Showing posts with label Seni Rupa. Show all posts
Showing posts with label Seni Rupa. Show all posts

Tuesday, September 13, 2016

JUXTAPOZ 145 Februari 2016



Juxtapoz, Majalah seni yang sudah mendunia ini mendapat perhatian banyak dari para kreator, seniman, pengamat seni, kurator, dll. Kiprahnya dalam jurnalistik dan fokusnya pada seni serta bungkus nikmat tata letak majalah juxtapoz ini banyak menjadi acuan atau indikator seni kontemporer.


Majalah ini saya kira perlu untuk disebarluaskan untuk kepentingan ilmu pengetahuan tentu saja, jika ada dari para pembaca yang pernah atau sudi menerjemahkan dan menyebarkan saya kira itu akan amat berguna dan tentusaja sangat menarik. Jika ada kesalahan di link tolong beri komentar agar segera bisa diperbaiki. Terimakasih


LINK DOWNLOAD
Baca Selengkapnya..

Wednesday, January 27, 2016

Seri Biografi Seniman : Vincent Van Gogh

Vincent van Gogh - Self Portrait, 1887
This world was never meant for one as beautiful as you.


Vincent Willem van Gogh (ucapan Belanda[vɪnˈsɛnt vɑnˈxɔx] ) (30 Maret 1853 – 29 Juli 1890) adalah pelukis pasca-impresionis Belanda. Lukisan-lukisan dan gambar-gambarnya termasuk karya seni yang terbaik, paling terkenal, dan paling mahal di dunia. Van Gogh dianggap sebagai salah satu pelukis terbesar dalam sejarah seni Eropa.
Baca Selengkapnya..

Sunday, April 7, 2013

Instalasi Seni Menakjubkan Terbuat Dari 60.000 Pengaduk Kopi




Meminum kopi di pagi hari bisa memberikan semangat untuk beraktifitas. Kopi sudah menjadi minuman yang populer di kalangan pemuda dan orang dewasa. Namun pernahkan Anda mendapatkan berpikir untuk membuat sebuah karya seni dari hal yang berkaitan dengan kopi ? Seniman Jonathan Brilliant dari Carolina Utara mendapatkan inspirasi tersebut dengan merubah pengaduk kopi menjadi sebuah karya seni yang menakjubkan. Hasil karya seni Jonathan disebut dengan ‘Sepotong Sumter’, instalasi seni ini terbuat dari 60.000 pengaduk kopi yang dijalin secara bersama-sama, luar biasa !

Karya seni besar dan panjang, ukurannya lebih dari dua lantai. Dimana karya seni ini berawal langit-langit lantai pertama dan akhirnya mencapai lantai kedua, dan di sekitarnya ada lampu yang semakin membuatnya terlihat harmonis. Hebatnya karya seni pengaduk kopi ini dibuat tanpa alat tambahan, dan dibutuhkan 14 hari untuk menenun dan menginstal karya seni itu untuk bergelantung di langit-langit.



“Tidak ada perekat yang digunakan dan seluruh struktur saling berkaitan satu dengan lainnya karena pengaduk kopi tersebut, ujung pengaduk kopi adalah kayu berbentuk bulat. Setelah hampir enam bulan instalasi seni pengaduk kopi ini dipajang, akhirnya dipisahkan dan disumbangkan ke sekolah setempat, “kata Jonathan.









Sumber


Baca Selengkapnya..

Sunday, January 27, 2013

100 Karya Seni Indonesia Masuk Google Art Project



Jakarta - Setelah resmi mengumumkan kehadirannya di Indonesia, Google langsung gerak cepat untuk menjalankan program-programnya. Salah satunya dengan menggandeng Museum Nasional Indonesia untuk kolaborasi Google Art Project. Apa itu?

Google Art Project (www.googleartproject.com) adalah sebuah program kerjasama global yang dipelopori dan dipromosikan oleh Google dengan melibatkan 151 institusi kebudayaan yang berasal dari 40 negara, termasuk Indonesia.

Dari Museum Nasional, sebanyak 100 karya seni terpilih dari Indonesia akan ditampilkan di situs tersebut. Karya-karya ini meliputi koleksi batik tradisional dan benda peninggalan sejarah kerajaan tertua di Indonesia, seperti Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur.

"Kini, siapa pun di mana pun mereka berada dapat menikmati keindahan batik Indonesia dan peninggalan seni nusantara adiluhung secara online," demikian keterangan Google yang diterima detikINET, Kamis (5/4/2012).

Situs Google Art Project menampilkan gambar digital resolusi tinggi dari 30.000 karya seni yang dapat dilihat secara online. Sejak diluncurkan di bulan Februasi 2011, Google Art Project telah berkembang sangat pesat.

Ketika baru diluncurkan, situs Google Art Project hanya memiliki 1.000 gambar online, kini lebih dari 30.000 gambar sudah dapat dilihat di situs tersebut.

Program Google Art Project pun kini telah memiliki kerja sama dengan lebih banyak institusi kebudayaan dari berbagai negara, baik dalam skala kecil ataupun besar, mulai dari museum kesenian tradisional sampai dengan lembaga-lembaga seni yang lebih modern.

Di Google Art Project, pengunjung situs dapat melakukan penjelajahannya sendiri ke berbagai tempat-tempat seni bersejarah di seluruh dunia, mulai dari Gedung Putih di Washington DC, dilanjutkan ke Museum of Islamic Art di Qatar, dan berhenti di Museum Nasional Indonesia.

Informasi maupun foto dokumentasi mengenai Google Art Project dapat diakses melalui www.googleartproject.com. Videonya juga bisa ditonton melalui Youtube: www.youtube.com/googleartproject.


( rou / ash )

Sumber


Baca Selengkapnya..

Monday, January 21, 2013

Seni Ukir Jepara



Ukiran adalah kerajinan utama dari kota Jepara.Yang dimaksud disini adalah ukiran yang berasal dari kayu yang bisa berasal dari kayu jati,mahoni,sengon dan lain-lain.Di kota Jepara hampir di seluruh kecamatan mempunyai mebel dan ukir kayu sesuai dengan keahliannya sendiri-sendiri.Hasil dari kerajinan ukir jeparabisa bermacam-macam bentuk mulai dari motif patung,motif daun,relief dan lain-lain.

Ukiran dari kayu di jepara ini untuk produksinya ada tempat-tempat yang lekat dengan para ahli pahat ukir jepara sebagai centre of production yaitu di Desa Mulyoharjo untuk pusat kerjinan ukir dan patung Jepara.Sedangkan untuk Kerjinan ukir berbentuk Relief terletak di desa Senenan dekat Rumah sakit Kartini Senenan.Menurut sejarah mengapa masyarakat Jepara mempunyai keahlian di pahat ukir kayu adalah konon pada jaman dulu kala ada seorang seniman hebat yang bernama Ki Sungging Adi Luwih.Dia tinggal di kerajaan.Kepiawaian Ki Sungging ini terkenal dan sang raja pun akhirnya mengetahuinya.Singkat cerita raja bermaksud memesan gambar untuk permaisurinya kepada Ki Sungging.Ki Sungging bisa menyelaikan gambarnya dengan baik namun pada saat Ki Sungging hendak menambahkan cat hitam pada rambutnya,ada cat yang tercecer di gambar permaisuri tersebut bagian paha sehingga nampak seperti tahilalat.Kemudian diserahkan kepada raja dan raja sangat kagum dengan hasil karyanya.Namun takdir berkata lain sang raja curiga kepada Ki Sungging bahwa mungkin Ki Sungging pernah melihat permaisuri telanjang karena melihat gambar tahilalat pada pahanya.Akhirnya raja menghukum Ki sungging dengan membawa alat pahat disuruh membuat patung permaisuri di udara dengan naik layang-layang.

Ukiran patung permaisuri sudah setengah selesai tapi sialnya datng angin kencang dan patung jatuh dan terbawa sampai Bali.Itulah sebabnya mengapa masyarakat Bali juga terkenal sebagai ahli membuat patung.Dan untuk alat pahat yang dipakai oleh ki Sungging jatuh di belakang gunung dan ditempat jatuhnya pahat inilah yang sekarang diakui sebagai Jepara tempat berkembangnya ukiran .

LEGENDA

Dikisahkan seorang ahli seni pahat dan lukis bernama Prabangkara yang hidup pada masa Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, pada suatu ketika sang raja menyuruh Prabangkara untuk membuat lukisan permaisuri raja sebagai ungkapan rasa cinta beliau pada permaisurinya yang sangat cantik dan mempesona.

Lukisan permaisuri yang tanpa busana itu dapat diselesaikan oleh Prabangkara dengan sempurna dan tentu saja hal ini membuat Raja Brawijaya menjadi curiga karena pada bagian tubuh tertentu dan rahasia terdapat tanda alami/khusus yang terdapat pula pada lukisan serta tempatnya/posisi dan bentuknya persis. Dengan suatu tipu muslihat, Prabangkara dengan segala peralatannya dibuang dengan cara diikat pada sebuah laying-layang yang setelah sampai di angkasa diputus talinya.
Dalam keadaan melayang-layang inilah pahat Prabangkara jatuh di suatu desa yang dikenal dengan nama Belakang Gunung di dekat kota Jepara.
Di desa kecil sebelah utara kota Jepara tersebut sampai sekarang memang banyak terdapat pengrajin ukir yang berkualitas tinggi. Namun asal mula adanya ukiran disini apakah memang betul disebabkan karena jatuhnya pahat Prabangkara, belum ada data sejarah yang mendukungnya.

SEJARAH

1. Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, terdapat seorang patih bernama Sungging Badarduwung yang berasal dari Campa (Kamboja) ternyata seorang ahli memahat pula. Sampai kini hasil karya Patih tersebut masih bisa dilihat di komplek Masjid Kuno dan Makam Ratu Kalinyamat yang dibangun pada abad XVI.
2. Keruntuhan Kerajaan Majapahit telah menyebabkan tersebarnya para ahli dan seniman hindu ke berbagai wilayah paruh pertama abad XVI. Di dalam pengembangannya, seniman-seniman tersebut tetap mengembangkan keahliannya dengan menyesuaikan identitas di daerah baru tersebut sehingga timbulah macam-macam motif kedaerahan seperti : Motif Majapahit, Bali, Mataram, Pajajaran, dan Jepara yang berkembang di Jepara hingga kini.

BENTUK DAN MOTIF UKIRAN JEPARA
Ukiran Jepara mempunyai ciri khas yang menunjukkan bahwa ukiran itu asli dari Jepara atau tidak.Salah satu ciri khas yang terkandung didalamnya adalah bentuk corak dan motif.Untuk motif sendiri bisa kita lihat dari : Daun Trubusan yang terdiri dari dua macam yaitu dilihat dari yang keluar daritangkai relung dan yang keluar dari cabang atau ruasnya.

Ukiran asli Jepara juga terlihat dari motif Jumbai atau ujung relung dimana daunnya seperti kipas yang sedang terbuka yang pada ujung daun tersebut meruncing.Dan juga ada buah tiga atau empat biji keluar dari pangkal daun.Selain itu,tangkai relungnya memutar dengan gaya memenjang dan menjalar membentuk cabang-cabang kecil yang mengisi ruang atau memperindah.

Ciri-ciri Khas diatas sudah cukup mewakili sebagai identitas ukiran Jepara.Bentuk motif ukiran tersebut ada juga yang oleh para ahli pahat disisipkan di berbagai alat rumah tangga seperti contoh di kursi atau meja yang diberikan ukiran khas Jepara,juga yang lain misal figura foto yang diberi khas Jepara dengan ukiran.

PELUANG USAHA UKIRAN
Ukiran Jepara terkenal mulai dari dalam kota,dalam negeri sampai di liaur negeri juga.Hal ini tentu memberi kemudahan untuk pengenalan produk dan ada keuntungan titik awal karena sudah mulai dikenal oleh kalangan luas.Kalu di dalam kota sendiri pusat penjualan terletak di desa Ngabul,Tahunan sedangkan untuk di luar negeri dengan adanya ASEAN CHINA FREE TRADE AREA ( ACFTA ) bisa menjadi peluang perdagangan strategis ukiran Jepara.

Ukiran Jepara bisa lebih banyak dikenal di mata dunia dan kita juga bisa mengembangkan usaha ukiran melalui peluang diatas.Tapi perlu diingat juga bahwa bisa juga menjadi tantangan untuk kita karena ada berlakunya kemitraaan dagang strategis melalui TRADE RELATED INTELLECTUAL PROPERTY RIGHTS ( TRIPP ) karena dengan adanya pasar bebas dan hukum dagang international,teknologi tradisional karaya Jepara seperti ukiran perlu dilindungi hak patennya.

Hak paten sangat diperlukan untuk membantu proses perdagangan ukiran Jepara.Jika kita sudah memiliki hak paten tersebut padahal disisi lain ukiran di jepara sudah dikenal oleh kalangan luas,maka proses penentuan harga dan pemasarannya pun akan mudah.Dan dari waktu ke waktu para pemesan atau pembeli akan tahu bahwasanya kalu pedagang dari Jepara sudah pasti membawa khas produknya yaitu ukiran.

Sumber : 1 2







Baca Selengkapnya..

Friday, December 14, 2012

NIRMANA TEKSTUR


Setiap bentuk atau benda apa saja di alam ini termasuk karya seni mesti memiliki permukaan atau raut. Setiap permukaan atau raut tentu memiliki nilai atau ciri khas. Nilai atau ciri khas permukaan tersebut dapat kasar, halus, polos, bermotif/bercorak, mengkilat, buram, licin, keras, lunak, dan sebagainya. Itulah tekstur atau ada yang menyebut barik. Dengan demikian, tekstur adalah nilai atau ciri khas suatu permukaan atau raut.
Dengan demikian, tekstur adalah nilai atau ciri khas suatu permukaan atau raut.
Pada umumnya orang menyebut tekstur itu dihubungkan dengan sifat permukaan yang kasar. Padahal sesungguhnya permukaan yang halus pun merupakan tekstur dimana nilai, sifat,atau ciri khas permukaan kasar-halus, kasap-licinm keras-lunak, bermotif-polos, cemerlang-suram, dan lain-lain semuanya adalah tekstur.
Dari berbagai tekstur tersebut ada yang bersfat teraba, disebut tekstur raba. Ada yang bersifat visual disebut tekstur lihat. Tekstur raba adalah tekstur yang dapat dirasakan lewat indra peraba (ujung jari). Tekstur raba ini sifatnya nyata, artinya dilihat tampak kasar, diraba pun nyata kasar. Ujung jari tidak dapat ditipu. Termasuk tekstur raba adalah tekstur kasar-halus, licin-kasar, dan keras-lunak.
Tekstur lihat adalah tekstur yang dirasakan lewat panca indra penglihatan. Tekstur lihat ini lebih bersifat semu. Artinya tekstur yang terlihat kasar jika diraba ternyata bisa halus. Jadi, mata dapat tertipu. Termasuk tekstur lihat/semua adalah tekstur bermotif, bercorak, atau bergambar. Namun, tekstur lihat dapat pula bersifat nyata di mana dilihat kasar diraba pun kasar.
Dengan demikian, secara sederhana tekstur dapat dikelompokkan ke dalam tekstur kasar nyata, tekstur kasar semu, dan tekstur semu.

Sumber

Tags : NIRMANA TEKSTUR NIRMANA DESAIN ELEMENTER SENI RUPA ART
Baca Selengkapnya..

Wednesday, December 12, 2012

Dasar-Dasar Tata Rupa dan Desain



Dasar-Dasar Tata Rupa dan Desain
Drs. Sadjiman Ebdi Sanyoto
Yogyakarta 2005

Nirmana
Nirmana adalah pengorganisasian atau penyusunan elemen-elemen visual seperti titik, garis, warna, ruang dan tekstur menjadi satu kesatuan yang harmonis. Nirmana dapat juga diartikan sebagai hasil angan-angan dalam bentuk dwimatra, trimatra yang harus mempunyai nilai keindahan. Nirmana disebut juga ilmu tatarupa. Elemen –elemen seni rupa dapat dikelompokan menjadi 4 bagian berdasarkan bentuknya.

1. Titik, titik adalah suatu bentuk kecil yang tidak mempunyai dimensi. Raut titik yang paling umum adalah bundaran sederhana, mampat, tak bersudut dan tanpa arah.
2. Garis, garis adalah suatu hasil goresan nyata dan batas limit suatu benda, ruang, rangkaian masa dan warna.
3. Bidang, bidang adalah suatu bentuk pipih tanpa ketebalan, mempunyai dimensi pajang, lebar dan luas; mempunyai kedudukan, arah dan dibatasi oleh garis.
4. Gempal, gempal adalah bentuk bidang yang mempunyai dimensi ketebalan dan kedalaman.
Penyusunan merupakan suatu proses pengaturan atau disebut juga komposisi dari bentuk-bentuk menjadi satu susunan yang baik. Ada beberapa aturan yang perlu digunakan untuk menyusun bentuk-bentuk tersebut. Walaupun penerapan prinsip-prinsip penyusunan tidak bersifat mutlak, namun karya seni yang tercipta harus layak disebut karya yang baik. Perlu diketahui bahwa prinsip-prinsip ini bersifat subyektif terhadap penciptanya.
Dalam ilmu desain grafis, selain prinsip-prinsip diatas ada beberapa prinsip utama untuk tujuan komunikasi dari sebuah karya desain.
1. Ruang Kosong (White Space)
Ruang kosong dimaksudkan agar karya tidak terlalu padat dalam penempatannya pada sebuah bidang dan menjadikan sebuah obyek menjadi dominan.
2. Kejelasan (Clarity)
Kejelasan atau clarity mempengaruhi penafsiran penonton akan sebuah karya. Bagaimana sebuah karya tersebut dapat mudah dimengerti dan tidak menimbulkan ambigu/ makna ganda.
3. Kesederhanaan (Simplicity)
Kesederhanaan menuntut penciptaan karya yang tidak lebih dan tidak kurang. Kesederhanaan sering juga diartikan tepat dan tidak berlebihan. Pencapaian kesederhanaan mendorong penikmat untuk menatap lama dan tidak merasa jenuh.
4. Emphasis (Point of Interest)
Emphasis atau disebut juga pusat perhatian, merupakan pengembangan dominasi yang bertujuan untuk menonjolkan salah satu unsur sebagai pusat perhatian sehingga mencapai nilai artistic.

Prinsip-prinsip dasar seni rupa
1. Kesatuan (Unity)
Kesatuan merupakan salah satu prinsip dasar tata rupa yang sangat penting. Tidak adanya kesatuan dalam sebuah karya rupa akan membuat karya tersebut terlihat cerai-berai, kacau-balau yang mengakibatkan karya tersebut tidak nyaman dipandang. Prinsip ini sesungguhnya adalah prinsip hubungan. Jika salah satu atau beberapa unsur rupa mempunyai hubungan (warna, raut, arah, dll), maka kesatuan telah tercapai.
2. Keseimbangan (Balance)
Karya seni dan desain harus memiliki keseimbangan agar nyaman dipandang dan tidak membuat gelisah. Seperti halnya jika kita melihat pohon atau bangunan yang akan roboh, kita merasa tidak nyaman dan cenderung gelisah. Keseimbangan adalah keadaan yang dialami oleh suatu benda jika semua daya yang bekerja saling meniadakan. Dalam bidang seni keseimbangan ini tidak dapat diukur tapi dapat dirasakan, yaitu suatu keadaan dimana semua bagian dalam sebuah karya tidak ada yang saling membebani.
3. Proporsi (Proportion)
Proporsi termasuk prinsip dasar tata rupa untuk memperoleh keserasian. Untuk memperoleh keserasian dalam sebuah karya diperlukan perbandingan –perbandingan yang tepat. Pada dasarnya proporsi adalah perbandingan matematis dalam sebuah bidang. Proporsi Agung (The Golden Mean) adalah proporsi yang paling populer dan dipakai hingga saat ini dalam karya seni rupa hingga karya arsitektur. Proporsi ini menggunakan deret bilangan Fibonacci yang mempunyai perbandingan 1:1,618, sering juga dipakai 8 : 13. Konon proporsi ini adalah perbandingan yang ditemukan di benda-benda alam termasuk struktur ukuran tubuh manusia sehingga dianggap proporsi yang diturunkan oleh Tuhan sendiri. Dalam bidang desain proporsi ini dapat kita lihat dalam perbandingan ukuran kertas dan layout halaman.
4. Irama (Rhythm)
Irama adalah pengulangan gerak yang teratur dan terus menerus. Dalam bentuk –bentuk alam bisa kita ambil contoh pengulangan gerak pada ombak laut, barisan semut, gerak dedaunan, dan lain-lain. Prinsip irama sesungguhnya adalah hubungan pengulangan dari bentuk –bentuk unsur rupa.
5. Dominasi (Domination)
Dominasi merupakan salah satu prinsip dasar tatarupa yang harus ada dalam karya seni dan deisan. Dominasi berasal dari kata Dominance yang berarti keunggulan . Sifat unggul dan istimewa ini akan menjadikan suatu unsure sebagai penarik dan pusat perhatian. Dalam dunia desain, dominasi sering juga disebut Center of Interest, Focal Point dan Eye Catcher. Dominasi mempunyai bebrapa tujuan yaitu utnuk menarik perhatian, menghilangkan kebosanan dan untuk memecah keberaturan.

Warna
Warna dapat didefinisikan secara obyektif/fisik sebagai sifat cahaya yang diapancarkan, atau secara subyektif/psikologis sebagai bagian dari pengalaman indera pengelihatan. Secara obyektif atau fisik, warna dapat diberikan oleh panajang gelombang. Dilihat dari panjang gelombang, cahaya yang tampak oleh mata merupakan salah satu bentuk pancaran energi yang merupakan bagian yang sempit dari gelombang elektromagnetik. Cahaya yang dapat ditangkap indera manusia mempunyai panjang gelombang 380 sampai 780 nanometer. Cahaya antara dua jarak nanometer tersebut dapat diurai melalui prisma kaca menjadi warna-warna pelangi yang disebut spectrum atau warna cahaya, mulai berkas cahaya warna ungu, violet, biru, hijau, kuning, jingga, hingga merah.
Di luar cahaya ungu /violet terdapat gelombang-gelombang ultraviolet, sinar X, sinar gamma, dan sinar cosmic. Di luar cahaya merah terdapat gelombang / sinar inframerah, gelombang Hertz, gelombang Radio pendek, dan gelombang radio panjang, yang banyak digunakan untuk pemancaran radio dan TV. Proses terlihatnya warna adalah dikarenakan adanya cahaya yang menimpa suatu benda, dan benda tersebut memantulkan cahaya ke mata (retina) kita hingga terlihatlah warna. Benda berwarna merah karena sifat pigmen benda tersebut memantulkan warna merah dan menyerap warna lainnya. Benda berwarna hitam karena sifat pigmen benda tersebut menyerap semua warna pelangi. Sebaliknya suatu benda berwarna putih karena sifat pigmen benda tersebut memantulkan semua warna pelangi.
Sebagai bagian dari elemen tata rupa, warna memegang peran sebagai sarana untuk lebih mempertegas dan memperkuat kesan atau tujuan dari sebuah karya desain. Dalam perencanaan corporate identity, warna mempunyai fungsi untuk memperkuat aspek identitas. Lebih lanjut dikatakan oleh Henry Dreyfuss , bahwa warna digunakan dalam simbol-simbol grafis untuk mempertegas maksud dari simbol-simbol tersebut . Sebagai contoh adalah penggunaan warna merah pada segitiga pengaman, warna-warna yang digunakan untuk traffic light merah untuk berhenti, kuning untuk bersiap-siap dan hijau untuk jalan. Dari contoh tersebut ternyata pengaruh warna mampu memberikan impresi yang cepat dan kuat.
Kemampuan warna menciptakan impresi, mampu menimbulkan efek-efek tertentu. Secara psikologis diuraikan oleh J. Linschoten dan Drs. Mansyur tentang warna sbb: Warna-warna itu bukanlah suatu gejala yang hanya dapat diamati saja, warna itu mempengaruhi kelakuan, memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya kita akan bermacam-macam benda.
Dari pemahaman diatas dapat dijelaskan bahwa warna, selain hanya dapat dilihat dengan mata ternyata mampu mempengaruhi perilaku seseorang, mempengaruhi penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya seseorang pada suatu benda. Berikut kami sajikan potensi karakter warna yang mampu memberikan kesan pada seseorang sbb :
1. Hitam, sebagai warna yang tertua (gelap) dengan sendirinya menjadi lambang untuk sifat gulita dan kegelapan (juga dalam hal emosi).
2. Putih, sebagai warna yang paling terang, melambangkan cahaya, kesucian.
3. Abu-abu, merupakan warna yang paling netral dengan tidak adanya sifat atau kehidupan spesifik.
4. Merah, bersifat menaklukkan, ekspansif (meluas), dominan (berkuasa), aktif dan vital (hidup).
5. Kuning, dengan sinarnya yang bersifat kurang dalam, merupakan wakil dari hal-hal atau benda yang bersifat cahaya, momentum dan mengesankan sesuatu.
6. Biru, sebagai warna yang menimbulkan kesan dalamnya sesuatu (dediepte), sifat yang tak terhingga dan transenden, disamping itu memiliki sifat tantangan.
7. Hijau, mempunyai sifat keseimbangan dan selaras, membangkitkan ketenangan dan tempat mengumpulkan daya-daya baru.
Dari sekian banyak warna, dapat dibagi dalam beberapa bagian yang sering dinamakan dengan sistem warna Prang System yang ditemukan oleh Louis Prang pada 1876 meliputi :
1. Hue, adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna, seperti merah, biru, hijau dsb.
2. Value, adalah dimensi kedua atau mengenai terang gelapnya warna. Contohnya adalah tingkatan warna dari putih hingga hitam.
3. Intensity, seringkali disebut dengan chroma, adalah dimensi yang berhubungan dengan cerah atau suramnya warna.
Selain Prang System terdapat beberapa sistem warna lain yakni, CMYK atau Process Color System, Munsell Color System, Ostwald Color System, Schopenhauer/Goethe Weighted Color System, Substractive Color System serta Additive Color/RGB Color System.
Diantara bermacam sistem warna diatas, kini yang banyak dipergunakan dalam industri media visual cetak adalah CMYK atau Process Color System yang membagi warna dasarnya menjadi Cyan, Magenta, Yellow dan Black. Sedangkan RGB Color System dipergunakan dalam industri media visual elektronika.


Tags :
Baca Selengkapnya..

Friday, October 5, 2012

Teori Dasar Komunikasi Visual



Komunikasi visual, sesuai namanya, adalah komunikasi melalui penglihatan. Komunikasi visual merupakan sebuah rangkaian proses penyampaian kehendak atau maksud tertentu kepada pihak lain dengan penggunaan media penggambaran yang hanya terbaca oleh indera penglihatan. Komunikasi visual mengkombinasikan seni, lambang, tipografi, gambar, desain grafis, ilustrasi, dan warna dalam penyampaiannya.

Komunikasi visual memiliki beberapa fungsi, diantaranya sebagai sarana informasi dan instruksi, bertujuan menunjukkan hubungan antara suatu hal dengan hal yang lain dalam petunjuk, arah, posisi dan skala, contohnya peta, diagram, simbol dan penunjuk arah. Informasi akan berguna apabila dikomunikasikan kepada orang yang tepat, pada waktu dan tempat yang tepat, dalam bentuk yang dapat dimengerti, dan dipresentasikan secara logis dan konsisten. Sebagai sarana presentasi dan promosi untuk menyampaikan pesan, mendapatkan perhatian (atensi) dari mata (secara visual) dan membuat pesan tersebut dapat diingat; contohnya poster. Juga sebagai sarana identifikasi. Identitas seseorang dapat mengatakan tentang siapa orang itu, atau dari mana asalnya. Demikian juga dengan suatu benda, produk ataupun lembaga, jika mempunyai identitas akan dapat mencerminkan kualitas produk atau jasa itu dan mudah dikenali, baik oleh produsennya maupun konsumennya. Kita akan lebih mudah membeli minyak goreng dengan menyebutkan merek X ukuran Y liter daripada hanya mengatakan membeli minyak goreng saja. Atau kita akan membeli minyak goreng merek X karena logonya berkesan bening, bersih, dan “sehat”. Jika komunikasi visual digunakan untuk identifikasi lembaga seperti sekolah, misalnya. Maka orang akan lebih mudah menentukan sekolah A atau B sebagai favorit, karena sering berprestasi dalam kancah nasional atau meraih peringkat tertinggi di daerah itu.

Komunikasi visual memiliki beberapa teori dasar yang dapat digunakan sebagai patokan dalam menjalankan fungsinya, yaitu teori sensual dan perseptual.

PEMBAHASAN

Psikolog, filsuf, dan praktisi telah merancang beberapa pendekatan yang dapat membantu kita menjelaskan cara melihat dan memproses gambar. Keempat teori yang kita bahas dapat dibagi menjadi dua kelompok dasar: sensual (gestalt dan konstruksitivisme) dan perseptual (semiotika dan kognitif).

Untuk memahami salah satu pendekatan komunikasi visual, Anda harus terlebih dahulu mengetahui perbedaan antara sensasi visual dan persepsi visual. Sensasi visual merupakan rangsangan dari dunia luar yang mengaktifkan sel-sel saraf dalam organ indra Anda. Membakar kayu dalam perapian bisa mengaktifkan sel-sel di telinga Anda karena Anda dapat mendengar batang kayu retak dan mendesis; Anda dapat mencium aroma kayu di hidung Anda; di tangan dan wajah Anda, Anda bisa merasakan kehangatan api; dan di mata Anda ketika Anda melihat cahaya kuning dari api. Ketika rangsangan mencapai otak, hal ini dapat menghasilkan arti dari semua masukan sensual. Otak Anda menafsirkan suara-suara, bau, suhu, dan pemandangan seperti api di perapian.

Persepsi visual adalah kesimpulan yang dibuat dengan menggabungkan semua informasi yang dikumpulkan oleh organ sensual Anda. Sensasi adalah data mentah. Persepsi visual adalah kesimpulan makna setelah rangsangan visual yang diterima.

A. Teori Sensual
o Gestalt
Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil.

Istilah “Gestalt” mengacu pada sebuah objek/figur yang utuh dan berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya.

Teori ini dibangun oleh tiga orang, Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh.

Teori gestalt banyak dipakai dalam proses desain dan cabang seni rupa, karena banyak menjelaskan bagaimana persepsi visual dapat terbentuk. Persepsi jenis ini bisa terbentuk karena:
1. Kedekatan posisi (proximity)
2. Kesamaan bentuk (similiarity)
3. Penutupan bentuk
4. Kesinambungan pola (continuity)
5. Kesamaan arah gerak (common fate)

Kesamaan bentuk (similarity) menyatakan bahwa otak memberikan pilihan, Anda akan memilih bentuk paling sederhana dan stabil untuk berkonsentrasi.

Kedekatan posisi (proximity) menyatakan bahwa otak lebih bisa berasosiasi dengan objek yang dekat satu sama lain daripada dua objek yang berada berjauhan. Dua orang teman berdiri berdekatan dan berpegangan tangan akan terlihat seperti memiliki hubungan yang dekat daripada orang ketiga yang berdiri 20 meter dari sebuah pasangan.

Kesinambungan pola (continuity) bersandar pada prinsip, sekali lagi dianggap oleh psikolog gestalt bahwa otak tidak suka sesuatu secara tiba-tiba atau tidak biasa berubah dalam sebuah baris pergerakan. Dengan kata lain, otak mencari sebanyak mungkin kelanjutan dari sebuah garis. Garis dapat menjadi garis dalam pengertian tradisional, seperti dalam sebuah gambar, atau beberapa objek ditempatkan bersama-sama yang membentuk garis. Benda dipandang seperti memiliki garis kontinu yang secara mental dipisahkan dari benda-benda lain yang bukan merupakan bagian dari baris.

Penutupan bentuk. Mungkin Anda sering mendengar kalimat seperti ini: “Ini ibu… Budi!”. Budi dalam kalimat tersebut adalah sebagai penutup bentuk.

Prinsip lain dari psikologi gestalt adalah arah gerak (common fate). Seorang pengamat melihat lima tangan yang diangkat menunjuk ke langit dan mereka semua menunjuk ke arah yang sama. Tangan yang menunjuk ke arah berlawanan akan menimbulkan kejanggalan, karena pengamat tidak melihat hal tersebut sebagai bagian dari satu kesatuan.

Faktor-faktor inilah yang menyebabkan kita sering bisa merasakan keteraturan dari pola-pola yang sebenarnya acak. Misalnya saat seseorang melihat awan, dia dengan mudah bisa menemukan bentuk muka seseorang. Hal ini disebut pragnan.

Pada tahun 1915, Edgar Rubin, seorang psikolog gestalt Denmark, bereksperimen dengan angka dan pola-pola tanah dengan menggambar sebuah objek yang dapat ditafsirkan baik sebagai wajah atau vas. Secara sensual, baik wajah dan gambar vas merangsang fotoreseptor di retina. Namun, otak tidak dapat melihat kedua gambar sekaligus. Anda harus membuat keputusan sadar apakah ingin melihat wajah atau vas di ruang.

o Gestalt dan Komunikasi Visual
Kekuatan teori gestalt terhadap persepsi visual adalah perhatiannya terhadap bentuk-bentuk yang menyusun konten sebuah gambar. Analisis dari suatu gambar harus dimulai dengan konsentrasi kepada bentuk-bentuk yang secara alamiah muncul dalam gambar. Ingatlah bahwa warna, bentuk, kedalaman, dan pergerakan adalah karakteristik dasar dari suatu gambar yang memberitahu otak. Gestalt mengajarkan komunikator visual untuk menggabungkan unsur-unsur dasar tersebut menjadi keseluruhan yang bermakna. Pendekatan ini juga mengajarkan seniman grafis untuk memusatkan perhatian pada unsur-unsur tertentu dengan bermain melawan prinsip-prinsip gestalt. Sebagai contoh, sebuah logo perusahaan (atau merek dagang) akan diketahui dalam sebuah iklan jika memiliki bentuk yang berbeda, ukuran, atau lokasi dalam kaitannya dengan elemen-elemen lain dalam layout.

Karya teori gestalt dengan jelas menunjukkan bahwa otak adalah organ yang kuat yang mengklasifikasikan materi visual dalam kelompok diskrit. Apa yang kita lihat ketika melihat sebuah gambar adalah modifikasi oleh apa yang telah kita lihat di masa lalu dan apa yang ingin kita lihat dahulu dengan apa yang ingin kita ingin lihat saat ini.

o Konstruktivisme
Pendekatan gestalt telah dikritik karena hanya menggambarkan persepsi daripada memberikan penjelasan tentang bagaimana persepsi ini sebenarnya memberi makna pada sebuah gambar. Akibatnya, beberapa psikolog gestalt berusaha untuk mengembangkan teori-teori yang membantu menjelaskan pentingnya keadaan mental si pengamat sendiri ketika sedang aktif mengamati.
Pada tahun 1970, Julian Hochberg, seorang profesor psikologi di Universitas Columbia, menemukan bahwa mata pengamat terus-menerus bergerak ketika mereka mengamati gambar. Fokus fiksasi ini semua bergabung dengan ingatan jangka pendek pengamat untuk membantu membangun sebuah gambaran dari suatu kejadian. Pengamat menyusun adegan dengan fiksasi mata jangka pendek bahwa pikiran bergabung menjadi kesatuan gambar. Untuk Hochberg, pendekatan yang gestalt gambarkan kepada pengamat terlalu pasif. Sebaliknya, konstruktivisme menekankan gerakan mata pengamat dalam keadaan persepsi aktif.

Dr Mario Garcia dari Poynter Institute dan Dr Pegie Stark dari University of South Florida menggunakan Eye-Trac mesin pengujian pada rekaman video untuk merekam gerakan mata peserta ketika mereka membaca koran. Para peneliti menemukan bahwa isi, ukuran, dan penempatan foto pada halaman surat kabar lebih penting daripada apakah gambar dicetak dalam warna atau tidak.
Konstruktivisme sebenarnya hanya klarifikasi kecil dari pendekatan gestalt. Alasannya adalah bahwa hubungan antara berbagai mata fiksasi dan pengalaman masa lalu dikunci dalam memori seseorang dalam membantu untuk menjelaskan sebuah gambar yang tidak pernah dibuat jelas.
B. Teori Perseptual

o Semiotika
Bendera yang ditinggikan di atas stadion sepak bola dan ditonton takzim selama menyanyikan lagu kebangsaan di tribun dan di lapangan adalah sebuah tanda. Tangan kanan ditempatkan di dekat dada selama menyanyikan lagu kebangsaan adalah suatu tanda. Kata-kata yang dikeluarkan dalam program tentang pemain sepak bola di lapangan adalah tanda-tanda. Close-up foto-foto pemain berjongkok dan menunggu menjentikkan bola selama pertandingan adalah tanda-tanda. Angka yang menyala di papan angka adalah tanda-tanda. The “high-five” menampar seorang teman setelah tim touchdown adalah tanda. Siluet sederhana menggambarkan seorang laki-laki di atas pintu kamar pria adalah sebuah tanda.
Sebuah tanda hanyalah sesuatu yang berdiri untuk sesuatu yang lain. Setelah membaca daftar sebelumnya tanda-tanda Anda mungkin bertanya: Apa yang bukan tanda? Itu pertanyaan yang bagus karena hampir semua tindakan, objek, atau gambar akan berarti sesuatu kepada seseorang di suatu tempat. Representasi fisik adalah sebuah tanda jika memiliki makna di luar obyek itu sendiri. Akibatnya, makna di balik tanda-tanda harus dipelajari. Dengan kata lain, untuk sesuatu yang menjadi tanda, para penyimak harus memahami maknanya.
Semiotika (disebut semiology di Eropa) adalah studi atau ilmu tanda. Sebenarnya ini adalah puncak dari lagu kebangsaan Aldous Huxley’s: Semakin banyak Anda tahu, semakin banyak Anda melihat. Dengan demikian, gambar akan jauh lebih menarik dan berkesan jika tanda-tanda yang dimengerti oleh banyak orang digunakan dalam gambar. Studi semiotika adalah penting karena tanda-tanda meresap ke setiap pesan. Studi akademik semiotik berupaya untuk mengidentifikasi dan menjelaskan tanda-tanda yang digunakan oleh setiap masyarakat di dunia.
Meskipun telah mendapatkan popularitas, semiotika ini adalah konsep lama. Tahun 397 M, Agustinus, filsuf Romawi dan linguist, pertama mengusulkan studi tentang tanda-tanda. Dia mengakui bahwa pemahaman universal ada di banyak level verbal. Kata semiotika berasal dari bahasa negaranya: Semeion adalah kata Yunani untuk tanda.
Semiotika kontemporer muncul melalui karya dua teori linguistik tepat sebelum Perang Dunia I. Ferdinand de Saussure ahli bahasa dari Swiss mengembangkan teori umum mengenai tanda-tanda yang diambil dari catatan oleh muridnya sementara ia adalah seorang profesor di Universitas Jenewa. Pada waktu yang hampir bersamaan, filsuf Amerika Charles Sanders Peirce menerbitkan karyanya sendiri mengenai ide tentang efek tanda-tanda di masyarakat. Kedua filsuf menginspirasi orang lain untuk berkonsentrasi di bidang studi ini. Orang Amerika Arthur Asa Berger, Charles Morris, dan Thomas Sebeok, Umberto Eco dari Italia, orang Prancis Roland Barthes, dan banyak lainnya telah berkontribusi besar terhadap studi semiotika.

o Penerimaan Semiotika
Pierce dan de Saussure tidak terlalu tertarik pada aspek-aspek visual tanda-tanda. Mereka adalah ahli bahasa tradisional yang mempelajari cara kata-kata digunakan untuk mengomunikasikan arti melalui struktur naratif. Namun, selama bertahun-tahun semiotika telah berkembang menjadi teori persepsi yang melibatkan penggunaan gambar dalam cara yang tak terduga. Sebagai contoh, Sebeok mengidentifikasi beberapa topik semiotika yang telah dipelajari peneliti. Selain topik yang jelas mengenai tanda-tanda visual dan simbol digunakan dalam desain grafis, mereka termasuk semiotika teater, dimana unsur-unsur kinerja dianalisis; semiotika televisi dan komersial; semiotika pariwisata; semiotika dari tanda-tanda yang digunakan dalam seragam pramuka; sistem semiotika notasi yang digunakan di tarian, keterangan notasi yang digunakan dalam tari, musik, logika, matematika, dan kimia; dan semiotika perkotaan, di mana kota dipandang sebagai simbol sosial. Lapangan semiotika telah menjadi sangat populer sehingga jurnal, konferensi internasional, dan departemen akademik di universitas sekarang mengabdikan diri untuk semiotika.

o Tiga Jenis Tanda
Pertama kali yang penting dalam lapangan semiotik, lapangan sistem tanda, adalah pengertian tanda-tanda itu sendiri. Dalam pengertian tanda ada dua prinsip, yaitu penanda (signifier) atau yang menandai, yang merupakan bentuk tanda, dan petanda (signified) atau yang ditandai, yang merupakan arti tanda. Merujuk teori Pierce, maka tanda-tanda dalam gambar dapat dilihat dari jenis tanda yang digolongkan dalam semiotik. Di antaranya: ikon, indeks dan simbol. Ikon adalah tanda yang mirip dengan objek yang diwakilinya. Dapat pula dikatakan, tanda yang memiliki ciri-ciri sama dengan apa yang dimaksudkan. Misalnya, foto Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah ikon dari Pak Sultan. Peta Yogyakarta adalah ikon dari wilayah Yogyakarta yang digambarkan dalam peta tersebut. Cap jempol Pak Sultan adalah ikon dari ibu jari Pak Sultan. Indeks merupakan tanda yang memiliki hubungan sebab akibat dengan apa yang diwakilinya. Atau disebut juga tanda sebagai bukti. Contohnya: asap dan api, asap menunjukkan adanya api. Jejak telapak kaki di tanah merupakan tanda indeks orang yang melewati tempat itu. Tanda tangan (signature) adalah indeks dari keberadaan seseorang yang menorehkan tanda tangan itu. Simbol merupakan tanda berdasarkan konvensi, peraturan, atau perjanjian yang disepakati bersama. Simbol baru dapat dipahami jika seseorang sudah mengerti arti yang telah disepakati sebelumnya. Contohnya: Garuda Pancasila bagi bangsa Indonesia adalah burung yang memiliki perlambang yang kaya makna. Namun bagi orang yang memiliki latar budaya berbeda, seperti orang Eskimo, misalnya, Garuda Pancasila hanya dipandang sebagai burung elang biasa.

o Gambar, kumpulan tanda
Roland Barthes menggambarkan rantai asosiasi atau tanda yang membentuk narasi gambar. Dalam bahasa verbal narasi ini seperti garis. Satu kata mengikuti berikutnya dalam aturan tertentu berbasis pesanan. Dalam hal itu, komunikasi verbal dianggap tidak bersambungan satu sama lain. Tanda-tanda dalam gambar disajikan dalam berbagai cara, banyak sekali tergantung pada gaya pembuat gambar. Meskipun rantai tanda-tanda yang lebih ketat dikontrol dengan teks daripada gambar, satu pengecualian mungkin puisi, dimana susunan kata-kata dapat menjadi nonlinier. Istilah umum untuk asosiasi rantai Barthes adalah kode. Melalui sejarah dan adat istiadatnya, masyarakat mengembangkan sistem yang kompleks untuk kode. Demikian tanda-tanda individu digabungkan untuk mengkomunikasikan ide-ide rumit dalam bentuk kode ini. Asa Berger menyarankan empat jenis kode: metonimis, analogis, displaced, dan ringkas (condensed).
Sebuah kode metonimis adalah kumpulan tanda-tanda yang menyebabkan penyimak membuat asosiasi atau asumsi. Sebuah foto dalam iklan menunjukkan tanda-tanda tentang ruang tamu dengan lukisan-lukisan mahal di dinding, panel kayu yang nyata, kaya kain perabot, pencahayaan lembut, dan api menyala di bawah sebuah mantel akan berkomunikasi secara metonimis tentang prospek asmara atau kenyamanan untuk warga kelas atas.
Sebuah kode analogis adalah kelompok tanda-tanda yang menyebabkan penyimak membuat perbandingan mental. Kertas tulis kuning bisa mengingatkan seorang penulis kulit kuning dari lemon karena warnanya yang serupa.
Akhirnya, kode singkat adalah beberapa tanda-tanda yang dapat bergabung menjadi baru, tanda komposit. Video musik dan periklanan televisi diilhami oleh mereka yang unik dan seringkali memiliki makna yang tak terduga. Tanda musisi, penari, musik, teknik editing cepat, grafik, warna, banyak gambar, dan sebagainya semua adalah bentuk pesan yang kompleks. Dalam budaya pesan ini ditujukan untuk kode singkat yang memiliki arti relevan. Tetapi bagi mereka di luar budaya itu, gambar sering membingungkan, acak, dan tanpa tujuan. Cara individu mengkombinasikan bentuk tanda-tanda dan pesan yang bermakna mereka sendiri seringkali tidak dapat dikendalikan oleh para pencipta tanda-tandanya. Tipe kode ini adalah yang paling menjanjikan untuk cara baru komunikasi dan tempat penelitian semiotika perlu terjadi.
Simbol sering membangkitkan tanggapan emosional yang kuat di antara penonton. Pembakaran sebuah bendera nasional negara sebagai sikap protes adalah simbol yang kuat menantang dan kemarahan. Ini bukan hanya suatu tindakan untuk menciptakan panas melalui pembakaran sepotong kain. Semiotika mengajarkan pentingnya simbolisme dalam tindakan persepsi dan komunikasi visual. Seorang penonton yang tahu makna di balik tanda-tanda yang digunakan dalam gambar yang rumit akan mendapatkan wawasan dari itu, sehingga gambar lebih mudah diingat. Bahaya menggunakan tanda-tanda kompleks sebagai bagian dari suatu gambar adalah bahwa mereka mungkin disalahpahami, diabaikan, atau ditafsirkan dengan cara yang salah. Namun demikian, tantangan bagi komunikator visual, yang dinyatakan dalam studi semiotika adalah bahwa bila digunakan dengan benar, tanda-tanda dapat menawarkan cara-cara komunikasi yang sebelumnya tidak dikenal.

o Kognitif
Menurut pendekatan kognitif, penonton tidak hanya menyaksikan keterangan objek yang terstruktur, seperti dalam teori gestalt, tetapi juga secara aktif tiba pada suatu kesimpulan tentang persepsi melalui operasi mental.
Carolyn bloomer mengidentifikasi beberapa aktifitas mental yang bisa memengaruhi persepsi visual: ingatan, proyeksi, harapan, selektifitas, habituasi (hal membiasakan diri), saliance, disonansi (ketidaksesuaian), budaya dan kata-kata.

a. Ingatan
Dapat dikatakan bahwa aktivitas mental yang paling penting yang terlibat dalam persepsi visual akurat, memori adalah mata rantai dengan semua gambar yang pernah kita lihat.Orang telah lama menggunakan gambar sebagai alat bantu memori, untuk membantu diri mereka sendiri mengingat peristiwa-peristiwa tertentu. Simonides menciptakan sistem mnemonik pertama. Ketika menampilkan sebuah puisi di rumah seorang teman, ia dipanggil keluar dari ruangan. Tiba-tiba, langit-langit kamar yang baru saja ia keluar darisana runtuh dan memakan korban meninggal beberapa tamu. Kemudian, kerabat korban yang cemas menanyakan nasib orang yang mereka cintai. Simonides mampu mengingat mereka yang telah hancur oleh batu atap dengan menciptakan kembali pengaturan tempat duduk bagi orang-orang di sekitar meja makan. Pengalaman tragis ini mendorongnya untuk bereksperimen dengan bentuk latihan mental. Ia menemukan bahwa ia bisa mengingat bagian panjang dari tulisan-tulisannya dengan membagi mereka menjadi beberapa bagian dan secara mental menempatkan mereka dalam berbagai ruangan rumah yang dibayangkan. Dalam seni memori oleh Frances Andrea, dia membuat titik bahwa “satu-satunya cara kita ingat adalah secara visual, spasial”.
Ahli mnemonik modern menggunakan gambar absurd untuk membantu orang-orang memanggil nama, kata-kata rumit, dan fakta-fakta penting. Meskipun banyak peneliti tidak aktif mempelajari sistem mnemonik, mahasiswa kedokteran secara teratur menggunakan mereka dalam mencoba mengingat banyak istilah sulit yang mereka jumpai dalam studi mereka.

b. Proyeksi
Individu yang kreatif dapat mengenali bentuk cornflake mengambang dalam semangkuk susu di pagi hari. Yang lain memahami awan, pohon, dan formasi batuan atau menemukan kenyamanan dalam pesan belajar dari kartu tarot, tanda-tanda astrologi. Salah satu alasan bahwa psikolog menggunakan tes umum Rorschach inkblot bahwa individu sering menunjukkan ciri-ciri kepribadian oleh makna yang berasal dari bentuk-bentuk yang berbentuk aneh. Sebuah kondisi mental seseorang dalam pikiran demikian “diproyeksikan” ke sebuah objek pernyataan umum. Satu orang akan berjalan melewati sebuah batang pohon tanpa ragu. Orang lain akan menghabiskan berjam-jam mengagumi human like yang dibentuk oleh kurva dan bayangan di hutan. Perbedaan antara dua individu mungkin berada dalam proses mental yang mempengaruhi apa yang mereka lihat.

c. Harapan
Ketika Anda berjalan ke ruang tamu, Anda mungkin berharap untuk melihat sebuah sofa, gambar-gambar di dinding dan mungkin sebuah pesawat televisi. Jika Anda memiliki mental yang kuat mengenai gambaran tentang apa yang seharusnya merupakan bentuk ruang ini, Anda mungkin akan kecewa ketika melihat tongkat hoki yang berada di meja kartu di dekatnya. Memiliki prasangka harapan tentang bagaimana sebuah adegan seharusnya muncul sering mengakibatkan kehilangan atau kesalahan persepsi visual.

d. Selektifitas
Sebagian besar dari apa yang orang lihat dalam pengalaman visual yang rumit bukan merupakan bagian dari proses sadar. Sebagai contoh, jarang orang berpikir tentang pernapasan mereka sendiri, kecuali secara sadar dibuat sadar. Kebanyakan dari persepsi visual yang tidak sadar secara otomatis oleh jumlah gambar yang besar masuk dan meninggalkan pikiran tanpa diproses. Pikiran hanya berfokus pada rincian yang signifikan dalam sebuah adegan. Jika Anda mencoba untuk menemukan seorang teman yang duduk di bangku yang penuh sesak selama pertandingan bisbol, semua wajah-wajah tak dikenal lain dalam kerumunan akan memiliki sedikit makna. Ketika Anda melihat teman Anda, pikiran Anda tiba-tiba kunci pada penampilan orang yang dikenal seolah-olah dibantu oleh sebuah lampu sorot di ruang yang gelap.

e. Habituasi
Untuk melindungi diri dari atas stimulasi dan gambar yang tidak perlu, dengan selektivitas, pikiran cenderung mengabaikan rangsangan visual yang merupakan bagian dari keseharian seseorang, aktifitas kebiasaan . Ketika Anda berjalan atau pergi ke sekolah atau bekerja dengan cara yang sama setiap hari, otak Anda tidak benar-benar melihat pemandangan di sepanjang rute Anda. Orang suka melakukan perjalanan ke daerah-daerah baru karena mendapat gambar pengalaman dalam tempat yang tidak familiar yang seringkali mencolok dan menarik. Namun jika terdapat rangsangan berlebihan, terutama jika budaya jauh berbeda dari apa yang telah ditinggalkan, dapat menyebabkan fenomena yang disebut gegar budaya (culture shock). Seseorang bisa tumbuh lekas marah dan lelah jika disajikan terlalu banyak sensasi visual bagi otak untuk menyaring.
Umumnya, kita bersikap bertentangan tentang rangsangan visual. Di satu sisi, kita menikmati pengalaman baru. Di sisi lain, kita tidak menikmati terlalu banyak dari mereka. Salah satu cara untuk mencegah pikiran Anda dari berpikir biasa adalah terus-menerus mencari cara baru untuk berpikir tentang objek atau peristiwa biasa. Melatih pikiran kreatif menyiapkan pikiran Anda untuk berpikir secara aktif mengenai gambar baru saat Anda melihat mereka.

f. Salience
Suatu rangsangan akan dilihat “lebih” jika memiliki makna bagi individu. Jika Anda baru saja bertemu dengan seseorang yang Anda sukai yang makanan favoritnya dari India, setiap kali Anda mencium bau kari atau mendengar orang lain berbicara tentang negara tersebut,Anda akan diingatkan pada orang itu. Seseorang yang lapar akan mengingat aroma makanan yang berasal dari jendela yang terbuka. Seorang ahli biologi yang terlatih akan melihat bagian yang lebih dalam di bawah mikroskop daripada rata-rata orang; individu juga dapat melihat semua yang ada di bawah mikroskop, tetapi apa yang ahli biologi lakukan dalam melihat secara sadar diproses dalam pikiran secara lebih dalam.

g. Disonansi
Mencoba membaca sambil mendengarkan televisi atau stereo keras di ruangan yang sama adalah sulit karena pikiran benar-benar hanya dapat berkonsentrasi pada satu kegiatan atau yang lain. Konsentrasi terbatas pada satu kegiatan pada satu waktu. Program televisi yang menggabungkan kata-kata lisan dan tertulis, banyak gambar, dan musik menanggung risiko visual menciptakan pesan bahwa penonton tidak bisa memahami karena semua format yang bersaing.
Sebuah contoh klasik dari disonansi berasal dari jaringan kabel CNN, yang diproduksi pada Agustus 2001 versi baru dari tahun 1982 mengenai pokok “Headline News.” Kritikus televisi di seluruh negeri telah menyuarakan pendapat negatif mereka tentang format baru karena semua bit informasi yang saling bersaing. Satu penyiar berbicara di depan kamera atau sebagai voice-over, di sisi lain ada perpindahan gambar, grafik dengan judul, rincian saham, laporan cuaca, berita yang mengupdate berita kegiatan, dan logo periklanan, semua dalam batas-batas layar televisi.
Namun, banyak pengamat memuji hal ini dengan apa yang telah disebut sebagai ” sesuatu yang lebih baru atau hipperlook”. Selain itu, jika ada sebuah ruangan yang terlalu panas atau terlalu dingin, jika seseorang sedang berbicara kepada Anda, jika ada masalah pribadi yang tidak dapat Anda berhenti pikirkan, atau terlalu banyak tanda jalan iklan yang bersaing untuk menarik perhatian Anda di jalan raya, Anda akan merasa sulit untuk berkonsentrasi pada pesan visual.

h. Budaya
Sebagai manifestasi dari cara orang bertindak, berbicara, berpakaian, makan, minum, berperilaku sosial, dan praktik keyakinan agama mereka, pengaruh budaya memiliki dampak yang sangat besar pada persepsi visual. Ikon agama, negara bagian dan bendera negara, T-shirt desain, dan model rambut semua memiliki makna individu dan budaya. Jika Anda menyadari tanda-tanda yang merupakan bagian dari budaya tertentu (seperti yang disajikan pada bagian semiotika), Anda juga akan memahami beberapa alasan yang mendasari di balik penggunaannya. Budaya tidak hanya mengenai konsep negara perbatasan atau ide kelas tinggi atau kelas atas. Budaya mencakup etnis, situasi ekonomi, tempat kerja, jenis kelamin, umur, orientasi seksual, fisik, lokasi geografis, dan banyak aspek lain dari kehidupan seseorang. Franc Boas, seorang pemimpin bersejarah di bidang antropologi, dalam bukunya “Anthropology and Modern Life” menjelaskan bahwa kebudayaan adalah “komunitas kehidupan emosional yang meningkat dari kebiasaan sehari-hari kita”. Boas berpikir bahwa budaya lebih memengaruhi orang-orang yang hidup dalam budaya itu.

i. Kata
Meskipun kita melihat dengan mata kita, untuk sebagian besar pikiran sadar kita dibingkai sebagai kata-kata. Akibatnya, kata-kata, seperti kemampuan memori dan budaya, sangat memengaruhi pemahaman kita dan selanjutnya ingatan jangka panjang ditengahi langsung atau gambar. Salah satu bentuk komunikasi terkuat adalah ketika kata-kata dan gambar digabungkan dalam proporsi yang sama.
C. Melihat dengan jelas adalah aktifitas manusia
Semiotika dan pendekatan kognitif komunikasi visual menyatakan bahwa pikiran manusia adalah organisme hidup dan jauh lebih rumit dimana ilmu pengetahuan mungkin tidak sepenuhnya mengerti. Tapi berarti koneksi antara apa yang orang lihat dan bagaimana mereka menggunakan gambar-gambar tersebut muncul ketika proses mental dipandang sebagai manusia bukan suatu proses mekanis.

D. Hubungan Teori Dasar Komunikasi Visual dengan Teknologi Pendidikan
Dalam kurikulum dan teknologi pendidikan, seorang teknolog pendidikan dalam merancang pembelajaran memerlukan ilmu mengenai tanda yang terdapat dalam semiotika, membutuhkan teori gestalt dalam menampilkan gambar sebagai media penyampaian pesan, memerlukan ilmu yang mendukung proses penyebaran informasi maupun teori-teori dasar lain dari komunikasi visual agar pesan yang disampaikan bisa diterima oleh para pelajar.

KESIMPULAN

Komunikasi visual merupakan sebuah rangkaian proses penyampaian kehendak atau maksud tertentu kepada pihak lain dengan penggunaan media penggambaran yang hanya terbaca oleh indera penglihatan. Komunikasi visual mengkombinasikan seni, lambang, tipografi, gambar, desain grafis, ilustrasi, dan warna dalam penyampaiannya.
Persepsi visual adalah kesimpulan yang dibuat dengan menggabungkan semua informasi dikumpulkan oleh organ sensual Anda. Sensasi adalah data mentah. Persepsi visual adalah kesimpulan makna setelah rangsangan visual yang diterima.
Terdapat empat teori yang dibahas yang dibagi menjadi dua kelompok dasar: sensual (gestalt dan konstruksitivisme) danperseptual (semiotika dan kognitif).
Dalam kurikulum dan teknologi pendidikan, seorang teknolog pendidikan dalam merancang pembelajaran memerlukan ilmu mengenai tanda yang terdapat dalam semiotika, memerlukan ilmu yang mendukung proses penyebaran informasi maupun teori-teori dasar lain dari komunikasi visual agar pesan yang disampaikan bisa diterima oleh para pelajar.

Sumber : http://sadidadalila.wordpress.com/2010/03/21/teori-dasar-komunikasi-visual/
Tags : Komunikasi Visual Pengertian Komunikasi Visual Viskom Mata kuliah Komunikasi Visual
Baca Selengkapnya..

Friday, July 20, 2012

Teknik-teknik Seni Rupa

TEKNIK DAN BAHAN BERKARYA SENI RUPA TERAPAN


Teknik dan Bahan Karya Seni Kriya:

Ada beberapa teknik pembuatan benda-benda kriya yang disesuaikan dengan bahan. Alat dan cara yang digunakan antara lain cor atau tuang, mengukir, membatik, menganyam, menenun, dan membentuk.

1. Teknik cor (cetak tuang)
Ketika kebudayaan perunggu mulai masuk ke Indonesia, maka mulai dikenal teknik pengolahan perunggu. Terdapat beberapa benda kriya dari bahan perunggu seperti gendering perunggu, kapak, bejana, dan perhiasan.
Teknik cetak pada waktu itu ada dua macam:

• Teknik Tuang Berulang (bivalve)

Teknik bivalve disebut juga teknik menuang berulang kali karena menggunakan dua keeping cetakan terbuat
dari batu dan dapat dipakai berulang kali sesuai dengan kebutuhan (bi berarti dua danva lve berarti kepingan). Teknik ini digunakan untuk mencetak benda-benda yang sederhana baik bentuk maupun hiasannya.

• Teknik Tuang Sekali Pakai (A Cire Perdue)

Teknik a cire perdue dibuat untuk membuat benda perunggu yang bentuk dan hiasannya lebih rumit, seperti arca dan patung perunggu. Teknik ini diawali dengan membuat model dari tanah liat, selanjutnya dilapisi lilin, lalu ditutup lagi dengan tanah liat, kemudian dibakar untuk mengeluarkan lilin sehingga terjadilah rongga, sehingga perunggu dapat dituang ke dalamnya. Setelah dingin cetakan tanah liat dapat dipecah sehingga diperoleh benda perunggu yang diinginkan.
Disamping teknik cor ada juga teknik menempa yang bahan-bahannya berasal dari perunggu, tembaga, kuningan, perak, dan emas. Bahan tersebut dapat dibuat menjadi benda-benda seni kerajinan, seperti keris, piring, teko, dan tempat lilin. Saat ini banyak terdapat sentra-sentra kerajinan cor logam seperti kerajinan perak. Tempat-tempat terkenal itu antara lain kerajinan perak di Kota Gede Yogyakarta dan kerajinan kuningan yang terdapat di Juwana dan Mojokerto.

2. Teknik Ukir

Alam Nusantara dengan hutan tropisnya yang kaya menjadi penghasil kayu yang bisa dipakai sebagai bahan dasar seni ukir kayu. Mengukir adalah kegiatan menggores, memahat, dan menoreh pola pada permukaan benda yang diukir.
Di Indonesia, karya ukir sudah dikenal sejak zaman batu muda. Pada masa itu banyak peralatan yang dibuat dari batu seperti perkakas rumah tangga dan benda-benda dari gerabah atau kayu. Benda- benda itu diberi ukiran bermotif geometris, seperti tumpal, lingkaran, garis, swastika, zig zag, dan segitiga. Umumnya ukiran tersebut selain sebagai hiasan juga mengandung makna simbolis dan religius.
Dilihat dari jenisnya, ada beberapa jenis ukiran antara lain ukiran tembus (krawangan), ukiran rendah, Ukiran tinggi (timbul), dan ukiran utuh. Karya seni ukir memiliki macam-macam fungsi antara lain:
Fungsi hias, yaitu ukiran yang dibuat semata-mata sebagai hiasan dan tidak memiliki makna tertentu.
Fungsi magis, yaitu ukiran yang mengandung simbol-simbol tertentu dan berfungsi sebagai benda magis berkaitan dengan kepercayaan dan spiritual.
Fungsi simbolik, yaitu ukiran tradisional yang selain sebagai hiasan juga berfungsi menyimbolkan hal tertentu yang berhubungan dengan spiritual.
Fungsi konstruksi, yaitu ukiran yang selain sebagai hiasan juga berfungsi sebagai pendukung sebuah bangunan. Fungsi ekonomis, yaitu ukiran yang berfungsi untuk menambah nilai jual suatu benda.

3. Teknik membatik

Kerajinan batik telah dikenal lama di Nusantara. Akan tetapi kemunculannya belum diketahui secara pasti. Batik merupakan karya seni rupa yang umumnya berupa gambar pada kain. Proses pembuatannya adalah dengan cara menambahkan lapisan malam dan kemudian diproses dengan cara tertentu atau melalui beberapa tahapan pewarnaan dan tahapng lo rod yaitu penghilangan malam.

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang dipakai untuk membatik pada umumnya sebagai berikut:
Kain polos, sebagai bahan yang akan diberi motif (gambar). Bahan kain tersebut umumnya berupa kain mori, primissima, prima, blaco, dan baju kaos.
Malam, sebagai bahan untuk membuat motif sekaligus sebagai perintang masuknya warna ke serat kain (benang).
Bahan pewarna, untuk mewarnai kain yaitu naptol dan garam diasol.
Canting dan kuas untuk menorehkan lilin pada kain
Kuas untuk nemboki yaitu menutup malam pada permukaan kain yang lebar.
Sesuai dengan perkembangan zaman, saat ini dikenal beberapa teknik membatik antara lain sebagai berikut:

Batik celup ikat, adalah pembuatan batik tanpa menggunakan malam sebagaia bahan penghalang, akan tetapi menggunakan tali untuk menghalangi masuknya warna ke dalam serat kain. Membatik dengan proses ini disebut batik jumputan.

Batik tulis adalah batik yang dibuat melalui cara memberikan malam dengan menggunakan canting pada motif yang telah digambar pada kain

Batik cap, adalah batik yang dibuat menggunakan alat cap (stempel yang umumnya terbuat dari tembaga) sebagai alat untuk membuat motif sehingga kain tidak perlu digambar terlebih dahulu.

Batik lukis, adalah batik yang dibuat dengan cara melukis. Pada teknik ini seniman bebas menggunakan alat untuk mendapatkan efek-efek tertentu.

Batik modern, adalah batik yang cara pembuatannya bebas, tidak terikat oleh aturan teknik yang ada. Hal tersebut termasuk pemilihan motif dan warna, oleh karena itu pada hasil akhirnya tidak ada motif, bentuk, komposisi, dan pewarnaan yang sama di setiap produknya.

Batik printing, adalah kain yang motifnya seperti batik. Proses pembuatan batik ini tidak menggunakan teknik batik, tetapi dengan teknik sablon (screen printing). Jenis kain ini banyak dipakai untuk kain seragam sekolah.

4. Teknik Anyam

Benda-benda kebutuhan hidup sehari-hari, seperti keranjang, tikar, topi dan lain-lain dibuat dengan teknik anyam. Bahan baku yang digunakan untuk membuat benda-benda anyaman ini berasal dari berbagai tumbuhan yang diambil seratnya, seperti bamboo, palem, rotan, mendong, pandan dan lain-lain.

5. Teknik Tenun

Teknik menenun pada dasarnya hamper sama dengan teknik menganyam, perbedaannya hanya pada alat yang digunakan. Untuk anyaman kita cukup melakukannya dengan tangan (manual) dan hampir tanpa menggunakan alat bantu, sedangkan pada kerajinan menenun kita menggunakan alat yang disebut lungsi dan pakan.

6. Teknik membentuk

Penegertian teknik membentuk di sini yaitu membuat karya seni rupa dengan media tanah liat yang lazim disebut gerabah, tembikar atau keramik. Keramik merupakan karya dari tanah liat yang prosesnya melalui pembakaran sehingga menghasilkan barang yang baru dan jauh berbeda dari bahan mentahnya.

Teknik yang umumnya digunakan pada proses pembuatan keramik diantaranya:

a. Teknik coil (lilit pilin)

b. Teknik tatap batu/pijat jari

c. Teknik slab (lempengan)

Cara pembentukan dengan tangan langsung seperti coil, lempengan atau pijat jari merupakan teknik pembentukan keramik tradisional yang bebas untuk membuat bentuk-bentuk yang diinginkan. Bentuknya tidak selalu simetris. Teknik ini sering dipakai oleh seniman atau para penggemar keramik.

d. Teknik Putar

Teknik pembentukan dengan alat putar dapat menghasilkan banyak bentuk yang simetris (bulat, silindris) dan bervariasi. Cara pembentukan dengan teknik putar ini sering dipakai oleh para pengrajin di sentra-sentara keramik. Pengrajin keramik tradisional biasanya menggunakan alat putar tangan (hand wheel) atau alat putar kaki (kick wheel). Para pengrajin bekerja di atas alat putar dan menghasilkan bentuk- bentuk yang sama seperti gentong, guci dll.

e. Teknik Cetak

Teknik pembentukan dengan cetak dapat memproduksi barang dengan jumlah yang banyak dalam waktu relatif singkat dengan bentuk dan ukuran yang sama pula. Bahan cetakan yang biasa dipakai adalah berupa gips, seperti untuk cetakan berongga, cetakan padat, cetakan jigger maupun cetakan untuk dekorasi tempel. Cara ini digunakan pada pabrik-pabrik keramik dengan produksi massal, seperti alat alat rumah tangga piring, cangkir, mangkok gelas dll
Disamping cara-cara pembentukan diatas, para pengrajin keramik tradisonal dapat membentuk keramik dengan teknik cetak pres, seperti yang dilakukan pengrajin genteng, tegel dinding maupun hiasan dinding dengan berbagai motif seperti binatang atau tumbuh-tumbuhan.

SENI RUPA TRADISIONAL

Seni tradisional adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu kaum/puak/suku/bangsa tertentu. Seni tradisional yang ada di suatu daerah berbeda dengan yang ada di daerah lain, meski pun tidak menutup kemungkinan adanya seni tradisional yang mirip antara dua daerah yang berdekatan.

Ciri-ciri
Penciptaannya selalu berdasarkan pada filosofi sebuah aktivitas dalam suatu budaya, bisa berupa aktivitas religius maupun seremonial.
Terikat dengan pakem-pakem tertentu.
Contoh
Wayang kulit, wayang golek, wayang beber, ornamen pada rumah-rumah tradisional di tiap daerah, batik, songket, dan lain-lain.

SENI RUPA MODERN

Seni rupa modern adalah seni rupa yang tidak terbatas pada kebudayaan suatu adat atau daerah, namun tetap berdasarkan sebuah filosofi dan aliran-aliran seni rupa.

Ciri-ciri
Konsep penciptaannya tetap berbasis pada sebuah filosofi , tetapi jangkauan penjabaran visualisasinya tidak terbatas.
Tidak terikat pada pakem-pakem tertentu.

Contoh
Lukisan-lukisan karya Raden Saleh Syarif Bustaman, Basuki Abdullah, dan pelukis era modern lainnya.

Seniman
Raden Saleh Syarif Bustaman, Abdulah Sr, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wakidi, Wahid Somantri, Agus Jaya Suminta, S. Sujoyono, Ramli, Abdul Salam, Otto Jaya S, Tutur, dan Emira Sunarsa.

SENI RUPA KONTEMPORER

Seni Kontemporer adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh dampak modernisasi. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini. Jadi seni kontemporer adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Misalnya lukisan yang tidak lagi terikat pada Rennaissance. Begitu pula dengan tarian, lebih kreatif dan modern.

Ciri-ciri
Tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman.
Tidak adanya sekat antara berbagai disiplin seni, alias meleburnya batas-batas antara seni lukis, patung, grafis, kriya, teater, tari, musik, hingga aksi politik.
Contoh
Karya-karya happening art, karya-karya Christo dan berbagai karya enviromental art.

Seniman
Gregorius Sidharta, Christo, dan Saptoadi Nugroho.

Sumber : senirupabogor.blogspot.com ahmad-anshari.blogspot.com

Tags : Teknik Senirupa Teknik seni rupa modern teknik senirupa kontenporer Teknik seni rupa tradisional Seni Rupa Modern Senirupa Tradisional Senirupa Kontenporer
Teknik Senirupa terapan Baca Selengkapnya..