang bertujuan khusus dan detail seperti menemukan harta karun, namun lebih luwes seperti detektif conan. 

Komik di Indonesia masih ragu-ragu untuk muncul dengan sejarah Indonesia yang dianggap kelam, masa kepresidenan Suharto. Komikus kita lebih nyaman mengusung cerita wayang yang dianggap “Nguri-uri budaya jawi” namun cenderung dipaksakan. Atau sibuk menyindir antar kelompok, antar agama, kepentingan politik, kelompok-kelompok seni, atau sibuk mencari komedi murahan yang bisa upload di media sosial dan berharap ketenaran.

Sumber Baca Selengkapnya..

Thursday, September 15, 2016

Sustainable Design



Sustainable design adalah reaksi umum untuk krisis lingkungan global, pertumbuhan pesat kegiatan ekonomi dan populasi manusia, deplesi sumber daya alam, kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Jadi, sustainability atau berkelanjutan disini adalah konsep tentang keterkaitan lingkungan, ekonomi, dan keadilan sosial, suatu perjalanan, sebuah jalan ke depan, untuk menunjukan tanggung jawab untuk warisan masa depan kita, demi hidup yang lebih baik bagi keturunan kita. Apa yang dapat kita perbuat untuk masa depan bumi yang lebih baik.

Baca Selengkapnya..

Tuesday, September 13, 2016

Gotot Prakoso



Lahir di Padang, Sumatera Barat, Gotot Prakosa menghabiskan seluruh pendidikan awalnya di sekolah Taman Siswa (dari Taman Kanak-kanak hingga menengah) sebelum masuk Sekolah Senirupa Indonesia (1972-1974) lalu menekuni ilmu Sinematografi di Institut Kesenian Jakarta (1978). Seni rupa dan terutama seni lukis adalah pijakan pertamanya sebelum terjun ke film dan kemudian berpengaruh pada fokus karya-karyanya, animasi dan eksperimental.

Sebelum masuk ke IKJ, karya-karya animasi dan eksperimentalnya sudah mendapat penghargaan pada Festival Film Mini yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (1976-1980). Selepas dari pendidikannya di IKJ, pria yang terkenal dengan keramahan sekaligus lugas itu mengabdi sebagai pengajar di almamaternya sambil terus melukis, membuat film, dan menulis buku tentang film, wayang, dan fiksi. Ia sempat mengikuti workshop animasi di Filipina, Swiss, dan Jerman. Karya-karya animasi dan ekperimentalnya (film dan video) antara 1974 - 1984 menjadi koleksi yang dipreservasi oleh National Library of Australia.

Selain aktivitas sebagai akademisi dan seniman, Gotot juga terlibat aktif berorganisasi: Wakil Ketua Bidang Humas dan Luar Negeri KFT (1992-1995), Anggota ASIFA (Association Internationale du Film d'Animation, Perancis) dan Presiden ASIFA sejak 2006, Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (2002-2006), Direktur Yayasan Seni Visual Indonesia (2003-...), dan masih banyak lagi. Secara rutin menjadi juri di berbagai festival film dan pembicara di berbagai seminar tentang film. Tahun 2004, Gotot menyelesaikan pendidikan master di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Pada 2008 terpilih menjadi Dekan FFTV-IKJ untuk periode 2008-2012. Pada tahun yang sama dengan sebuah film dokumenter musikal berjudul Kantata Takwa dirilis. Film karya Gotot Prakorsa bersama Eros Djarot ini akhirnya dapat dinikmati publik setelah 17 tahun sejak di Konser Akbar Kantata Takwa tahun 1991.


Representasi penting pada genre film eksperimental Indonesia.

“Kita putar sekaligus untuk mengenang sang sutradara (Gotot Prakosa) yang baru-baru ini meninggal. Film ini sangat fenomenal. Tak hanya berbujet besar pada saat itu karena menghabiskan 600 rol film dan baru selesai setelah tiga kali ganti presiden,” kata Bambang Supriyadi, Wakil Dekan Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta.

Bambang perlu menegaskan hal itu kepada publik di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, akhir Juni lalu, saat pemutaran film Kantata Takwa untuk mengenang kepergian Gotot Prakosa. Acara ini sekaligus ulang tahun ke-45 Institut Kesenian Jakarta.

Bambang adalah salah satu orang yang terlibat dalam pembuatan Kantata Takwa.Film ini  merupakan karya mendiang Gotot Prakosa bersama Eros Djarot. Film yang sarat nilai sejarah ini tercatat sebagai 10 film dokumenter musik terbaik versi majalahRolling Stones Indonesia.

Gotot Prakosa adalah sineas film eksperimental Indonesia berbakat. Karena itu, sebagai bentuk penghormatan atas pencapaian dan karya-karyanya, pekan lalu Kineforum mengadakan pemutaran film program fokus. Ya, film-film eksperimental terbaik Gotot dalam film seluloid seperti Kantata Takwa (2008), Dialog (1975), Meta-Meta (1975), Impuls (1975), Jalur (1977), dan  A=Absolut, Z=Zen (1983).

Jika dicermati, tak banyak representasi film eksperimental di Indonesia. Namun, jenis film ini berhasil terkenal berkat keberagaman yang kaya serta kelenturannya yang tinggi. Menurut kritikus film Marselli Sumarmo, Gotot adalah representasi penting pada genre film eksperimental Indonesia.

Gotot menggagas pendirian Kineforum — dulu Art Sinema — saat menjabat sebagai Komite Film Dewan Kesenian Jakarta 2002-2006. Kala itu ia merasa perlu dibentuk wadah atau media khusus pemutaran film alternatif, selain yang berorientasi sebagai dagangan semata.

Film-film yang diputar di Kineforum adalah beberapa karya-karya lama Gotot hasil kerja sama dengan seniman Indonesia ataupun Eropa.

Lingkup karya-karya Gotot meliputi spektrum yang luas: seni lukis, multimedia, radio, dan surat kabar. Dengan pengalaman yang kaya dan beragam, ia juga menciptakan film animasi hingga film eksperimental.

Kantata Takwa adalah satu dari film-film terakhir yang Gotot selesaikan. Film ini merupakan hasil kolaborasi keduanya dengan Eros Djarot. Dialog, Impuls, Meta-Metaadalah bagian kelompok pertama karya Gotot, berbentuk abstrak yang desain warnanya dibentuk menggunakan film seluloid 16 mm sebagai medium artistik baru. Seni lukis tercemin kuat memengaruhi kelompok film ini.

A=Absolut, Z=Zen adalah film karya Gotot bergenre animasi. Film ini menggunaan teknik kartun klasik dengan sosok dan struktur bergerak. Gotot memadukan foto-foto yang difilmkan yang kemudian di sebagian sekuennya membentuk gerak yang dinamis.

Penanganan eksperimental tampak jelas pada gambar-gambar audiovisual yang digunakan. Bidikan seperti candi, patung Buddha, hewan, samurai diperlihatkan dalam sekuen yang berubah-ubah, tidak terstruktur secara dramaturgis. Ini tergolong animasi eksperimental.

Jalur termasuk kelompok ketiga. Bidikan nyata (real shot) menjadi ciri menonjol film ini. Penggambaran perjalanan mengendarai mobil dari perspektif pengemudi, dikemas melalui gerakan cepat, overexposure, dan gerakan kamera tiba-tiba. Gambar terdistorsi, sehingga mata tak lagi mengenali benda-benda nyata yang difilmkan.

Karier film Gotot dimulai pada 1974. Setelah lulus pendidikan tinggi seni lukis di Yogyakarta, ia melanjutkan studi ke Insitut Kesenian Jakarta, Fakultas Film dan Televisi, hingga 1981.

Dalam membuat film,  Gotot tak hanya menggunakan medium film. Ia juga mencari kaitan antara seni rupa dan film. Seni rupa, terutama seni lukis, adalah pijakan pertamanya sebelum terjun ke film. Seni rupa begitu kuat dan di kemudian hari memengaruhi karya film animasi dan eksperimental Gotot.

Minimnya apresiasi dan partisipasi masyarakat Indonesia tak lantas membuat film eksperimental terbuang. Film jenis ini justru dapat diterima sebagai sub-kategori film oleh para profesional dan merupakan salah satu bentuk kesenian independen, ataupun bagi perkembangan bahasa dan estetika film.[*]

Gotot Prakosa: Kritikus Itu Bukan Sekedar Reporter

Gotot Prakosa adalah praktisi senior film Indonesia. Dari tangannya lahir film yang disebut-sebut sebagai ‘film Indonesia terbaik sepanjang zaman’, judulnya Tjoet Nja Dhien, bikinan tahun 1986. Ia sudah bekerja dengan banyak sekali sosok kunci perfilman nasional, seperti Teguh Karya, Eros Djarot, dan Slamet Rahardjo. Saat ini ia aktif sebagai seniman, ketua ANIMA (Asosiasi Film Animasi Indonesia), board member ASIFA (Asosiasi Film Animasi Internasional) untuk wilayah Asia Tenggara, serta pengajar di Institut Kesenian Jakarta.

Gotot Prakosa bermurah hati meladeni saya untuk mengobrol sebentar di sela-sela acara peringatan 100 tahun Akira Kurosawa di Taman Budaya Yogyakarta. Saat obrolan ini berlangsung, Rashomon versi dubbing tengah diputar di ruang pemutaran, tentu saja dengan penonton kurang dari sepuluh orang, sisanya duduk manis di sebelah meja prasmanan.

Sekarang ini ramai beredar anggapan kalau semua orang itu pada dasarnya kritikus. Mereka bisa bicara tentang film apa saja yang mereka tonton lewat banyak sekali media. Anda setuju?

Tidak apa-apa. Pada dasarnya media itu kan unsur yang demokratis meskipun ia tidak bisa bertindak sendiri, butuh manusia untuk memberdayakan kapabilitasnya. Nah, kalau manusia menggunakan media untuk menjadi kritikus, bagi saya boleh-boleh saja. Karena sebenarnya, orang Indonesia itu tidak punya tradisi menjadi kritikus. Makanya, dipakainya media untuk mengkritik film itu akan positif dalam artian orang akan selalu menuntut lebih baik dari apa yang mereka tonton. Orang Indonesia itu kan tumbuh dengan sinetron, dulu sebelum ada sinetron, ada telenovela yang meskipun impor, tapi tetap tayang dalam bahasa Indonesia (dubbing), sampai-sampai banyak orang menganggap kalau si Talia, bintang televisi Venezuela itu, orang asli Indonesia. Tradisi kritis itu penting, meskipun hanya dengan menulis sendiri. Dulu saya memulai dengan cara seperti itu, meskipun dulu belum ada media, website, blog, dan sebagainya. Saya menulis lalu saya simpan, suatu haru saya kumpulkan dan jadi sebuah buku. Waktu itu status saya bukan ilmuwan, tapi tak apa, semua orang punya hak untuk itu.

Seberapa penting bagi kritikus untuk belajar film secara formal?

Unsur formal dalam mempelajari film itu penting. Sebab tanpa belajar film, anda hanya akan jadi reporter, orang yang melaporkan apa yang ia lihat saja. Saya tidak mengatakan kalau reporter itu tidak penting, reporter itu dibutuhkan. Tapi untuk menjadi seorang kritikus, anda tidak hanya sekedar melaporkan, tapi juga memberi nilai. Untuk memberi nilai, anda harus punya bahan. Untuk punya bahan, anda harus belajar. Unsur formal dalam belajar film itu ya meliputi struktur penulisan dan dasar-dasar penilaian terhadap film itu sendiri. Kalau dulu, orang biasanya mengambil angle sastra, karena pada dasarnya tradisi kritik itu berasal dari seni sastra.

Sejauh mana sebaiknya seorang kritikus mengenal kesenian yang lain, atau paradigma sosial tertentu sebagai bekal untuk menilai film?

Itu tergantung pada dasar orang itu. Ada yang orang mendekati film dengan bekal pengetahuan sosial, misalnya (Siegfried) Kracauer dan (André) Bazin. Mereka memahami masalah sosial, lalu melihat film dan mempertanyakan, apakah masalah sosial yang ada tercermin dalam film tersebut? Bisa juga dari sudut pandang lain, misalnya dari hubungan dengan kesenian yang lain, atau bahkan silat!

Silat?

Iya, misalnya seorang ahli silat mengkritisi film silat, jurusnya salah atau gerakannya kurang. Itu kan juga bisa jadi unsur kritik tersendiri, ahli silat merangkap kritikus film (tertawa). Proses kritik kan bisa terjadi karena seseorang punya bahan.

Etiskah seorang kritikus yang setiap hari pindah-pindah angle? Misalnya hari ini menilai film secara ideologis, besok secara fotografis, besoknya lagi secara silat, dan seterusnya?

Menurut saya itu tidak ada larangannya.

Secara akademis?

Oh, bukan. Maksud saya tidak ada larangannya selama itu kritik yang dilancarkan secara populis. Tapi kalau secara kajian akan lain lagi ceritanya. Kalau misalnya seorang David Bordwell pindah-pindah angle, ya dimarahin dia sama penggemarnya. Jangankan David Bordwell, orang seperti saya saja kalau menulis film seenaknya, pasti banyak yang akan marah. Orang mengenal saya lewat tulisan-tulisan film dan kaitannya dengan seni rupa, kalau tiba-tiba saya beralih menulis film hiburan saja, orang pasti bertanya-tanya. Sama dengan kalau saya bikin film, orang sudah memahami saya sebagai pembuat film yang nyentrik, rela menghabiskan waktu delapan belas sampai dua puluh tahun untuk bikin satu film. Kalau tiba-tiba saya terjun ke dunia sinetron, seluruh dunia akan mencaci “Ngapain lu?”’.

Kalau di Institut Kesenian Jakarta, jurusan Kajian Film mengarahkan alumninya kemana? Apakah kritikus? Aktivis festival? Perusahaan film?

Kajian Film di IKJ berkonsentrasi pada studi manajemen film, apa yang harus dilakukan ketika sebuah film sudah jadi. Di-festival-kan, diparkir di sinematek, dibuatkan buku, yang jadi kritikus juga ada. Kalau mau jadi kritikus, mahasiswa harus menulis delapan artikel film yang terpublikasikan ke khalayak lewat media-media yang sudah kami beri standar sendiri.

Untuk kritik film di Indonesia, menurut anda apakah sudah bagus, atau belum bagus, atau tidak ada bagus-bagusnya sama sekali?

Jujur, saya belum menemukan kritikus Indonesia yang levelnya outstanding, meskipun ada beberapa yang sangat baik yang biasanya berasal dari generasi sebelumnya, seperti Pak JB (Kristanto) dan Pak Dan (Suwaryono). Kalau seni rupa punya Pak Saneto Yuliman. Film punya Pak Dan Suwaryono, mereka itu ada di kelas yang sama.

Kalau generasi sekarang? Setidaknya kalau kita menjadikan keberimbangan kritik dengan industri sebagai parameter?

Bagi saya belum ada yang begitu mendalam. Disisi lain, saya menilai Eric (Sasono) sudah cukup sebagai kritikus, dia popular dikalangan anak-anak muda. Kalau pak JB (Kristanto), intensitasnya sangat luar biasa. Tak ada yang mengalahkan Pak JB dalam hal intensitas, dia mengumpulkan data yang lengkap sekali dari dulu sampai sekarang. Katalog Film Indonesia yang ia susun seringkali menjadi acuan, karena itu satu-satunya.

Di era klasik, apakah Indonesia pernah punya kritikus film yang keren banget?

Saya akan menjawab ‘Armijn Pane’ untuk pertanyaan itu, dia biasa menulis tentang film-film Usmar (Ismail) dan angkatan yang segenerasi, biasanya terbit di majalah-majalah kebudayaan. Tulisannya baik sekali. Untuk seni secara umum, ada Pak Sudjojono yang corak tulisannya sangat politis. Sudjojono mengkritik keras karya-karya sineas seperti Usmar, Djajakusuma dan Sjuman Djaya, sebab ia menilai sineas-sineas ini antek komunis karena belajar film di VGIK (sekolah film legendaris di Uni Soviet -red). Padahal sebenarnya tidak juga, saya mengenal Sjuman sebagai orang yang sangat borju, kawin cerai kawin cerai begitu kok. Tidak penting PKI atau bukan, dia seorang humanis. Tapi ada juga filmmaker yang bereaksi keras terhadap kritik. Saya, Eros (Djarot), dan Slamet (Rahardjo) pernah harus menengahi sebuah masalah karena seorang kritikus dan pembuat film mau bunuh-bunuhan saking tingginya tensi. Bagi saya, kalau tidak suka dengan sebuah kritik, silakan dilawan dengan tulisan yang lain.

Kritik film kita itu sifatnya lebih banyak yang bagaimana? Yang ilmiah atau yang reportase?

Lebih banyak yang reportase. Dari tahun tujuh puluhan sampai sekarang, warna kritik kita lebih ke reportase. Orang yang menulis reportase film biasanya sudah berani melabeli diri sebagai kritikus. Di Kompas sendiri (maaf sebut merek -red), belum pernah ada kritikus yang bagus. Mereka hanya sekedar menulis reportase.

Anda orang kesekian yang berkata begitu

Ayo coba sebutkan siapa kalau ada?

Hmm, siapa ya?

Dulu saya pernah marah sekali karena ada tulisan tentang film, An American in Paris kalau tidak salah. Dituliskan bahwa film itu dimulai dengan bunyi gong, lalu kemudian ditafsirkan kesana kemari. Padahal itu kan cuma backsound yang mengiringi logo perusahaan pas film mau mulai. Saya marahnya minta ampun waktu itu, artinya kan, siapapun yang menulis tulisan itu, dia tidak mengerti apa yang dia tulis. Itu kan karena orang itu spirit-nya reportase. Apa yang dia lihat, dia tulis. Jangan-jangan karena ada garis guratan disepanjang film, dia tafsirkan juga guratan itu, padahal itu kan karena umurnya memang sudah tua (tertawa). Jadinya nggak banget aja, begitu. Harusnya pengetahuan kritikus film dan pembuat film itu sama levelnya, sehingga tidak jomplang.

Kritikus film juga harus mengerti proses produksi?

Sebaiknya ia paham. Disitulah pentingnya sekolah-sekolah film di Indonesia, agar supaya kita bisa punya pembuat film yang mengerti kritik film. Karena kalau tidak, kritik dan produksi akan berjalan sendiri-sendiri, tidak saling menggubris. Film Indonesia tidak maju-maju.

Di Indonesia, kita sudah mulai mengendus adanya tendensi menonton kritis, anda setuju? Bagaimana sebaiknya kita menyikapinya?

Ya dan itu sangat baik. Khususnya di Jogja sendiri, pusat dan event kebudayaan begitu banyak, setiap tahun ada festival film berskala internasional. Di Jakarta juga begitu. Nah, ada yang menarik, dulu teman saya Wolfgang Becker (sutradara fim Jerman) datang memutarkan filmnya di Taman Ismail Marzuki, judulnya Goodbye, Lenin! Applaus-nya banyak. Setelah pemutaran, dia keluar jalan-jalan di sekitar TIM, masuk ke warung, tiba-tiba dia menemukan bajakan Goodbye, Lenin! dijual disitu, jadilah dia marah besar. Itu kan tidak etis. Sekitar dua atau tiga tahun lalu, almarhumah Yasmin Ahmad (sutradara film Malaysia) datang ke Jogja, dia plesiran ke jalan Mataram, ketemu bajakan filmnya sendiri. Sontak dia menangis, saya sampai kerepotan menghiburnya. Nah itu kan memalukan buat kita. Tantangan dari menonton film secara kritis di Indonesia lagi-lagi adalah maraknya bajakan, perihal etika. Seorang teman pernah bilang “Motto kota Jogja itu, fotokopian lebih afdhol daripada buku asli”. Ini kan semakin menasbihkan bahwa Jogja secara khusus, Indonesia secara umum, adalah pusat bajakan.

Tapi kan kita punya kepelikan juga, bagaimana memenuhi rasa ingin tahu yang begitu besar sementara sumber daya begitu kecil.

Nah itu dia. Saya rasa kita perlu belajar dari Jepang di era Restorasi Meiji. Waktu itu, orang Jepang membajak apa saja yang bisa mereka temukan dalam rangka mempelajari. Tapi mereka punya batasan waktu. Begitu mereka menguasai apa yang ingin mereka kuasai, semua keran pembajakan harus ditutup sebab telah tiba waktunya memakai yang asli. Nah, bolehlah kita menganalogikan Indonesia dengan Restorasi Meiji, kita tengah belajar banyak sekali hal. Cuma masalahnya saya tidak tahun sampai kapan. Tapi sebaiknya, ketika nanti kita menguasainya, bajakan itu ditiadakan.

geotimes.co.id
filmindonesia.or.id
cinemapoetica.com Baca Selengkapnya..

JUXTAPOZ 145 Februari 2016



Juxtapoz, Majalah seni yang sudah mendunia ini mendapat perhatian banyak dari para kreator, seniman, pengamat seni, kurator, dll. Kiprahnya dalam jurnalistik dan fokusnya pada seni serta bungkus nikmat tata letak majalah juxtapoz ini banyak menjadi acuan atau indikator seni kontemporer.


Majalah ini saya kira perlu untuk disebarluaskan untuk kepentingan ilmu pengetahuan tentu saja, jika ada dari para pembaca yang pernah atau sudi menerjemahkan dan menyebarkan saya kira itu akan amat berguna dan tentusaja sangat menarik. Jika ada kesalahan di link tolong beri komentar agar segera bisa diperbaiki. Terimakasih


LINK DOWNLOAD
Baca Selengkapnya..

Sunday, September 11, 2016

Quentin Tarantino


Quentin Tarantino lahir di Knoxville, Tennessee, anak dari Connie McHugh Tarantino Zastoupil, seorang eksekutif produk kesehatan dan perawat yang lahir di Knoxville, dan Tony Tarantino, seorang aktor dan musisi amatir yang lahir di Queens, New York. Ayah Tarantino blasteran Italia dan Amerika, ibunya adalah seorang Irlandia dan juga keturunan dari suku Cherokee. Tarantino dibesarkan ibunya, karena orang tuanya bercerai sebelum ia lahir.
Baca Selengkapnya..

5 Majalah Indie buatan Anak Indonesia


Majalah mempunyai peran penting dalam tatanan masyarakat modern saat ini, Menjadi alternatif hiburan membaca jika kita perlu rehat setelah membaca buku teori atau fiksi yang cukup tebal. Majalah bisa menjadi pedang bermata dua bagi kelompok tertentu untuk menyebarkan propaganda, Namun baik dan buruk adalah sebuah perspektif. Majalah indie yang kebanyakan ber-embrio dari sebuah hobi dan bercampur dengan sebuah kegelisahan mempunyai tempat di perhatian masyarakat di abad 20 ini. Era digital membuat distribusi informasi semakin mudah dan deras, kita sebagai manusia terpelajar harus pintar memilah informasi yang kita butuhkan dan menyeimbangkannya tak hanya dari satu sumber saja, dan ini adalah beberapa majalah bercitarasa indie yang merangkum berbagai informasi untuk disajikan kepada kita semua. bisa jadi sangat subjektif ataupun cukup objektif.

Baca Selengkapnya..

Friday, September 9, 2016

Istilah - Apropriasi


Sebagai sebuah istilah dalam sejarah seni dan kritik yang merujuk pada lebih atau kurangnya ambil alih langsung kedalam suatu karya seni dari obyek sesungguhnya atau kejadian keberadaan suatu karya seni. Praktek seni ini dapat dijejaki kembali sampai pada jaman kolase Kubisme dan karya Picasso dan Georges Braques yang dibuat sejak tahun 1912,yang didalamnya obyek-obyek nyata seperti suratkabar-suratkabar dimasukkan untuk mewakili diri mereka. Apropriasi telah dikembangkan lebih jauh didalam bentuk siap-buat yang diciptakan oleh seniman asal Perancis, Marcel Duchamp, tahun 1915. Karya yang paling terkenal daripada karya-karya itu adalah Fountain, alat pembuangan air seni pria,bertandatangan,diberi judul dan dipresentasikan pada sebuah meja penyangga.
Baca Selengkapnya..

Wednesday, January 27, 2016

Seri Biografi Seniman : Vincent Van Gogh

Vincent van Gogh - Self Portrait, 1887
This world was never meant for one as beautiful as you.


Vincent Willem van Gogh (ucapan Belanda[vɪnˈsɛnt vɑnˈxɔx] ) (30 Maret 1853 – 29 Juli 1890) adalah pelukis pasca-impresionis Belanda. Lukisan-lukisan dan gambar-gambarnya termasuk karya seni yang terbaik, paling terkenal, dan paling mahal di dunia. Van Gogh dianggap sebagai salah satu pelukis terbesar dalam sejarah seni Eropa.
Baca Selengkapnya..

Monday, November 9, 2015

Berawal dari Blog, Lalu Menjadi Buku


Apa ya rasanya dibayar untuk berkhayal? Mungkin kamu bisa bertanya kepada Maira Kalman. Ilustrator, penulis buku, seniman, dan desainer kelahiran tahun 1949 ini meniti karir dengan cara sering-sering berkhayal. Banyak orang yang jatuh cinta dengan karya Kalman, bukan karena tekniknya yang spektakuler sampai nggak bisa ditiru, tapi karena ia bisa membuat sesuatu yang membosankan menjadi sangat imajinatif dan menyenangkan.
Baca Selengkapnya..

Tuesday, January 28, 2014

CEO Razer kepada pelajar: membuang waktu dan mendapat nilai jelek itu tidak apa-apa



Tan Min-Liang, CEO kelahiran Singapura dan creative director di perusahaan perangkat game Razer, tampak seperti Steve Jobs “mini”.

Selain menggunakan baju hitam, celana jeans biru dan sepatu kets yang khas dari Steve Jobs, Tan juga memiliki obsesi yang sama: desain produk dan gadget premium berkualitas tinggi.

Dulunya mahasiswa hukum di National University of Singapore, Tan berubah dari seorang pengacara menjadi kepala perusahaan yang bermarkas di California dan mempekerjakan 500 orang di 10 kota. Ketika orang-orang startup berkumpul dan bertanya mengenai entrepreneur hebat, namanya sering disebut.

Tan punya kharisma panggung yang kuat, dan itu sangat terlihat ketika ia berbicara dengan suara baritonnya di depan sejumlah pelajar National University of Singapore (NUS) bulan Agustus lalu. Berikut adalah beberapa hal yang ia bagikan.



1. Membuang waktu itu tidak apa-apa
Hobi bermain game tidak selalu dipandang positif. Tan selalu menerima komentar bahwa bermain game komputer adalah sesuatu yang buruk dan merupakan aktivitas yang tidak akan menghasilkan apa-apa. Ternyata hobinya malah menjadi aset paling berharga yang ia miliki. Ia mengatakan:

Tiap saya membuang waktu, saya belajar sesuatu, melakukan sesuatu yang sangat konstruktif untuk masa depan.
2. Mendapat nilai jelek itu tidak apa-apa
Tan mengamati bahwa orang-orang bisa terlalu memperhatikan hasil dan ukuran angka. Di sekolah, pelajar diharuskan lulus ujian, dan kegagalan akan menghancurkan hidup mereka.

Tapi dalam sudut pandang yang lebih luas, tidak ada yang peduli, terutama ketika Anda mendapat nilai jelek di pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang Anda inginkan.

Tan membawa sikap ini ke Razer, dimana mereka sering merancang produk yang gila meskipun berpeluang gagal. Perusahaan ini masuk ke bisnis laptop karena Tan tidak bisa mendapatkan laptop game yang bagus untuk dirinya sendiri.

Secara bisnis, keputusan itu tidak masuk akal, dan mereka kehilangan banyak uang tiap kali menjual laptop game tersebut.

Kondisinya mencapai titik dimana jika ini gagal, maka perusahaan ini akan bangkrut. Tapi kami terus maju karena ini menyenangkan.
Setelah terus maju dan memperbaiki diri, Laptop Razer menjadi lebih baik, dan versi terbarunya menuai respon positif.

3. Jangan bekerja terlalu keras
“Saya adalah salah satu orang termalas dimanapun saya berada,” katanya. Di NUS, ia bermalas-malasan pada pelajaran yang tidak ia minati. Ia menyadari bahwa jika Anda kesulitan untuk bekerja keras, berarti Anda antara tidak menyukai pekerjaan itu, atau Anda memang tidak begitu mampu melakukannya.

Tan suka menghabiskan waktunya mendesain produk, mencari warna, angle, dan akurasi yang sempurna dari kreasinya. Ia menganggap itu sebagai bersenang-senang, bukan pekerjaan.

Meskipun CEO harus memelihara berbagai aspek perusahaan yang tidak disukainya, dari posisi yang sama ia juga bisa merekrut orang untuk melakukan hal yang tidak diminatinya.

Tan memastikan bahwa perusahaannya merekrut tiap orang di posisi dan peran yang pantas. Tidak semua orang terlahir sebagai founder atau manager; mungkin ada beberapa teknisi yang memang ingin berfokus pada peran yang teknis, dan Razer mencoba memfasilitasi itu.

Beberapa teknisi atau pengacara berbakat bisa bekerja dengan baik di laboratorium bawah tanah. Mereka juga sangat cerdas.

id.techinasia.com

Baca Selengkapnya..

STARTUP ITU APA SIH?



Mendefinisikan start-up sering kali menjadi hal yang sangat sulit. “Lha gimana mau bisa mendefinisikan wong artinya aja masih ga ngerti.” Kira-kira begitulah ucapan sebagian besar pemuda-pemudi Jogja yang sempat saya tanyai beberapa hari ini. Rupanya, istilah ini belum cukup populer dikalangan pemuda-pemudi Jogja.

Menurut Andin Rahmana (@andinrahmana), seorang pemuda yang sedang berkuliah di Jogja dan mengaku sebagai tenaga kerja digital, Startup adalah perusahaan baru yang biasanya bergerak di bidang teknologi informasi dan menggunakan media internet sebagai platform nya. Perusahaan ini menghasilkan produk-produk digital (seperti aplikasi web atau layanan melalui website) dan biasanya isu produknya berhubungan dengan permasalahan sehari-hari. Karena spesifikasi teknologi informasi ini lah kemudian istilah bisnis start-up sering di identikan dengan pekerjaan bagi tech savvy. Padahal, untuk membuat sebuah bisnis start-up seseorang tidak harus memiliki background sebagai tech savvy asalkan memiliki ide yang out of the box. Sebagai ilustrasi, ide merupakan bahan pokok bagi sebuah bisnis startup, namun bahan pokok tersebut tidak akan menjadi bisnis startup apabila tidak diolah sedemikian rupa dan dimasak hingga matang, dari sini dibutuhkan tenaga ahli seperti tech savvy.





Pada dasarnya, membuat startup merupakan hal yang mudah bagi mahasiswa. Kenapa? Selain masih memiliki kreativitas, semangat, dan idealisme, mahasiswa juga masih memiliki kebebasan dan tidak memiliki tuntutan untuk mendapatkan uang dengan cepat. Mahasiswa masih memiliki umur yang panjang, sehingga apabila bisnis tersebut mengalami kegagalan mahasiswa masih memiliki semangat untuk belajar dan mencoba lagi hingga berhasil. Selain itu, mahasiswa masih bebas meng-explore dunia ini, apabila kita mulai mengelola bisnis start-up dari sekarang, 2 – 3 tahun kemudian, umur kita sudah matang untuk mengolahnya lebih serius.

Yang perlu dilakukan untuk memulai bisnis startup adalah ciptakan ide-ide brilian kalian, realisasikan, dan bekerjasamalah dengan teman-temanmu untuk menciptakan bisnis tersebut. Hal yang penting juga, jangan lupa untuk memanfaatkan kemudahaan teknologi di era ini dan jangan takut untuk gagal seperti kata Steve Jobs, “Let’s go invent tomorrow, rather than worrying about what happened yesterday” jadi jangan takut gagal dan mencoba lagi. Tertarik untuk berbisnis startup?

APA JENIS STARTUPMU?


Konsumen digital di Indonesia yang makin luas juga membuat banyaknya muncul start up-start up baru di Indonesia. Start up makin lama juga makin beragam dan menjangkau hampir semua aspek kehidupan dan semua kalangan.



Bagi ibu-ibu yang suka belanja barang-barang kebutuhan rumah, ada start up jenis Daily deals and Group commerce yang siap memudahkan belanja. Contohnya adalah melalui LivingSocial dan Groupon. Bagi anak muda yang sangat suka bermain game di handphone, Rovio dan Zynga menjadi start up jenis Mobile gaming yang memfasilitasi kesukaan anak muda itu. Serta masih ada banyak jenis start up lain yang sudah ada dan masih bisa dikembangkan.

Daftar jenis-jenis start up yang bisa dikembangkan di Indonesia:
1. Photo Sharing: Instagram, Piictu, Pinterest, Sicerely.
2. Social Commerce: Storenvy, Goodsie, Magento.go.
3. Micro hiring: Zaarlu, Fiverr, Craigslist, TaskRabbit.
4. Mobile payments: Google Wallet, Giftly, Square, Intuit, Mobile Card.
5. Education, Teaching, Blackboard killers: Skillshare, TutorSpree, Hoot.me, Coursekit, Coursehorse.
6. Music Sharing: Spotify, Rdio, MOG, Turntable.fm.
7. Last minute bookings: Hotel Tonight, Lifebooker, Savored, ZocDoc.
8. Monthly deliveries: GuyHaus, ManPacsk,m FreshDirect, ShoeDazzle.
9. Video job interviews: Ovia, Skype, Google Hangouts.
10. Making technical things easy for non-techies: Onswipe, Goodsie, Flotype, Onepager.
11. Social eReading experiences: Copia, AppAddictive, BookTracks.
12. Renting everything: GetArround, Airbnb, Liquid Space.
13. Mobile gaming: Rovio, Zynga, Lima Sky.
14. Daily deals and Group commerce: LivingSocial, Groupon, SignPost, Group Commerce.
15. Online dating: JDate, Match, OkCupid.
16. Social travel and events: Soonar, Nextstop, SpotOn.
17. Social news recommendation: Meebo, Twitter, Shelby.
18. Flash Sales: HauteLook, Ideeli, Gilt Groupe.
19. Social Networks for groups: Path, Facebook Page, Kohort.
20. Check-ins: Foursquare, MyTown, Gowala.

Tertarik untuk membangun sebuah start up? Apa jenis start up mu?

MELIHAT LAGI PERKEMBANGAN STARTUP DI INDONESIA

Perkembangan startup di Indonesia saat ini sangat pesat dan dinamis. Ide yang dihadirkan juga sangat beragam, kreatif, dan berkualitas. Hal ini dikarenakan informasi dan aktivitas terkait dengan pengembangan startup makin banyak dan mudah diakses.

Menurut Andi S. Boediman, direktur Ideosource, ada dua gelombang startup di Indonesia yang cukup menggembirakan. Gelombang pertama, orang-orang yang tadinya bekerja sebagai profesional di perusahaan besar yang kemudian tidak segan-segan masuk ke dunia startup. Gelombang kedua adalah orang-orang Indonesia yang tadinya bekerja di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk membangun startup. “Mereka kembali di Indonesia untuk membangun model kewirausahaannya sendiri. Dua gelombang inilah yang menjadi tanda positif dari startup Indonesia,” kata Andi.



Di Indonesia, ada banyak startup yang founder-nya pernah bekerja di perusahaan Silicon Valley (Amerika Serikat). Salah satunya adalah Bornevia, sebuah startup helpdesk berbasis web yang membantu perusahaan menghadapi kesulitan dalam menangani customer support secara online.

Tim Bornevia menjelaskan bahwa situs ini adalah “sebuah CRM customer support dengan direktori kontak yang terintegrasi dan sistem manajemen tiket.“ Dengan Bornevia, pengguna bisa mengintegrasikan media sosial mereka dengan akun email dan menangani interaksi dengan pelanggan mereka di sana. Dua orang yang berada di balik startup ini adalah Benny Tjia dan Tjiu Suryanto. Benny pernah kuliah di University of Michigan dan Stanford, kemudian bekerja di Yammer sebagai teknisi software, dan kemudian bekerja di Astra Internasional di Jakarta.

Beberapa pengguna beta Bornevia berasal dari Indonesia, India, Afrika Selatan, Kanada, dan Amerika Serikat. Saat ini Bornevia bisa digunakan secara gratis dengan fitur yang terbatas. Tapi mereka akan segera membuka versi unlimited dengan harga USD 12 (Rp 140.000) untuk tiap pengguna per bulan.



Startup Indonesia yang tidak kalah hebatnya adalah PicMix. Sebagai salah satu jejaring sosial di Indonesia, PicMix sudah memiliki 15 juta pengguna di seluruh dunia dan 225 juta foto di-upload di platform-nya. Padahal startup ini baru berusia dua tahun.

Pada tahun 2013, PicMix memiliki 15,5 juta pengguna terdaftar, 900.000 pengguna aktif per hari, dan 48 persen pengguna aktif per bulan. 35 persen pengguna mereka berasal dari Indonesia, dan menariknya diikuti oleh Afrika Selatan dan Venezuela di peringkat kedua dan ketiga. Dulu startup ini juga menerima dana sebesar USD 7 juta dari Erajaya, yang merupakan salah satu distributor handphone terbesar di Indonesia. Kerja sama itu juga membantu perkembangan PicMix, karena Erajaya meng-install PicMix di semua handphone mereka sebelum dijual.

Melihat paparan di atas, rupanya perkembangan bisnis startup di Indonesia sangat pesat dan menjanjikan ya. Sekali lagi nih, tertarik terjun ke dalam bisnis startup?


Baca Selengkapnya..

Monday, August 5, 2013

Printer 3D yang Bisa Merubah Pola Produk Industri Dunia


Printer 3D Wujudkan Imajinasi manusia. Kebutuhan mencetak tak lagi sekadar di atas kertas. Kemajuan teknologi dapat mewujudkan apa yang ada di imajinasi anda ke dalam bentuk yang lebih nyata dan dapat dirasakan melalui sentuhan. Nah, tantangan itu coba dijawab dengan kehadiran printer 3D. Printer 3D adalah proses pembuatan benda padat tiga dimensi dari sebuah desain secara digital menjadi bentuk 3D yang tidak hanya dapat dilihat tapi juga dipegang dan memiliki volume. Printer 3D dicapai dengan menggunakan proses aditif, dimana sebuah obyek dibuat dengan meletakkan lapisan yang berurut dari bahan. Pencetakan 3D merupakan proses yang berbeda dari teknik mesin tradisional (proses subtraktif) yang sebagian besar bergantung pada penghapusan materi oleh pengeboran, pemotongan dan lain–lain.



Printer 3D, Teknologi Paling Menakutkan Dunia
Selasa, 23/07/2013 13:19 WIB

Teknologi printer bukan hanya bisa mencetak tulisan atau gambar di atas kertas. Namun juga dalam bentuk barang melalui printer 3D. Printer 3D pada dasarnya adalah mesin yang mampu membuat obyek solid 3 dimensi dalam berbagai bentuk yang berasal dari model digital. Kini, harga Printer 3D semakin murah dan semakin banyak perusahaan yang membuatnya. Yang menakutkan adalah, printer seperti ini berpotensi digunakan untuk membuat senjata oleh orang biasa.

Dalam berbagai video online, ditunjukkan bagaimana membuat senjata api yang bisa bekerja cukup berbekal printer 3D. Jika dibuat oleh orang yang salah, bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
http://inet.detik..com/read/2013/07/...tkani991101105

5 Barang Menakjubkan yang Bisa Dibuat Printer 3D
Sabtu, 25 Mei 2013, 08:25 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mesin cetak tiga dimensi (3D) sepertinya tak memiliki batas. Dari mengganti komponen yang hilang, mengurangi penggunaan bahan bakar, hingga memastikan Anda tidak memegang iPhone dengan tangan. Berikut beberapa hal menakjubkan yang dapat dibuat oleh printer 3D seperti dikutip Global Post, Sabtu (25/5).

Sepatu


Orang mungkin akan bertanya atau juga tidak, bagaimana Anda mendapatkan sepatu berwarna kuning ini. Tapi, jika memang ada yang bertanya, Anda bisa beri tahu mereka, kalau sepatu itu berasal dari Amsterdam, Belanda. Yaitu buatan desainer Alan Nguyen dari freedom of Creation.

Mobil



Jim Kor dari Winnipeg, Manitoba mengembangkan mobil hemat bahan bakar dari komponen yang dicetak menggunakan mesin cetak 3D. Dikatakan, "Dua orang, berikut dengan seekor anjing, bisa muat di mobil bernama Urbee ini."


Bagian Tubuh Manusia




Di 2012, LayerWise di Belgia menggunakan mesin cetak 3D untuk membuat pengganti rahang bawang dari bahan titanium untuk perempuan Belanda berusia 83 tahun. Sejak itu, mesin cetak 3D digunakan untuk membuat bagian tubuh internal dan eksternal buatan. 

Makanan



NASA memberikan 125 ribu dolas AS kepada peneliti Anjan Contractor dari System Materials Research Corporation untuk mengembangkan mesin cetak makanan 3D. Makanan itu digunakan untuk konsumsi astronot dan mengatasi kelaparan dunia.

Pistol



Sebuah perusahaan bernama Defense Distributed membuat cetak biru pistol yang dicetak dengan printer 3D. Cetak itu pun bahkan diunggah ke internet sehingga bisa diambil oleh siapa pun melalui Pirate Bay.
http://www.republika.co.id/berita/tr...uat-printer-3d


Berhasil dibuat pistol dengan printer 3D
Terbaru 6 Mei 2013 - 21:54 WIB



Pistol dibuat dengan menggunakan mesin cetak 3D seharga US$8.000.

Pistol pertama di dunia yang dibuat dengan teknologi 3D berhasil ditembakkan di Amerika Serikat. Kelompok kontroversial yang menciptakan senjata api ini, Defense Distributed, berencana mempublikasikan cetak biru senjata di internet. Pembuatan senjata api ini memakan waktu satu tahun dan saat dilakukan uji coba di Austin, Texas, hasilnya tidak mengecewakan.

Teknologi ini bekerja dengan menumpuk berlapis-lapis materi, biasanya plastik, untuk membangun sebuah objek padat yang kompleks. Idenya adalah dengan semakin murahnya harga printer, maka konsumen dapat dengan mudah mengunduh desain dan mencetak benda-benda yang mereka inginkan di rumah, dari pada berbelanja ke toko. Pistol ini dibuat dari mesin cetak 3D seharga US$8.000 (Rp77 juta) yang dibeli di situs lelang eBay.
http://www.bbc.co.uk/indonesia/majal...adimensi.shtml

Keren, Orang Indonesia Bikin "Printer" 3D
Senin, 8 Juli 2013 | 17.16 WIB



JAKARTA, KOMPAS.com — Berawal dari kegemarannya pada dunia desain grafis, Johanes Djauhari kini merakit mesin pencetak (printer) 3D. Dengan memanfaatkan teknologi open source, printer 3D yang dirakit Johanes dapat mencetak dokumen digital menjadi benda tiga dimensi. Johanes bekerja sebagai desainer produk. Beberapa klien yang hendak membuat produk kadang tak puas jika hanya melihat desain tersebut dalam bentuk dokumen digital. Mereka ingin bentuk fisik meski berukuran kecil. "Nah, dari situlah, kenapa tidak saya buat printer 3D sendiri," katanya saat ditemui KompasTekno di acara Popcon Asia 2013 di Jakarta Convention Center, awal Juli lalu. Johanes juga gemar pada mainan (toys). Banyak rekannya yang mendesain karakter toys dan hendak merealisasikan idenya menjadi bentuk nyata. Beberapa dari mereka memakai jasa Johanes untuk cetak 3D.


Johanes mencetak 3D karakter superhero Hebring versi hitam karya Main Studios asal Jakarta

3D printing merupakan proses cetak berlapis untuk membentuk benda padat dengan perspektif 3D yang dapat dipegang dan memiliki volume. Materi yang digunakan adalah plastik, bisa jenis acrylonitrile butadiene styrene (ABS) maupun polylactic acid (PLA). "Kalau saya suka pakai PLA. Dia terbuat dari biji jagung dan bisa terurai. Kalau ABS adalah materi yang dipakai mainan lego, yang terbilang lama terurainya," ujar Johanes.

Proses pencetakan memang terbilang lama. Butuh waktu dua jam untuk mencetak benda 3D dengan dimensi tinggi 10 cm, panjang 5cm, dan lebar 5 cm. Sebenarnya, proses cetak itu bisa dipercepat. Namun, ada beberapa konsekuensi yang harus diterima, di mana bagian dalam obyek menjadi tidak padat alias kopong. Benda yang dicetak dari printer 3D sejauh ini hanya bisa dihasilkan dalam satu warna. "Jika ingin berwarna, kita harus memberi cat secara manual. Materi plastiknya tidak akan rusak jika kena cat," klaim Johanes.


Karakter Minion dalam film animasi Despicable Me dicetak dengan warna kuning dan dibubuhi cat agar karakter tersebut mirip seperti aslinya.

Keseriusan Johanes merakit printer 3D dimulai pada 2011. Ia mendirikan Bikin Bikin 3D Print dan aktif ikut pameran untuk memperkenalkan teknologi ini. Kala itu, desain luar printer buatannya masih berupa kerangka. Setelah melewati beberapa kali pengembangan, kini printer 3D-nya semakin akurat dan didesain menggunakan casing. "Akurasinya sampai 0,2 mm," tutur Johanes.

Akurasi itu dibuktikan dengan mencetak replika arca yang penuh detail dan lekukan. Johanes terlebih dahulu memindai seluruh bagian arca asli yang tersimpan di Museum Nasional. Setelah mendapat file pindainya, mulailah Johanes mendesain 3D lalu mencetak dengan printer buatannya sendiri.


Hasil cetak 3D replika arca yang tersimpan di Museum Nasional

Memanfaatkan "open source"
Dalam mengembangkan printer 3D, Johanes memanfaatkan teknologi open source untuk driver dan software. Ia ikut dalam forum internet yang khusus membahas teknologi printer 3D. "Di forum ini, kita bisa tahu kalau ada algoritma yang lebih baik dan memberi struktur lebih mudah. Bukan cuma soal teknis, dari sana juga kita tahu soal materi yang mudah dicari dan lebih terjangkau," jelasnya.

Untuk mendesain bentuk 3D, Johanes menggunakan software Pronter Face dan Repetier. Komputer yang dipakainya terhubung ke motherboard printer melalui kabel USB. Motherboard inilah yang memerintahkan gerakan koordinat X, Y, dan Z, menerjemahkan dokumen digital menjadi obyek nyata 3D.Printer 3D yang dibuat Johanes masuk dalam tahap pengembangan akhir. Ia membuka pre-order dengan harga Rp 10 juta. Setelah masa pre-order berakhir pada September 2013, printer 3D bakal dibanderol Rp 12 juta. 
http://tekno.kompas.com/read/2013/07...kin.Printer.3D

Dengan Printer 3D, Imajinasi Tersalurkan ...




 .

Sumber

Tags :
Baca Selengkapnya..

Wednesday, May 15, 2013

GUNDALA PUTERA PETIR: BERLARI 40 TAHUN SECEPAT TOPAN




oleh Surjorimba Suroto. Dipublikasikan di harian Koran Tempo, suplemen Ruang Baca, 22 Februari 2009


Banana Publishing, yang sebelumnya pernah menerbitkan novel grafis Ekspedisi Kapal Borobudur: Jalur Kayu Manis (2007), kembali dengan produk terbarunya. Eendaagsche Exprestreinen membawa misi serupa dengan pendahulunya, mengenalkan sedikit sejarah bangsa Indonesia dalam format gambar dan cerita fiksi. Fokus utamanya adalah perkeretaapian Indonesia awal abad 20, pada masa Hindia Belanda.

Berukuran standar komik Eropa yang besar dan penuh warna, pembaca seakan diajak kembali ke masa kejayaan salah satu kiblat penting dunia komik abad ke-20. Pewarnaan yang lembut namun mudah dibedakan, jumlah halaman yang juga mengikuti lazimnya komik Eropa, hingga gaya ilustrasi yang sepintas sudah bisa ditebak sangat terinspirasi begawan komik asal Belgia, Herge. Pembaca mungkin masih ingat dengan novel grafis sejenis, Rampokan Jawa (Peter van Dongen, 2005), yang mengambil masa transisi kemerdekaan Indonesia. Bolehlah Eendaagsche Exprestreinen disandingkan dengan Rampokan Jawa dalam satu genre novel grafis.

Penulis utama dibalik Eendaagsche Exprestreinen adalah Risdianto. Dengan skripsinya yang berjudul Kereta Api Surabaya – Pasuruan – Malang 1875-1900, Risdianto lulus di jurusan Sejarah, Universitas Indonesia. ”Skripsi ini bercerita mengenai pembangunan jalur kereta api Surabaya – Pasuruan – Malang tahun 1875 – 1900,” katanya. Dia menjelaskan jalur kereta api ini adalah yang kedua di pulau Jawa setelah jalur Semarang – Vorstenlanden (Yogyakarta dan Surakarta). Yang membangun jalur itu perusahaan pemerintah Hindia Belanda, Staatssporwegen. Dalam skripsi ini saya menggambarkan dampak sosial dan ekonomi pada jalur kereta Surabaya – Pasuruan – Malang,” katanya.

Tetapi tema perkeretaapian tidak digunakan sebagai sentral cerita dalam Eendaagsche Exprestreinen. Novel grafis ini menampilkan kisah fiksi detektif yang mengambil tempat di dalam kereta api jurusan Jakarta-Surabaya. Dalam penulisan naskah, Risdianto dibantu oleh Yusi Pareanom.

Walau pada ilustrasi sampul depan tidak mudah ditebak bahwa novel grafis ini berkisah tentang kereta api, halaman pertama sudah memberikan petunjuk jelas. Jadwal perjalanan kereta api, stasiun Beos (kini stasiun Jakarta Kota), dan kedatangan sebuah keluarga di halaman depan stasiun sudah memancing aroma kereta api. Tak lama pembaca dibuat terkagum dengan ilustrasi arsitektur dan interior Stasiun Beos yang tersohor itu. Arsitektur stasiun yang mengagumkan ini dibuat oleh Ghijsels (1882-1947). Dibangun selama dua tahun hingga peresmiannya pada 8 Oktober 1929. Sedikit keindahan karya Ghijsels dapat kita saksikan disini. Sayang peran Stasiun Beos (kini bernama Stasiun Jakarta Kota) sebatas tempat pemberangkatan, hingga primadonna Ghijsels ini tidak sempat dieksplorasi lebih jauh. Semoga di lain kesempatan ada novel grafis dengan fokus lokasi peristiwa di Stasiun Beos.

Suasana jalur kereta api Jakarta-Surabaya dapat disaksikan disini, yang merujuk pada dokumentasi tempo doeloe. Desain lokomotif dan rangkaian kereta dibuat dengan cermat oleh tim ilustrator yang terdiri dari Bondan Winarno, Dhian Prasetya, dan Gede Juliantara.

Selain itu dapat ditemukan juga stasiun kecil, kondisi kecelakaan kereta api, beberapa bangunan gaya art deco, interior lokomotif, hingga kehidupan sosial masyarakat sekitar perlintasan kereta api-tanah pertanian, pasar, pedagang asongan, hingga pemangkas rambut bawah pohon. Semua ada, lengkap dengan dagelan yang seakan menjadi ciri khas novel grafis terbitan Banana Publishing sejak Ekspedisi Kapal Borobudur.

Ingin sedikit mengenal cara kerja kereta api? Ada juga, dan kita dipandu oleh tiga remaja cilik penumpang kereta. Ketiga remaja cilik inilah aktor utama dalam membongkar pencurian permata di atas kereta api. Sinyo (bocah keturunan Belanda), Seta (pribumi), dan A Xiu (putri keturunan Cina). Bertiga mereka menjadi kawan seperjalanan dan bersama-sama mencari dalang pencuri kotak permata milik kakek A Xiu.

Ikutilah petualangan dan cerita detektif bergaya Tintin, walau mungkin tidak sekompleks karakter ciptaan Herge 80 tahun lalu itu. Bertiga mereka selayaknya Lima Sekawan atau Sapta Siaga-nya Enid Blyton menikmati perjalanan kereta api, sambil melacak pencuri permata. Seting pencurian mengambil tempat dan waktu di dalam rangkaian kereta api, walau sesekali bersinggungan dengan lingkungan luar.

Menyatunya sejarah perkeretaapian Indonesia dan kisah detektif berlangsung mulus, walau ada beberapa kekurangan. Elemen suspense dan investigasi kurang mengigit, walau sebenarnya mampu dilakukan ketiga tokoh utama ini. Seandainya saja drama mencekam ala Murder On The Orient Express (karya Agatha Christie yang diadaptasi menjadi novel grafis oleh Francois Riviere, 2007) didapatkan dalam Eendaagsche Exprestreinen. Peran ketiga tokoh cilik ini dapat menjadi lebih menarik dan mengundang decak kagum. Namun apa yang dilakukan ketiga bocah cilik ini sudah cukup baik dan mereka berbagi peran secara berimbang.

Beberapa bumbu cerita juga ada disini, selain suasana kehidupan sosial sekitar lintasan kereta api. Obrolan pro-kemerdekaan tentang perjuangan Soekarno, cinta monyet (atau tepatnya cinta lokal) antara Seta dan A Xiu, buronan polisi yang bersembunyi di kereta api, termasuk gangguan jadwal perjalanan (yang masih terjadi hingga hari ini).

”Kami ingin orang-orang tahu sejarah Indonesia bukan saja dari sejarah tentang peristiwa-peristiwa besar saja. Tetapi yang kecil-kecil itu juga bagian dari sejarah Indonesia. Juga untuk meramaikan perkomikkan Indonesia,” Risdianto menambahkan.

Kehadiran novel grafis dengan sejarah kereta api ini memang menambah warna-warni wajah komik nasional, yang banyak dinilai miskin ide dan variasi. Bukannya tidak mungkin kelak kita akan menemukan lebih banyak lagi komik dan novel grafis semacam ini.

komikindonesia.com

Baca Selengkapnya..