Showing posts with label BIOGRAFI. Show all posts
Showing posts with label BIOGRAFI. Show all posts

Tuesday, September 13, 2016

Gotot Prakoso



Lahir di Padang, Sumatera Barat, Gotot Prakosa menghabiskan seluruh pendidikan awalnya di sekolah Taman Siswa (dari Taman Kanak-kanak hingga menengah) sebelum masuk Sekolah Senirupa Indonesia (1972-1974) lalu menekuni ilmu Sinematografi di Institut Kesenian Jakarta (1978). Seni rupa dan terutama seni lukis adalah pijakan pertamanya sebelum terjun ke film dan kemudian berpengaruh pada fokus karya-karyanya, animasi dan eksperimental.

Sebelum masuk ke IKJ, karya-karya animasi dan eksperimentalnya sudah mendapat penghargaan pada Festival Film Mini yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (1976-1980). Selepas dari pendidikannya di IKJ, pria yang terkenal dengan keramahan sekaligus lugas itu mengabdi sebagai pengajar di almamaternya sambil terus melukis, membuat film, dan menulis buku tentang film, wayang, dan fiksi. Ia sempat mengikuti workshop animasi di Filipina, Swiss, dan Jerman. Karya-karya animasi dan ekperimentalnya (film dan video) antara 1974 - 1984 menjadi koleksi yang dipreservasi oleh National Library of Australia.

Selain aktivitas sebagai akademisi dan seniman, Gotot juga terlibat aktif berorganisasi: Wakil Ketua Bidang Humas dan Luar Negeri KFT (1992-1995), Anggota ASIFA (Association Internationale du Film d'Animation, Perancis) dan Presiden ASIFA sejak 2006, Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (2002-2006), Direktur Yayasan Seni Visual Indonesia (2003-...), dan masih banyak lagi. Secara rutin menjadi juri di berbagai festival film dan pembicara di berbagai seminar tentang film. Tahun 2004, Gotot menyelesaikan pendidikan master di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Pada 2008 terpilih menjadi Dekan FFTV-IKJ untuk periode 2008-2012. Pada tahun yang sama dengan sebuah film dokumenter musikal berjudul Kantata Takwa dirilis. Film karya Gotot Prakorsa bersama Eros Djarot ini akhirnya dapat dinikmati publik setelah 17 tahun sejak di Konser Akbar Kantata Takwa tahun 1991.


Representasi penting pada genre film eksperimental Indonesia.

“Kita putar sekaligus untuk mengenang sang sutradara (Gotot Prakosa) yang baru-baru ini meninggal. Film ini sangat fenomenal. Tak hanya berbujet besar pada saat itu karena menghabiskan 600 rol film dan baru selesai setelah tiga kali ganti presiden,” kata Bambang Supriyadi, Wakil Dekan Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta.

Bambang perlu menegaskan hal itu kepada publik di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, akhir Juni lalu, saat pemutaran film Kantata Takwa untuk mengenang kepergian Gotot Prakosa. Acara ini sekaligus ulang tahun ke-45 Institut Kesenian Jakarta.

Bambang adalah salah satu orang yang terlibat dalam pembuatan Kantata Takwa.Film ini  merupakan karya mendiang Gotot Prakosa bersama Eros Djarot. Film yang sarat nilai sejarah ini tercatat sebagai 10 film dokumenter musik terbaik versi majalahRolling Stones Indonesia.

Gotot Prakosa adalah sineas film eksperimental Indonesia berbakat. Karena itu, sebagai bentuk penghormatan atas pencapaian dan karya-karyanya, pekan lalu Kineforum mengadakan pemutaran film program fokus. Ya, film-film eksperimental terbaik Gotot dalam film seluloid seperti Kantata Takwa (2008), Dialog (1975), Meta-Meta (1975), Impuls (1975), Jalur (1977), dan  A=Absolut, Z=Zen (1983).

Jika dicermati, tak banyak representasi film eksperimental di Indonesia. Namun, jenis film ini berhasil terkenal berkat keberagaman yang kaya serta kelenturannya yang tinggi. Menurut kritikus film Marselli Sumarmo, Gotot adalah representasi penting pada genre film eksperimental Indonesia.

Gotot menggagas pendirian Kineforum — dulu Art Sinema — saat menjabat sebagai Komite Film Dewan Kesenian Jakarta 2002-2006. Kala itu ia merasa perlu dibentuk wadah atau media khusus pemutaran film alternatif, selain yang berorientasi sebagai dagangan semata.

Film-film yang diputar di Kineforum adalah beberapa karya-karya lama Gotot hasil kerja sama dengan seniman Indonesia ataupun Eropa.

Lingkup karya-karya Gotot meliputi spektrum yang luas: seni lukis, multimedia, radio, dan surat kabar. Dengan pengalaman yang kaya dan beragam, ia juga menciptakan film animasi hingga film eksperimental.

Kantata Takwa adalah satu dari film-film terakhir yang Gotot selesaikan. Film ini merupakan hasil kolaborasi keduanya dengan Eros Djarot. Dialog, Impuls, Meta-Metaadalah bagian kelompok pertama karya Gotot, berbentuk abstrak yang desain warnanya dibentuk menggunakan film seluloid 16 mm sebagai medium artistik baru. Seni lukis tercemin kuat memengaruhi kelompok film ini.

A=Absolut, Z=Zen adalah film karya Gotot bergenre animasi. Film ini menggunaan teknik kartun klasik dengan sosok dan struktur bergerak. Gotot memadukan foto-foto yang difilmkan yang kemudian di sebagian sekuennya membentuk gerak yang dinamis.

Penanganan eksperimental tampak jelas pada gambar-gambar audiovisual yang digunakan. Bidikan seperti candi, patung Buddha, hewan, samurai diperlihatkan dalam sekuen yang berubah-ubah, tidak terstruktur secara dramaturgis. Ini tergolong animasi eksperimental.

Jalur termasuk kelompok ketiga. Bidikan nyata (real shot) menjadi ciri menonjol film ini. Penggambaran perjalanan mengendarai mobil dari perspektif pengemudi, dikemas melalui gerakan cepat, overexposure, dan gerakan kamera tiba-tiba. Gambar terdistorsi, sehingga mata tak lagi mengenali benda-benda nyata yang difilmkan.

Karier film Gotot dimulai pada 1974. Setelah lulus pendidikan tinggi seni lukis di Yogyakarta, ia melanjutkan studi ke Insitut Kesenian Jakarta, Fakultas Film dan Televisi, hingga 1981.

Dalam membuat film,  Gotot tak hanya menggunakan medium film. Ia juga mencari kaitan antara seni rupa dan film. Seni rupa, terutama seni lukis, adalah pijakan pertamanya sebelum terjun ke film. Seni rupa begitu kuat dan di kemudian hari memengaruhi karya film animasi dan eksperimental Gotot.

Minimnya apresiasi dan partisipasi masyarakat Indonesia tak lantas membuat film eksperimental terbuang. Film jenis ini justru dapat diterima sebagai sub-kategori film oleh para profesional dan merupakan salah satu bentuk kesenian independen, ataupun bagi perkembangan bahasa dan estetika film.[*]

Gotot Prakosa: Kritikus Itu Bukan Sekedar Reporter

Gotot Prakosa adalah praktisi senior film Indonesia. Dari tangannya lahir film yang disebut-sebut sebagai ‘film Indonesia terbaik sepanjang zaman’, judulnya Tjoet Nja Dhien, bikinan tahun 1986. Ia sudah bekerja dengan banyak sekali sosok kunci perfilman nasional, seperti Teguh Karya, Eros Djarot, dan Slamet Rahardjo. Saat ini ia aktif sebagai seniman, ketua ANIMA (Asosiasi Film Animasi Indonesia), board member ASIFA (Asosiasi Film Animasi Internasional) untuk wilayah Asia Tenggara, serta pengajar di Institut Kesenian Jakarta.

Gotot Prakosa bermurah hati meladeni saya untuk mengobrol sebentar di sela-sela acara peringatan 100 tahun Akira Kurosawa di Taman Budaya Yogyakarta. Saat obrolan ini berlangsung, Rashomon versi dubbing tengah diputar di ruang pemutaran, tentu saja dengan penonton kurang dari sepuluh orang, sisanya duduk manis di sebelah meja prasmanan.

Sekarang ini ramai beredar anggapan kalau semua orang itu pada dasarnya kritikus. Mereka bisa bicara tentang film apa saja yang mereka tonton lewat banyak sekali media. Anda setuju?

Tidak apa-apa. Pada dasarnya media itu kan unsur yang demokratis meskipun ia tidak bisa bertindak sendiri, butuh manusia untuk memberdayakan kapabilitasnya. Nah, kalau manusia menggunakan media untuk menjadi kritikus, bagi saya boleh-boleh saja. Karena sebenarnya, orang Indonesia itu tidak punya tradisi menjadi kritikus. Makanya, dipakainya media untuk mengkritik film itu akan positif dalam artian orang akan selalu menuntut lebih baik dari apa yang mereka tonton. Orang Indonesia itu kan tumbuh dengan sinetron, dulu sebelum ada sinetron, ada telenovela yang meskipun impor, tapi tetap tayang dalam bahasa Indonesia (dubbing), sampai-sampai banyak orang menganggap kalau si Talia, bintang televisi Venezuela itu, orang asli Indonesia. Tradisi kritis itu penting, meskipun hanya dengan menulis sendiri. Dulu saya memulai dengan cara seperti itu, meskipun dulu belum ada media, website, blog, dan sebagainya. Saya menulis lalu saya simpan, suatu haru saya kumpulkan dan jadi sebuah buku. Waktu itu status saya bukan ilmuwan, tapi tak apa, semua orang punya hak untuk itu.

Seberapa penting bagi kritikus untuk belajar film secara formal?

Unsur formal dalam mempelajari film itu penting. Sebab tanpa belajar film, anda hanya akan jadi reporter, orang yang melaporkan apa yang ia lihat saja. Saya tidak mengatakan kalau reporter itu tidak penting, reporter itu dibutuhkan. Tapi untuk menjadi seorang kritikus, anda tidak hanya sekedar melaporkan, tapi juga memberi nilai. Untuk memberi nilai, anda harus punya bahan. Untuk punya bahan, anda harus belajar. Unsur formal dalam belajar film itu ya meliputi struktur penulisan dan dasar-dasar penilaian terhadap film itu sendiri. Kalau dulu, orang biasanya mengambil angle sastra, karena pada dasarnya tradisi kritik itu berasal dari seni sastra.

Sejauh mana sebaiknya seorang kritikus mengenal kesenian yang lain, atau paradigma sosial tertentu sebagai bekal untuk menilai film?

Itu tergantung pada dasar orang itu. Ada yang orang mendekati film dengan bekal pengetahuan sosial, misalnya (Siegfried) Kracauer dan (André) Bazin. Mereka memahami masalah sosial, lalu melihat film dan mempertanyakan, apakah masalah sosial yang ada tercermin dalam film tersebut? Bisa juga dari sudut pandang lain, misalnya dari hubungan dengan kesenian yang lain, atau bahkan silat!

Silat?

Iya, misalnya seorang ahli silat mengkritisi film silat, jurusnya salah atau gerakannya kurang. Itu kan juga bisa jadi unsur kritik tersendiri, ahli silat merangkap kritikus film (tertawa). Proses kritik kan bisa terjadi karena seseorang punya bahan.

Etiskah seorang kritikus yang setiap hari pindah-pindah angle? Misalnya hari ini menilai film secara ideologis, besok secara fotografis, besoknya lagi secara silat, dan seterusnya?

Menurut saya itu tidak ada larangannya.

Secara akademis?

Oh, bukan. Maksud saya tidak ada larangannya selama itu kritik yang dilancarkan secara populis. Tapi kalau secara kajian akan lain lagi ceritanya. Kalau misalnya seorang David Bordwell pindah-pindah angle, ya dimarahin dia sama penggemarnya. Jangankan David Bordwell, orang seperti saya saja kalau menulis film seenaknya, pasti banyak yang akan marah. Orang mengenal saya lewat tulisan-tulisan film dan kaitannya dengan seni rupa, kalau tiba-tiba saya beralih menulis film hiburan saja, orang pasti bertanya-tanya. Sama dengan kalau saya bikin film, orang sudah memahami saya sebagai pembuat film yang nyentrik, rela menghabiskan waktu delapan belas sampai dua puluh tahun untuk bikin satu film. Kalau tiba-tiba saya terjun ke dunia sinetron, seluruh dunia akan mencaci “Ngapain lu?”’.

Kalau di Institut Kesenian Jakarta, jurusan Kajian Film mengarahkan alumninya kemana? Apakah kritikus? Aktivis festival? Perusahaan film?

Kajian Film di IKJ berkonsentrasi pada studi manajemen film, apa yang harus dilakukan ketika sebuah film sudah jadi. Di-festival-kan, diparkir di sinematek, dibuatkan buku, yang jadi kritikus juga ada. Kalau mau jadi kritikus, mahasiswa harus menulis delapan artikel film yang terpublikasikan ke khalayak lewat media-media yang sudah kami beri standar sendiri.

Untuk kritik film di Indonesia, menurut anda apakah sudah bagus, atau belum bagus, atau tidak ada bagus-bagusnya sama sekali?

Jujur, saya belum menemukan kritikus Indonesia yang levelnya outstanding, meskipun ada beberapa yang sangat baik yang biasanya berasal dari generasi sebelumnya, seperti Pak JB (Kristanto) dan Pak Dan (Suwaryono). Kalau seni rupa punya Pak Saneto Yuliman. Film punya Pak Dan Suwaryono, mereka itu ada di kelas yang sama.

Kalau generasi sekarang? Setidaknya kalau kita menjadikan keberimbangan kritik dengan industri sebagai parameter?

Bagi saya belum ada yang begitu mendalam. Disisi lain, saya menilai Eric (Sasono) sudah cukup sebagai kritikus, dia popular dikalangan anak-anak muda. Kalau pak JB (Kristanto), intensitasnya sangat luar biasa. Tak ada yang mengalahkan Pak JB dalam hal intensitas, dia mengumpulkan data yang lengkap sekali dari dulu sampai sekarang. Katalog Film Indonesia yang ia susun seringkali menjadi acuan, karena itu satu-satunya.

Di era klasik, apakah Indonesia pernah punya kritikus film yang keren banget?

Saya akan menjawab ‘Armijn Pane’ untuk pertanyaan itu, dia biasa menulis tentang film-film Usmar (Ismail) dan angkatan yang segenerasi, biasanya terbit di majalah-majalah kebudayaan. Tulisannya baik sekali. Untuk seni secara umum, ada Pak Sudjojono yang corak tulisannya sangat politis. Sudjojono mengkritik keras karya-karya sineas seperti Usmar, Djajakusuma dan Sjuman Djaya, sebab ia menilai sineas-sineas ini antek komunis karena belajar film di VGIK (sekolah film legendaris di Uni Soviet -red). Padahal sebenarnya tidak juga, saya mengenal Sjuman sebagai orang yang sangat borju, kawin cerai kawin cerai begitu kok. Tidak penting PKI atau bukan, dia seorang humanis. Tapi ada juga filmmaker yang bereaksi keras terhadap kritik. Saya, Eros (Djarot), dan Slamet (Rahardjo) pernah harus menengahi sebuah masalah karena seorang kritikus dan pembuat film mau bunuh-bunuhan saking tingginya tensi. Bagi saya, kalau tidak suka dengan sebuah kritik, silakan dilawan dengan tulisan yang lain.

Kritik film kita itu sifatnya lebih banyak yang bagaimana? Yang ilmiah atau yang reportase?

Lebih banyak yang reportase. Dari tahun tujuh puluhan sampai sekarang, warna kritik kita lebih ke reportase. Orang yang menulis reportase film biasanya sudah berani melabeli diri sebagai kritikus. Di Kompas sendiri (maaf sebut merek -red), belum pernah ada kritikus yang bagus. Mereka hanya sekedar menulis reportase.

Anda orang kesekian yang berkata begitu

Ayo coba sebutkan siapa kalau ada?

Hmm, siapa ya?

Dulu saya pernah marah sekali karena ada tulisan tentang film, An American in Paris kalau tidak salah. Dituliskan bahwa film itu dimulai dengan bunyi gong, lalu kemudian ditafsirkan kesana kemari. Padahal itu kan cuma backsound yang mengiringi logo perusahaan pas film mau mulai. Saya marahnya minta ampun waktu itu, artinya kan, siapapun yang menulis tulisan itu, dia tidak mengerti apa yang dia tulis. Itu kan karena orang itu spirit-nya reportase. Apa yang dia lihat, dia tulis. Jangan-jangan karena ada garis guratan disepanjang film, dia tafsirkan juga guratan itu, padahal itu kan karena umurnya memang sudah tua (tertawa). Jadinya nggak banget aja, begitu. Harusnya pengetahuan kritikus film dan pembuat film itu sama levelnya, sehingga tidak jomplang.

Kritikus film juga harus mengerti proses produksi?

Sebaiknya ia paham. Disitulah pentingnya sekolah-sekolah film di Indonesia, agar supaya kita bisa punya pembuat film yang mengerti kritik film. Karena kalau tidak, kritik dan produksi akan berjalan sendiri-sendiri, tidak saling menggubris. Film Indonesia tidak maju-maju.

Di Indonesia, kita sudah mulai mengendus adanya tendensi menonton kritis, anda setuju? Bagaimana sebaiknya kita menyikapinya?

Ya dan itu sangat baik. Khususnya di Jogja sendiri, pusat dan event kebudayaan begitu banyak, setiap tahun ada festival film berskala internasional. Di Jakarta juga begitu. Nah, ada yang menarik, dulu teman saya Wolfgang Becker (sutradara fim Jerman) datang memutarkan filmnya di Taman Ismail Marzuki, judulnya Goodbye, Lenin! Applaus-nya banyak. Setelah pemutaran, dia keluar jalan-jalan di sekitar TIM, masuk ke warung, tiba-tiba dia menemukan bajakan Goodbye, Lenin! dijual disitu, jadilah dia marah besar. Itu kan tidak etis. Sekitar dua atau tiga tahun lalu, almarhumah Yasmin Ahmad (sutradara film Malaysia) datang ke Jogja, dia plesiran ke jalan Mataram, ketemu bajakan filmnya sendiri. Sontak dia menangis, saya sampai kerepotan menghiburnya. Nah itu kan memalukan buat kita. Tantangan dari menonton film secara kritis di Indonesia lagi-lagi adalah maraknya bajakan, perihal etika. Seorang teman pernah bilang “Motto kota Jogja itu, fotokopian lebih afdhol daripada buku asli”. Ini kan semakin menasbihkan bahwa Jogja secara khusus, Indonesia secara umum, adalah pusat bajakan.

Tapi kan kita punya kepelikan juga, bagaimana memenuhi rasa ingin tahu yang begitu besar sementara sumber daya begitu kecil.

Nah itu dia. Saya rasa kita perlu belajar dari Jepang di era Restorasi Meiji. Waktu itu, orang Jepang membajak apa saja yang bisa mereka temukan dalam rangka mempelajari. Tapi mereka punya batasan waktu. Begitu mereka menguasai apa yang ingin mereka kuasai, semua keran pembajakan harus ditutup sebab telah tiba waktunya memakai yang asli. Nah, bolehlah kita menganalogikan Indonesia dengan Restorasi Meiji, kita tengah belajar banyak sekali hal. Cuma masalahnya saya tidak tahun sampai kapan. Tapi sebaiknya, ketika nanti kita menguasainya, bajakan itu ditiadakan.

geotimes.co.id
filmindonesia.or.id
cinemapoetica.com Baca Selengkapnya..

Sunday, September 11, 2016

Quentin Tarantino


Quentin Tarantino lahir di Knoxville, Tennessee, anak dari Connie McHugh Tarantino Zastoupil, seorang eksekutif produk kesehatan dan perawat yang lahir di Knoxville, dan Tony Tarantino, seorang aktor dan musisi amatir yang lahir di Queens, New York. Ayah Tarantino blasteran Italia dan Amerika, ibunya adalah seorang Irlandia dan juga keturunan dari suku Cherokee. Tarantino dibesarkan ibunya, karena orang tuanya bercerai sebelum ia lahir.
Baca Selengkapnya..

Wednesday, January 27, 2016

Seri Biografi Seniman : Vincent Van Gogh

Vincent van Gogh - Self Portrait, 1887
This world was never meant for one as beautiful as you.


Vincent Willem van Gogh (ucapan Belanda[vɪnˈsɛnt vɑnˈxɔx] ) (30 Maret 1853 – 29 Juli 1890) adalah pelukis pasca-impresionis Belanda. Lukisan-lukisan dan gambar-gambarnya termasuk karya seni yang terbaik, paling terkenal, dan paling mahal di dunia. Van Gogh dianggap sebagai salah satu pelukis terbesar dalam sejarah seni Eropa.
Baca Selengkapnya..

Sunday, November 25, 2012

Fadjar Sidik Maestro Lukis Indonesia



Fadjar Sidik, pria kelahiran Peneleh, Surabaya, 8 Februari 1930 ini, telah berjuang sebagai seorang modernis dalam lingkungan seni lukis Yogyakarta yang kuat mengembangkan paradigma estetik kerakyatan. Dalam lukisan-lukisannya, ia menciptakan bentuk-bentuk abstrak yang disebutnya “desain ekspresif”.

Karya-karyanya telah bergeser dari pokok figuratif ke raut nirmana; dari ruang representasional (pictorial) ke bidang yang cuma asyik mencacah bentuk (picturesque). Dan alasan kehadiran seni lukisnya, katanya, sama saja dengan cap tangan manusia purba yang tertera di dinding gua 20 ribu tahun silam.
Salah satu manifestasi pencapaian bentuk abstrak murni Fadjar Sidik, bisa dilihat dalam lukisannya Dinamika Keruangan (1969). Dalam karyanya ini, ia menampilkan ritme-ritme bentuk dari dua gugusan elemen visual dengan dominan warna hitam dan warna kuning oker. Di sela-sela susunan bentuk terdapat bulatan-bulatan merah yang memberikan aksentuasi seluruh ritme itu, sehingga timbul klimaks yang menetaskan kelegaan.
Jika dalam lukisan ini terdapat bentuk bulan dan sabit, hal itu sama sekali bukan representasi religius yang berkaitan dengan nilai simbolik bulan penuh dan bulan sabit. Demikian juga dengan gugusan bentuk-bentuk segi empat dan geliat sulur garis hitam, bukan abstraksi bentuk ular dan sarangnya yang mempunyai nilai magis simbolik. Pelukis lebih menekankan bagaimana dalam kanvasnya hadir ekspresi visual yang membuat dinamika, ketegangan, ritme, keseimbangan, atau karakter-karakter lain.
Kemudian mengenai judul-judul lukisan abstraknya, secara semantik, kata-kata dalam judul mempunyai koherensi yang kuat dengan karakter bentuk-bentuk karyanya. Seperti pada serial “Dinamika Keruangan”, “Interior”, “Fantasi Lurik”, “Metropol”, serta “Sangkala”, walaupun tidak memiliki muatan nilai-nilai literer atau sosial, namun tetap mencerminkan karakter-karakter visual yang mempunyai koherensi dengan prinsip-prinsip visual yang mengasosiasikan bentuk-bentuk pada serial judul-judul itu.
Dalam perjalanan kesenian Fadjar Sidik, ada dua unsur kuat yang memberikan warna pengaruh. Unsur pertama adalah pemikiran-pemikiran Barat yang terbentuk lewat pendididkan formal dan suasana kultural dalam kehidupan masa kecil. Dan unsur kedua adalah pendidikan sanggar, yang memberikan dasar-dasar penguasaan teknik dan pemahaman atas sikap serta etos kerja seniman.
Fadjar Sidik lahir dari keluarga yang kental dengan kultur Islam. Ayahnya yaitu M. Sidik adalah seorang pengikut Muhammadiyah yang aktif, dan ibunya, yaitu Dewi Maryam adalah pengurus Aisiyah. Namun demikian, keluarga yang kental dengan kultur Islam ini kena imbas semangat nasionalisme dari tokoh-tokoh pergerakan nasional yang banyak lahir di daerahnya.
Tahun 1942 Fadjar Sidik dikirim ke HIS Muhammadiyah Ngupasan Yogyakarta. Harapannya agar ia berinteraksi dengan kemajuan pendidikan Barat sekaligus nasionalis dan religius seperti tokoh-tokoh pergerakan nasional yang dikagumi ayahnya. Tapi di HIS, Fadjar justru sangat antusias dengan pelajaran menggambar.
Minat pada seni lukis semakin mendapat suasana yang kondusif lewat bacaan-bacaan. Di tempat pemondokannya, yaitu di Kauman, rumah keluarga H. Mochtar seorang pegawai Raad van Agama, ia dapat menyerap bacaan-bacaan dari majalah Orient dan Djawa Baroe yang menjadi langganan keluarga itu.
Kemudian pada masa sekolah di SMA tahun 1949, Fadjar Sidik telah mulai mencoba membuat sketsa dan vignette yang dikirim ke majalah-majalah kebudayaan, dan dimuat. Hal ini selain memberikan kepercayaan pada bakat melukisnya, juga membulatkan wacana pada kebudayaan yang berorientasi pada modernisme Barat.
Tahun 1952 Fadjar Sidik meneruskan kuliah di Sastra UGM. Jurusan itu telah menyuburkan minatnya terhadap kebudayaan Barat. Selanjutnya untuk menyalurkan hasrat melukisnya, ia masuk ASRI bagian V, yaitu guru gambar. Tapi di situ pun Fadjar lebih banyak porsi teori. Lalu ia mendatangi Sudjojono untuk belajar, tapi ia disarankan ke Sanggar Pelukis Rakyat. Di sanggar inilah ia dapat menguasai sketsa menjadi bahasa visualnya.
Tahun 1957, pada konggres Lekra di Solo, Sanggar Pelukis Rakyat resmi menjadi underbrow PKI. Fadjar Sidik yang telah terisi dengan berbagai konstruk pemikiran Barat, meninggalkan sanggar itu dan meneruskan petualangan estetiknya ke Bali.
Di Bali Fadjar Sidik dapat menemukan gairah baru dalam berkarya. Di sini objek-objek artistik melimpah, komunitas seniman tersebar, dan pendukung komersial kuat, hingga menyuburkan kreativitas. Sketsa-sketsa Fadjar Sidik pun mengalir deras merekam aktivitas kehidupan sehari-hari yang unik.
Akan tetapi pembangunan pariwisata telah mengubah wajah Bali. Dengan cepat, gedung, listrik, mobil, jalan aspal, radio tape, alat-alat plastik mengubah Bali yang natural menjadi artificial. Fadjar Sidik pun gelisah karena kehilangan objek-objek yang artistik dan puitis.
Menurut Fadjar Sidik, hasil industri itu memang banyak yang bentuknya indah dan enak dilihat, tapi tidak untuk dilukis. Mereka perlu rusak dulu baru bisa dilukis atau dibuat patung. Dan dalam melukis ini, ia mengaku tidak sampai hati.
Ia yang kecewa karena kehilangan dunia idealnya, akhirnya memutuskan, daripada menggambar obyek-obyek hasil kreasi para desainer industri itu, lebih baik menciptakan bentuk sendiri saja untuk keperluan ekspresi murni. Dan terjadilah bentuk-bentuk abstrak ciptaannya.
Tahun 1961, Abas Alibasyah mengajak Fadjar Sidik pulang ke Yogyakarta untuk mengajar di ASRI. Di situlah fadjar Sidik semakin kuat mengeksplorasi bentuk-bentuk abstrak dalam karyanya. Bentuk-bentuk yang ia ciptakan sendiri, tanpa merepresentasikan bentuk-bentuk apapun di alam itu, merupakan sikap yang purna dari pencarian dan pemberontakan estetiknya.
Tapi tak sejalan dengan proses pencarian kemurniannya, penghargaan terhadap lukisannya cukup memprihatinkan. Pernah, seorang art dealer membeli sejumlah besar lukisannya dengan harga murah. Dan yang memprihatinkan lagi, penggemarnya di Indonesia sangat sedikit , dan malah banyak di luar negeri.
Fadjar Sidik yang meninggal dunia pada 18 Januari 2004 di rumahnya Yogyakarta, terbukti selama 40 tahun lebih telah mempertahankan keyakinan estetik abstraknya secara kuat. Ia telah menjadi agen perubahan dalam seni lukis modern sekaligus pelopor seni lukis abstrak di Indonesia. (yunisa)
Sumber:
Wawancara Oei Hong Djien, oleh Muhidin M Dahlan.
M. Dwi Marianto dan M. Agus Burhan, Fadjar Sidik, Dinamika bentuk dan ruang, Jakarta: Rupa-rupa seni, 2002.
Hendro Wiyanto, Jejak Modernisme Fadjar Sidik dalam http://majalah.tempointeraktif.com.

http://www.galeri-nasional.or.id.

Baca Selengkapnya..

But Muchtar


Lahir di Bandung, 20 Desember 1930, dan meninggal di kota yang sarna, 31 Juni 1993. Menyelesaikan pendidikan di Departemen Seni Rupa, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia di Bandung (ITB) (1952-1959), Rhode Island School of Design, Provedence, R.I. USA (1960-1961), Art Students League of New York, N.Y., USA (1961), Sculpture Center of New York, N.Y, USA (1961-1962), Bedi-Rasi Art Foundry, New York, N.Y., USA (1962), Research Fellow, Masschusetts Institut of Technology, USA (1962-2963).

Berbagai jabatan pernah dipangkunya antara lain: Ketua Departemen Seni Rupa ITB (1975-1977), Sekretaris ITB bidang Komunikasi dan Kebudayaan (1977-1980), Sekretaris Rektor Bidang Komunikasi dan Kebudayaan, ITB (1980-1984), dan sejak tahun 1984 menjabat Rektor Institut Seni Indonesia.

Terlibat aktif dalam berbagai kegiatan, baik nasional maupun internasional, antara lain: sebagai juri sayembara Arsitektur Gedung Kotamadya Bandung (1979), Panitia Juri Sayembara Monumen Proklamator RI, Jakarta (1980), Ketua Design Canter Pavilion Indonesia, EXPO’86, Vancouver, Canada (1985).

Kertas kerja Acces towarel Art Activities disampaikan dalam Simposium “On Enviromental Design” yang diselenggarakan oleh International Association of Artst, Manila, Philippines (1982). Pendidikan Seni Patung dan Seni Rupa di Indonesia kertas ketua dalam rangka Third Asean Sculpture Symposium di Jakarta (1984), A Search for New Identity, makalah “Symposium Art and Development” Titofrad-Yugoslavia (1985). Aktif berpameran, baik tunggal maupun bersama, sejak tahun 1953 hingga sekarang, berbagai kota di Indonesia maupun mancanegara. Sumbangan karya patung monumentalnya di Jakarta antara lain: Relief Kayu di Wisma Bahari, Tanjung Priok (1964), Relief Metal di Gedung DPR/MPR, Jakarta (1970), Relief Metal di Gedung DPA, Jakarta (1982).
Baca Selengkapnya..

Mochtar Apin


Senirupawan, lahir di Bukit Tinggi, Padang Panjang, Sumatera Barat, 23 Desember 1923 dan meninggal di Bandung, 1 Januari 1994. Seorang putera dari seorang pegawai kereta api. Ia mendapatkan pendidikan luas, yang pada tahun 1948 mencoba meraih gelar sarjana sastra di Universitas Indonesia di Jakarta. Walaupun berbakat dalam puisi serta menulis, melukis menjadi gairahnya sementara ia masih di sekolah (1939-1940). Lulus Seni Rupa ITB, Bandung (1951), Seni Rupa dan Kria, Amsterdam (1952), Ecole Nationale Superieure des Beaux Art, Paris (1957), dan Deutsche Akademie der Kunste, Berlin (Jerman) tahun 1958. Salah seorang pendiri organisasi budaya Gelanggang. Sejak tahun 1950 sampai akhir hayatnya, aktif mengikuti pameran bersama ataupun tunggal.

Di bawah pemerintahan Jepang, seperti begitu banyak seniman kerabatnya, ia bekerja di Pusat Kebudayaan. Pada tahun 1946 ia aktif sebagai editor sebuah jurnal, Nusantara, dan pada tahun 1947 ia bekerja untuk majalah berkala Pembangunan dan Gema Suasana, sementara juga memproduksi ilustrasi-ilustrasi untuk organisasi penerbitan pemerintah, Balai Pustaka. Dengan berdirinya Sekolah Seni Rupa di Bandung pada tahun 1948, Apin ditemukan oleh Admiral, direktur pertamanya, dan menjadi seorang teman dekat serta mahasiswa dari Ries Mulder, pelukis Belanda serta pengajar utarna di Bandung. Pada tahun 1951 ia pergi ke Holland atas beasiswa dari STICUSA di mana ia bekerja dan berpameran selama dua tahun. Pada 1953, ia pergi ke Paris untuk belajar selama empat tahun di Ecole Nationale Superieure des Beaux-Arts, menghabiskan waktu cukup banyak pada seni grafis serta fotografi.

Bekerja cukup banyak pada seni gratis serta fotografi. Sementara bekerja serta mengadakan perjalanan ke luar negeri, ia dikontrak untuk melukis mural di gedung Kedutaan Besar Indonesia di Paris. Di Jerman ia mendekorasi sebuah restoran Indonesia di Dusseldorf dengan mural. Pada Mei 1958 Mochtar Apin kembali ke Indonesia, bergabung dengan staf pengajar di Institut Teknologi Bandung sebagai seorang dari pengajar-pengajar seni terkemuka. Pada tahun 1966 ia adalah kepala Bagian Grafis dari Departemen Seni Rupa.
Baca Selengkapnya..

Wednesday, September 26, 2012

Biografi Affandi Sang Maestro Lukis



Affandi dilahirkan di Cirebon pada tahun 1907 , putra dari R. Koesoema, seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon . Dari segi pendidikan, ia termasuk seorang yang memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi. Bagi orang-orang segenerasinya, memperoleh pendidikan HIS , MULO , dan selanjutnya tamat dari AMS , termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh segelintir anak negeri. Namun, bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang telah menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya.

Pada umur 26 tahun, pada tahun 1933 , Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran Bogor . Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis, yaitu Kartika Affandi .

Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung. Pekerjaan ini tidak lama digeluti karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis. Sekitar tahun 30-an, Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung , yaitu kelompok lima pelukis Bandung. Mereka itu adalah Hendra Gunawan , Barli , Sudarso , dan Wahdi serta Affandi yang dipercaya menjabat sebagai pimpinan kelompok. Kelompok ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Kelompok ini berbeda dengan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938 , melainkan sebuah kelompok belajar bersama dan kerja sama saling membantu sesama pelukis.

Pada tahun 1943 , Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat Serangkai–yang terdiri dari Ir. Soekarno , Drs. Mohammad Hatta , Ki Hajar Dewantara , dan Kyai Haji Mas Mansyur –memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian. Dalam Seksi Kebudayaan Poetera ini Affandi bertindak sebagai tenaga pelaksana dan S. Soedjojono sebagai penanggung jawab, yang langsung mengadakan hubungan dengan Bung Karno.

Ketika republik ini diproklamasikan 1945 , banyak pelukis ambil bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain “Merdeka atau mati!”. Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno , Lahirnya Pancasila , 1 Juni 1945. Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster itu idenya dari Bung Karno, gambar orang yang dirantai tapi rantai itu sudah putus. Yang dijadikan model adalah pelukis Dullah . Lalu kata-kata apa yang harus ditulis di poster itu? Kebetulan muncul penyair Chairil Anwar . Soedjojono menanyakan kepada Chairil, maka dengan enteng Chairil ngomong: “Bung, ayo Bung!” Dan selesailah poster bersejarah itu. Sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah. Dari manakah Chairil memungut kata-kata itu? Ternyata kata-kata itu biasa diucapkan pelacur-pelacur di Jakarta yang menawarkan dagangannya pada zaman itu.

Bakat melukis yang menonjol pada diri Affandi pernah menorehkan cerita menarik dalam kehidupannya. Suatu saat, dia pernah mendapat beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan , India , suatu akademi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore . Ketika telah tiba di India, dia ditolak dengan alasan bahwa dia dipandang sudah tidak memerlukan pendidikan melukis lagi. Akhirnya biaya beasiswa yang telah diterimanya digunakan untuk mengadakan pameran keliling negeri India.

Sepulang dari India , Eropa , pada tahun lima puluhan, Affandi dicalonkan oleh PKI untuk mewakili orang-orang tak berpartai dalam pemilihan Konstituante . Dan terpilihlah dia, seperti Prof. Ir. Saloekoe Poerbodiningrat dsb, untuk mewakili orang-orang tak berpartai. Dalam sidang konstituante, menurut Basuki Resobowo yang teman pelukis juga, biasanya katanya Affandi cuma diam, kadang-kadang tidur. Tapi ketika sidang komisi, Affandi angkat bicara. Dia masuk komisi Perikemanusiaan (mungkin sekarang HAM) yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi juga sejak sebelum revolusi.

Lalu apa topik yang diangkat Affandi? “Kita bicara tentang perikemanusiaan, lalu bagaimana tentang perikebinatangan?” demikianlah dia memulai orasinya. Tentu saja yang mendengar semua tertawa ger-geran. Affandi bukan orang humanis biasa. Pelukis yang suka pakai sarung, juga ketika dipanggil ke istana semasa Suharto masih berkuasa dulu, intuisinya sangat tajam. Meskipun hidup di zaman teknologi yang sering diidentikkan zaman modern itu, dia masih sangat dekat dengan fauna, flora dan alam semesta ini. Ketika Affandi mempersoalkan ‘Perikebinatangan’ tahun 1955, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup masih sangat rendah.

Affandi juga termasuk pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi kebudayaan terbesar yang dibubarkan oleh rezim Suharto. Dia bagian seni rupa Lembaga Seni Rupa) bersama Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya.

Pada tahun enampuluhan, gerakan anti imperialis AS sedang mengagresi Vietnam cukup gencar. Juga anti kebudayaan AS yang disebut sebagai ‘kebudayaan imperialis’. Film-film Amerika, diboikot di negeri ini. Waktu itu Affandi mendapat undangan untuk pameran di gedung USIS Jakarta. Dan Affandi pun, pameran di sana.

Ketika sekelompok pelukis Lekra berkumpul, ada yang mempersoalkan. Mengapa Affandi yang pimpinan Lekra kok pameran di tempat perwakilan agresor itu. Menanggapi persoalan ini, ada yang nyeletuk: “Pak Affandi memang pimpinan Lekra, tapi dia tak bisa membedakan antara Lekra dengan Lepra!” kata teman itu dengan kalem. Karuan saja semua tertawa.

Meski sudah melanglangbuana ke berbagai negara, Affandi dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka merendah. Pelukis yang kesukaannya makan nasi dengan tempe bakar ini mempunyai idola yang terbilang tak lazim. Orang-orang lain bila memilih wayang untuk idola, biasanya memilih yang bagus, ganteng, gagah, bijak, seperti; Arjuna, Gatutkaca, Bima atau Werkudara, Kresna.

Namun, Affandi memilih Sokasrana yang wajahnya jelek namun sangat sakti. Tokoh wayang itu menurutnya merupakan perwakilan dari dirinya yang jauh dari wajah yang tampan. Meskipun begitu, Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) mengabadikan wajahnya dengan menerbitkan prangko baru seri tokoh seni/artis Indonesia. Menurut Helfy Dirix (cucu tertua Affandi) gambar yang digunakan untuk perangko itu adalah lukisan self-portrait Affandi tahun 1974, saat Affandi masih begitu getol dan produktif melukis di museum sekaligus kediamannya di tepi Kali Gajahwong Yogyakarta.

Sumber : http://khanzaku.wordpress.com/2010/01/23/biografi-pelukis-affandi/


Tags : Biografi Pelukis Afandi Biografi Affandi Affandi Biograpy

Baca Selengkapnya..

Wednesday, July 18, 2012

Bill Gates Biografi



Bill Gates

William Henry Gates III
Lahir 28 Oktober 1955 (umur 56)
Seattle, Washington, Amerika Serikat
Tempat tinggal Medina, Washington, Amerika Serikat
Kebangsaan Amerika Serikat

Almamater Harvard University (keluar)
Pekerjaan Ketua Microsoft
Ketua Corbis
Ketua Pendamping Bill & Melinda Gates Foundation
Direktur Berkshire Hathaway
CEO Cascade Investment
Tahun aktif 1975–sekarang
Kekayaan bersih ?US$59 miliar (2011)
Agama Agnostik
Pasangan Melinda Gates (m. 1994–sekarang)
Anak 3
Orang tua William H. Gates, Sr. Mary Maxwell Gates

William Henry "Bill" Gates III (lahir di Seattle, Washington, 28 Oktober 1955; umur 56 tahun) adalah seorang tokoh bisnis, investor, filantropis, penulis asal Amerika Serikat, serta mantan CEO yang saat ini menjabat sebagai ketua Microsoft, perusahaan perangkat lunak yang ia dirikan bersama Paul Allen. Ia menduduki peringkat tetap di antara orang-orang terkaya di dunia dan menempati peringkat pertama sejak 1995 hingga 2009, tidak termasuk 2008 ketika ia turun ke peringkat tiga. Selama karirnya di Microsoft, Gates pernah menjabat sebagai CEO dan kepala arsitek perangkat lunak, dan masih menjadi pemegang saham perorangan terbesar dengan lebih dari 8 persen saham umum perusahaan. Ia juga telah menulis beberapa buku.

Gates termasuk salah seorang pengusaha revolusi komputer pribadi terkenal di dunia. Meski ia dikagumi banyak orang, beberapa orang dalam industrinya mengkritik taktik bisnisnya yang dianggap anti-kompetitif, suatu opini yang didukung oleh pengadilan dalam beberapa kasus. Pada tahap-tahap akhir karirnya, Gates melakukan beberapa usaha filantropi dengan menyumbangkan sejumlah besar dana ke berbagai organisasi amal dan program penelitian ilmiah melalui Bill & Melinda Gates Foundation yang didirikan tahun 2000.

Gates mengundurkan diri sebagai pejabat eksekutif tertinggi Microsoft pada bulan Januari 2000. Ia masih menjabat sebagai ketua dan membentuk jabatan kepala arsitek perangkat lunak. Pada Juni 2006, Gates mengumumkan bahwa ia akan bekerja paruh waktu di Microsoft dan purna waktu di Bill & Melinda Gates Foundation. Ia secara bertahap melimpahkan semua pekerjaannya kepada Ray Ozzie, kepala arsitek perangkat lunak, dan Craig Mundie, pejabat riset dan strategi tertinggi Microsoft. Hari kerja purna waktu terakhir Gates di Microsoft adalah 27 Juni 2008. Ia masih bekerja di Microsoft sebagai ketua non-eksekutif.


Tags : Bill Gates Biografi Bill Gates Biografi Bill Gates Biografi Baca Selengkapnya..

Monday, November 7, 2011

BIOGRAFI Denny Sumargo (Perjalanan Hidup)




Biografi Denny Sumargo seorang atlit basket Indonesia yang sudah terkenal. Tapi itu hanya sebagian dari sisi hidupnya yang orang tahu, bagaimana perjalanan untuk menjadi seorang pebasket adalah misteri hidup yang pahit dan berliku.

Agnes davonar menceritakan kisah ini dalam sebuah Biografi berjudul Denny Sumargo: Dan saya pun bisa!. kisah panjang yang patut menjadi pelajaran bagi siapapun bahwa dunia ini sempurna bila kita menghendaki dengan tekat yang kuat dan yakin kita BISA! Karena sesungguhnya sejarah itu tercipta oleh kita sendiri dan Denny Sumargo pun bercerita tentang sejarahnya kepada anda.



BAGIAN 1

Namaku Denny Sumargo.

Saya lahir di Sulawesi utara tepatnya di Luwuk Bangawi sebuah kawasan utara Sulawesi yang indah nan luas dengan pemandangan lautnya yang eksotis. Terlahir dengan nama Denny Sumargo adalah pemberian ibu saya yang bermargakan Sumargo tepatnya Meiske Sumargo. Hingga saat ini hal-hal yang paling indah dalam hidup saya selalu terlukis dengan baik ketika saya bersama ibu duduk disebuah pantai sambil menikmati es kelapa yang dingin dan hangat sambil menikmati terbenamnya matahari.

Sejak kecil saya terbiasa hidup mandiri dengan kebebasan dan saya juga sangat keras kepala, sifat itu diwariskan oleh ibu saya yang berwatak keras dan pekerja keras. Ibu terlahir dari sebuah keluarga yang kaya dan berkecukupan tapi ia hanya lulusan Sekolah Dasar, sifatnya yang tomboy dan selalu membuat saudara-saudaranya berjumlah tujuh orang itu mengatakan ibu gadis barbal walau demikian ibu terampil sekali menjahit dan menyalon. Ibu saya bercita-cita menjadi seorang Polisi Wanita, cita-cita itu tidak pernah tercapai dan mungkin saja ia berpikir demikian karena terinspirasi oleh kisah pahlawan Wonderwomen yang termasyur ketika ia kecil dulu kala.

Ayah saya adalah seorang angkatan laut yang jatuh cinta pada eksotika Luwuk Bangawi, ia berasal dari Padang, Sumatra barat dan bernama Nazzarudin. Tidak banyak hal yang saya ingat tetang sosok ayah saya itu, sebab sejak saya berada di dalam kandungan ibu, Mereka bercerai. Kisah cinta mereka yang indah berakhir tragis karena keduanya memiliki sifat berlawanan. Ibu yang masih berusia 20 tahun sangat berbanding terbalik dengan ayah saya yang berusia 40 saat mereka menikah. Usia yang terpaut begitu jauh tidak mengendurkan niat mereka untuk saling mencintai.

Tapi yang saya dengar, ayah saya sangat sabar dan suka menolong orang lain. Sedangkan ibu termasuk orang yang tidak mau menerima pemberian dan selalu berusaha mencari apa yang dia mau dengan kemampuannya. Ibu gadis muda yang cantik memiliki hobi bermain bulutangkis setiap berkumpul bersama teman-teman sebayanya. Di kala itu ayah saya memutuskan untuk menetap di Luwuk sembari membuka usaha penjualan barang antik yang warung lapaknya bersebelahan dengan lapangan bulutangkis milik seorang Warga keturunan.

Suatu ketika saat ayah sedang berdagang, dilihatnya gadis muda itu setiap bermain bulutangkis disekitar warungnya dan akhirnya ia jatuh cinta pada gadis berpotongan rambut pendek dan bermuka manis itu. Ayah yang jatuh cinta berusaha mencari tau tentang sosok ibu dan usahanya tidak sia-sia ketika ibu bersedia berkenalan dengannya lewat macoblang penjaga lapangan bulutangkis. Ketika itu ayah saya sudah menikah dan mempunyai empat anak hasil pernikahannya dengan tiga istri, ibu terkejut bukan main ketika ayah berkata ia sedang menghadapai proses perceraian. Karena tidak pernah terpikir olehnya berkenalan dengan duda apalagi menikahi duda.

Ternyata cinta itu memang buta, ibu yang tidak pernah berpikir akan menikahi seorang duda akhirnya bersedia juga menikah dengan ayah. Padahal perbedaan mereka sangat banyak, ibu saya adalah seorang gadis keturunan Tionghoa dan beragama Katolik seperti penduduk Luwuk biasanya. Sedangkan ayah saya seorang muslim dan seorang pribumi tapi cinta itu membuat perbedaan itu hilang dan mereka bersatu. Ibu yang sedang duduk di pantai setelah lelah bermain bulutangkis bersama teman-temannya kedatangan ayah secara mendadak.

“ Meiske maukah kau menikah dengan saya?” tanya ayah.

Ibu terdiam sejenak dan melihat pria ini tanpa alang-aling langsung mengajaknya menikah.

“ Saya pikir-pikir dulu..”

Ayah tertunduk lesu , ibu melihat sebuah cinta yang tulus tapi tidak langsung menerima cinta ayah. Ia melihat kesungguhan ayah yang tiada henti memberikan cintanya tanpa batas. Setiap hari ayah menanyakan hal yang sama hingga suatu ketika ibu mulai luluh dan menjawab pertanyaan ayah dengan syarat.

“ Baiklah saya akan menikah dengan kamu tapi pastikan kamu telah bercerai secara resmi.”



Ayah tersenyum lebar dan bahagia melihat ibu bersedia menikahinya. Di kala itu, ayah memang belum secara resmi bercerai dengan Istrinya tapi ia menguatkan hati ibu dan akhirnya statusnya menjadi lajang dengan surat perceraian yang ibu lihat dengan nafas turun karena keberanian ayah. Ketika keputusan pernikahan itu sudah bulat, ibu dan ayah menghadapi masalah besar ketika nenek dari pihak ibu saya menolak kedatangan ayah untuk melamar ibu.

Nenek saya sangat kolot dan masih berpikiran tentang pernikahan hanya bagi yang seiman dan sesuku, tapi tidak dengan ibu saya yang berpandangan luas dan bebas. Diantara keempat putri yang ia lahirkan hanya ibu yang sering melawan dan bertengkar dengan nenek. Nenek sendiri bercerai dengan kakek sehingga ia mengalami sedikit gampang emosi karena kakek sangat sayang pada ibu saya. Saudara-saudara ibu yang laki-laki berjumlah tiga orang terkejut ketika ibu membawa ayah, mereka langsung berusaha mati-matian untuk menyadarkan ibu tentang pikirannya yang dinilai sudah rusak.

“ Astaga, Meiske. Kamu sudah gila ya?. Kamu mau menikah dengan seorang pria duda yang sudah menikah tiga kali dan parahnya dia itu berbeda agama dengan keluarga kita.” Ujar kakak laki-laki tertua itu dihadapan ibu dan ayah saya.

Nenek sepertinya sudah sangat marah ia langsung mengusir ayah saya dari rumah. Ibu menangis tak bisa berbuat apa-apa, ia mendapatkan tamparan keras dari nenek yang murka dan saudara-saudaranya berusaha memisahkan dengan membawa ibu ke kamar. Ayah yang sudah sangat jatuh cinta pada ibu tidak peduli dengan larangan nenek, ia terus berusaha menyakinkan ibu bahwa ia adalah pria yang layak menjadi suaminya.

Ibu yang keras kepala dan percaya terhadap dirinya akhirnya benar-benar nekad menikah dengan ayah. Kakek yang biasa mendukung ibu hanya memberikan dukungan dengan setengah hati, ia hanya menyarankan ibu untuk berpikir ulang. Ibu sadar pernikahannya dengan ayah akan membuat ia dimusuhi oleh semua saudara-saudaranya dan ia bertekad membuktikan kepada saudara-saudaranya pernikahan dengan ayah adalah kebenaran jalan hidupnya.



Ayah dan ibu bercerai

Masa pernikahan itu berjalan baik dan dilaksanakan disebuah rumah makan secara sederhana yang dihadiri oleh beberapa kerabat ibu dan ayah. Karena mereka berbeda agama maka pernikahan itu berjalan dua kali, pertama di Gereja sesuai agama yang dianut ibu dan di Mesjid sesuai agama ayah. Ibu bersedih ketika pernikahannya itu tidak dihadiri oleh keluarga kandungnya sendiri, Kakek memang datang pada saat upacara di Gereja tapi itu pun dengan setengah hati. Tapi cinta yang indah itu tidak pundar walau harga dari semua itu adalah ibu kehilangan saudara-saudaranya.

Sebulan setelah pernikahan itu ibu mulai membantu ayah menjaga warung barang antiknya sedangkan ayah sering pulang untuk bertemu anak-anaknya dari lain ibu. Beban ayah sangat berat dikala itu, ia harus menanggung semua biaya hidup kakak-kakak tiri saya yang masih bersekolah. Ketika ibu sedang melayani tamu yang berkunjung ia merasa mual dan akhirnya jabang bayi berusia satu minggu itu menjadi tanda cintanya yang disambut ayah dengan bahagia.

Kebahagiaan yang indah menyambut kedatangan saya ke dunia ternyata tak seindah bayangan ibu, ibu mulai sering frustasi terhadap ayah yang sering tidak pulang ke rumah. Parahnya setiap pulang mereka selalu bertengkar hebat hingga ibu mengambil keputusan pahit yang sangat disesali oleh ayah, ia ingin bercerai dengan ayah. Ayah tidak ingin bercerai karena saat itu ia sadar saya masih di perut ibu dan ia khawatir dengan keputusan ibu.

Entah alasan apa yang membuat ibu nekad berpisah dengan ayah, ia mengancam lebih baik ayah bercerai dengannya daripada ia kehilangan saya yang masih diperutnya. Ayah mengalah dan mereka pun berpisah, ayah yang sangat sayang pada ibu kemudian memberikan semua harta dan rumah hasil pernikahan mereka menjadi milik ibu. Ibu saya yang naif dan gengsi menolak pemberian itu ia memutuskan untuk kabur begitu saja menginap di rumah teman bermainnya. Dan sejak itu saya tidak akan pernah tau siapa ayah saya hingga kelak saya menjadi dewasa.

Atas saran temannya, ibu pun memutuskan untuk kembali pada keluarganya. Ibu rela menahan malu dan hinaan demi saya yang masih dalam perutnya. Ia rela melakukan apapun untuk membuat saya terlahir di dunia ini walaupun ia sadar setiap pasang mata keluarga ibu melihatnya sangat hina. Bahkan secara terang-terangan saudara-saudara ibu memaki ibu tanpa mengingat tali darah yang mengikat mereka. Puncaknya ketika ibu sudah tidak tahan ia memutuskan pindah ke Makassar untuk hidup bersama Bibi saya sembari berharap kelahirkan saya dapat melunakkan hati nenek untuk memaafkan ibu.

Tanggal 11 Oktober 1981 dengan perjuangan berat ibu melahirkan saya dengan tangis kebahagiaan. Ia langsung mendapatkan nama Denny untuk memberikan nama pada saya, setelah itu Bibi menyarankan ibu saya lebih baik ibu kembali ke nenek karena bisa saja nenek menjadi luluh dengan kelahiran saya. Ibu yang pada saat itu tidak bekerja tidak ingin merepotkan Bibi dan akhirnya memutuskan kembali ke rumah Nenek. Harapan nenek untuk luluh sirna, ia tidak tergoda sekalipun untuk berbaikan dengan ibu walau dengan kelahiran saya.

Nenek memang memberikan uang untuk keperluan saya selama masih bayi tapi itupun sepertinya dengan terpaksa. Cacian dan makian yang begitu dalam dan melukai hati ibu tidak hanya dari nenek saya tapi dari saudara-saudara kandungnya. Terkadang ketika ibu sudah tidak tahan akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di rumah temannya, untungnya kakek saya masih bersedia memberikan uang untuk memberi susu. Ibu sadar ia tidak bisa selamanya berharap pada nenek saya, ia pun mempraktekan kemampuannya di bidang menjahit untuk mencari nafkah guna menghidupi saya.

Ia bekerja pada sebuah rumah konveksi di dekat rumah untuk menjaga jarak agar tidak terlalu jauh dari saya. Setiap jahitan yang melekat di pakaian ia menanamkan sebuah tekad untuk membuat saya menjadi orang berguna, tekadnya yang besar tidak hanya disimpan dalam hati. Bahkan ibu bekerja dua kali untuk hidup saya. Di pagi hari ia bekerja di konveksi kemudian di siang hari ia memberikan susu ASI kepada saya lalu kembali bekerja hingga sore. Setelah bekerja menjahit, ia bekerja malam di sebuah salon kencantikan sebagai tenaga bantu. Gajinya tidak besar tapi cukup untuk membuat saya tumbuh menjadi gemuk dan sehat.

Setelah melihat saya mulai bisa berjalan dan merangkak, ibu begitu bahagia namun tetap dalam keadaan tertekan oleh saudara-saudaranya. Ayah yang mendengar kelahiran saya tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu karena ibu tidak sudi mempertemukan kami. Ayah selalu menitipkan uang saku kepada sahabat ibu untuk diberikan sebagai uang keperluan saya, tapi ibu menolak dan malah membalikkan uang itu dengan tegas.

Saya masih ingat hal yang paling menyedihkan dalam hidup saya untuk mengenang ibu, di kala itu saat saya berusia empat tahun. Saya tertidur pulas dan ibu membangunkan saya dengan air mata berlinang yang membuat saya heran. Dengan cepat ia mengangkat tubuh saya melewati saudara-saudaranya yang berdiri di ruang tamu. Saya masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang mereka katakan pada ibu tapi kata-kata itu sangat hina dan kejam.

Malam yang dingin menusuk disertai hujan rintik-rintik, ibu terusir oleh saudara-saudaranya dengan sekoper baju apa adanya. Ia membopong tubuh saya yang gemuk diantara malam, saya ketakutan tapi ibu sekali lagi tidak peduli dan terus membawa saya berjalan tanpa arah dan tanpa uang sepeserpun. Kami berhenti di sebuah sudut rumah besar yang tidak kami kenal, ibu mungkin kelelahan dan terduduk dengan air mata yang terus berlinang di halaman tersebut.

“ Mama.. Denny mau pulang..!” teriak saya.

Ibu terdiam, ia menghapus air matanya lalu berkata pada saya untuk mencoba tidur. Tapi halaman rumah itu terlalu banyak nyamuk dan bau air got yang menusuk. Saya pun menangis kencang meminta untuk pulang, Ibu sepertinya sudah sangat marah dan ia menampar saya.

“ Dengar.. Mama tidak akan pernah kembali ke rumah itu, jadi kamu jangan berharap kita pulang..!” teriak ibu pada saya.

“ Tapi Denny kedinginan dan banyak nyamuk.. !”

Ibu memeluk saya lalu menutupi saya dengan sisa pakaian yang ia bawa dari kopernya. Saya merasa lebih baik dan ia berkata pada saya, kata-kata itu begitu melekat dalam ingatan saya.

“ Denny dengarkan Mama, berjanjilah pada Mama.. kelak jangan pernah membiarkan orang lain menginjak-injak harga diri kita. Walaupun kita tidak punya uang dan kelaparan tapi jangan pernah biarkan siapapun orang itu menghina kita. Mama janji pada kamu, suatu saat akan membuat kamu menjadi orang besar dan membuktikan pada siapapun bahwa Mama bisa !!”

Saya begitu terkesima dengan kalimat yang ibu saya ucapkan hingga nyaris melupakan rasa gatal gigitan nyamuk. Tapi disinilah saya melihat ketegaran dan tekad ibu saya yang besar kepada saya, saya sadar setiap air mata yang ia jatuhkan bukanlah air mata kesediahan tapi air mata penderitaan. Saya tidak pernah menyadari bahwa kata- kata ibu terasa begitu menyedihkan ketika saya menjadi dewasa dan mengingat kejadian itu. Kami tertidur di halaman rumah itu seperti gembel saja, saya dan ibu terlihat begitu menyedihkan tapi itulah sejarah hidup yang tak akan pernah saya lupakan.

Kami pindah ke Makassar.

Dengan berbagai bantuan teman-teman ibu, akhirnya kami bisa mendapatkan uang dan pergi ke Makassar untuk sekali lagi tinggal bersama saudara ibu, Bibi yang pernah menolongnya. Di Makassar ibu hanya sementara tinggal bersama Bibi saya mengingat sepertinya Bibi tidak pernah rela menampung kami dengan ikhlas. Untungnya kami bertemu dengan seorang sahabat kecil ibu yang bernama Tante Ana dan suaminya. Ia adalah sahabat ibu semasa Sekolah Dasar dulu, mereka sudah menikah sejak tiga tahun lalu namun sayang tidak dikarunia seorang anak.

Ibu menumpang pada keluarga itu cukup lama terlebih kedua orang itu sangat menyukai saya, kehadiran saya dalam keluarga itu seolah mengobati kerinduan mereka terhadap seorang anak. Ibu bekerja seperti dulu menjahit disebuah rumah konveksi, ketika ia bekerja saya dijaga oleh tante Ana yang begitu mencintai dan memanjakan saya. Ibu yang mendapatkan peluang usaha dari uang yang ia kumpulkan dari hasil kerjanya di Konveksi mulai berpikir untuk berdagang baju.

Awalnya ia memberi pakaian yang ia pesan dari Jakarta kemudian dengan sekarung tas besar ia membawa pakaian-pakaian itu untuk dijajahkan di setiap rumah di sekitar Makassar. Walaupun terasa menyedihkan dan serta kepanasan karena cuaca Makassar yang panas, ibu tidak pernah menyerah. Dalam pikirannya hanya satu ia ingin saya bisa bersekolah setahun mendatang ketika usia saya 6 tahun. Saya terkadang hanya bisa menahan haru ketika ibu berangkat berdagang setelah mengecup kening saya dan membiarkan Tante Ana mengendong saya.

Terkadang hasil berdagangnya lancar tetapi terkadang juga tidak sama sekali, tapi tekad ibu yang kuat membuat semua dijalankan dengan ikhlas disertai jalan Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan akan memberikan jalan padanya agar bisa menyekolahkan saya, padahal saya tidak pernah terpikir untuk sekolah dan selalu menghabiskan waktu ikut dengan suami Tante Ana ke Pasar untuk belajar banyak hal. Tante Ana bersuamikan seorang Preman pasar yang kerjanya menagih upeti dari setiap pedagang. Jadi saya tidak asing melihat sedikit kekerasan yang ia perlagakan kepada saya.

Suami Tante Ana pandai berkarate dan ia tanpa ragu mengajarkan saya untuk berkarate agar bisa menjaga diri saya, saya yang terinspirasi oleh kisah Superman akhirnya ikut juga dalam setiap ajaran karate yang selalu kami lakukan setiap sore di halaman rumah kami. Saya menikmati masa-masa kebahagiaan dan kasih saya yang tidak pernah saya dapatkan dari saudara-saudara ibu dari Tante Ana dan suaminya. Usaha ibu berjalan dengan baik dan ia memutuskan untuk membeli langsung pakaian ke Jakarta, bisa jadi dalam setiap tiga bulan ia pulang pergi kota Jakarta dan Makassar.

Ketika ibu berpergian, Suami Tante Ana yang kebetulan berkeyakinan Muslim mulai mengajarkan saya tentang agama Islam. Saya mulai mengerti sedikit tentang bagaimana Sholat dan membaca Al-Quran, masa-masa itu menjadi masa paling indah saya, mereka sudah seperti orang tua saya yang begitu tulus memberikan kasih sayangnya pada saya. Ibu saya yang semakin sibuk akhirnya malah lebih memutuskan untuk berdagang diluar Kota Makassar dan bisa dalam seminggu ia tidak pulang, tapi saya tidak cemas karena orang tua baru saya ini menjaga saya dengan baik.

Ibu yang sudah mulai memiliki sedikit tabungan mulai berpikir tentang masa depan saya, ia berpikir saya akan hidup lebih baik dengan bersekolah di Jakarta. Ketika ide itu diceritakan kepada Tante Ana dan suaminya, mereka keberatan. Mereka sudah sangat mencintai saya seperti anak kandung dan tidak rela untuk dipisahkan dengan jarak yang begitu jauhnya. Tapi ibu yang keras kepala tetap berpikir untuk membawa saya ke Jakarta dan sejak itu terjadilah percekcokan antara ibu dan Tante Ana berserta suaminya.

Saya yang tidak mengerti apa-apa pada saat itu hanya bisa diam dan menangis melihat mereka bertengkar. Tante Ana dan suaminya yang sudah tidak rela dengan kepergiaan saya kemudian mengambil keputusan untuk membawa saya pergi tanpa sepengetahuan ibu. Tiga bulan lamanya saya tinggal di rumah ibu dari tante Ana tanpa pernah bertemu dengan ibu saya. Ketika saya tanyakan tentang keberadaan ibu, tante Ana dan suaminya hanya berkata

“ Mama kamu sedang bekerja di Jakarta.. kamu disini sama Tante saja..” ujar Tante sembari memberikan mainan mobil untuk menghilangkan rasa kangen terhadap ibu saya.

Saya tidak sadar bahwa saya sedang diasingkan dari ibu hingga suatu ketika saat saya sedang membeli kue manisan di jalan dan menemukan ibu yang langsung memeluk saya. Dengan cepat ibu langsung menarik tangan saya menaiki angkutan umum tanpa saya ketahui saya sedang dibawa pergi dari kedua orang tua baru saya. Saya yakin mereka akan panik mencari saya tapi seingat saya ibu sudah mengirimkan pesan pada sebuah warung untuk memberitahu bahwa saya dibawa oleh ibu untuk kembali padanya. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi bertemu orang tua baru yang sangat mencintai saya itu selamanya.

Sumber : Agens Davonar


KLIK DISINI UNTUK MENDUKUNG BLOG INI
Baca Selengkapnya..