Tuesday, November 27, 2012

Teknologi Inovatif Ini Bikin Anda Bebas Macet!

JAKARTA - Kemacetan menjadi salah satu momok yang menakutkan, bahkan ketika sedang berkendara seorang diri dan terjebak macet, rasanya ingin menerbangkan kendaraan seperti layaknya helikopter. Oleh sebab itu, HX-1 mungkin menjadi salah satu inovasi dari perusahaan Jepang dapat merealisasikan khayalan Anda.


Meski tidak mengubah kedaraan Anda terbang layaknya helikopter, namun dengan helikopter satu awak yang berbahan bakar baterai nampaknya sangat cocok digunakan.

Sebuah perusahaan asal Jepang, Hirobo mengumumkan rencananya untuk meluncurkan helikopter tersebut. Dikutip dari Ohgizmo, Rabu (21/11/2012), kendaraan inovatif ini dapat terbang menggunakan remote atau dikendarai oleh seorang pilot saja, dan berbicara soal kecepatan helikopter ini dapat dipacu hingga 62mph.

Bagi Anda yang berminat untuk menaruh helikopter ini di halaman rumah Anda, nampaknya harus bersiap-siap merogoh kocek dalam-dalam. Pasalnya, HX-1 dibanderol dengan USD125 juta atau sekira Rp1,2 triliun dan kemungkinan baru akan meluncur pada 2021.

Harga semahal itu kata produsen helikopter remote control (RC), Kotaro Matsuzaka sebanding dengan proses pengembangan yang cukup lama dan merupakan proyek yang tidak sederhana. Rencananya, prototipe ini akan diuji pada 2013 awal. Dan apabila sesuai dengan rencana, perusahaan akan meluncurkan produk tanpa awak yang dilego USD125 ribu, namun sayangnya perusahaan masih merahasiakan nama dan model helikopter tersebut. (fmh)

Sumber
Baca Selengkapnya..

Apa itu Bioteknologi? (Penting)


BIOTEKNOLOGI
Bioteknologi adalah ilmu yang menggunakan prinsip-prinsip kehidupan maupun sistem kehidupan organisme untuk menghasilkan produk yang berguna dan ramah lingkungan. Secara tidak sadar, bioteknologi sudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya pembuatan yogurt menggunakan bakteri Lactobacillus sp.

5 Warna Bioteknologi
Ada 5 warna dalam bioteknologi. Masing-masing warna mewakili satu bidang dalam bioteknologi.



Bioteknologi merah mewakili bioteknologi dalam bidang kesehatan. Dengan mottonya “heal the world”, bioteknologi merah menghasilkan banyak produk yang berperan serta dalam meningkatkan taraf kesehatan umat manusia. Beberapa produk yang sangat umum digunakan dalam kesehatan adalah vaksin dan antibiotik. Keduanya berupa suatu sistem yang dibuat untuk memperkuat dan melatih respon imun tubuh terhadap penyakit tertentu.
Bioteknologi merah memiliki beberapa produk yang saat ini masih menjadi kontroversi seperti cloning (kloning) yaitu penggandaan suatu makhluk hidup dan rekayasa genetika. Dengan kloning, sangat memungkinkan dibuat suatu organisme baru yang sangat persis dengan aslinya, baik itu manusia maupun hewan. Contoh nyata hasil kloning adalah eve (manusia kloning pertama) dan domba Dolly. Sedangkan rekayasa genetika memungkinkan untuk memodifikasi kecacatan atau kekurangan pada makhluk hidup. Dengan rekayasa genetika, autisme dapat dibasmi, down syndrome dapat dihilangkan, warna kulit seseorang dapat diubah, tinggi badan dapat diatur, bentuk wajah dapat dimodifikasi, dsb. Walaupun memiliki maksud yang baik, secara tidak langsung rekayasa genetika mewakili sifat manusia yang tidak pernah puas dan tidak bersyukur dengan apa yang diperoleh.


Bioteknologi hijau mewakili bioteknologi yang bergerak dalam bidang agrikultur dan pangan. Tak mau kalah dengan bioteknologi merah, bioteknologi hijau memiliki motto “feed the world”. Sesuai dengan mottonya, bioteknologi hijau dapat memecahkan masalah pangan di dunia. GM Food (Genetically Modified Food) adalah salah satu produk bioteknologi hijau yang sangat terkenal. GM Food memiliki komposisi gizi yang dapat diatur sesuai kebutuhan gizi manusia. Salah satu produk GM Food adalah makanan-makanan yang telah difortivikasi dengan vitamin maupun mineral, seperti margarin dan mentega yang difortivikasi dengan vitamin A.
Golden rice merupakan perbincangan hangat di kalangan ilmuwan bioteknologi. Golden rice merupakan hasil rekayasa pada padi, sehingga bulir-bulir padi yang dihasilkan berwarna kuning keemasan karena telah difortivikasi dengan beta karoten. Golden rice dibuat untuk menanggulangi defisiensi vitamin A pada anak-anak kecil di Afrika.


Bioteknologi biru adalah bioteknologi yang bergerak dalam bidang perairan dan kelautan. Bioteknologi biru berupaya untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem laut sebagai akibat dari pemanasan global. Namun, bioteknologi biru juga dapat menjadi industri yang hebat tanpa merusak lingkungan. Salah satunya adalah produksi nori (rumput laut) secara masal, rekayasa genetika pada ikan untuk memodifikasi ukuran ikan, dan pembuatan golden pearl di filipina. Golden pearl adalah mutiara berwarna emas yang dihasilkan oleh tiram-tiram mutiara yang telah direkayasa genetikanya sehingga dapat menghasilkan mutiara yang berkilauan seperti emas.


Bioteknologi abu-abu adalah bioteknologi yang bergerak dalam bidang lingkungan. Tujuan utama bioteknologi abu-abu sesuai mottonya “help the world” adalah penyelamatan lingkungan yang kian lama kian rusak oleh perbuatan manusia. Produk bioteknologi abu-abu yang sangat familiar adalah biodegradable plastic, merupakan plastik yang mudah didegradasi oleh organisme-organisme uniseluler berupa mikroba. Sudah banyak market-market di Indonesia yang menggunakan biodegradable plastic ini. Kebanyakan organisasi yang bergerak dalam bidang bioteknologi abu-abu bersifat non-profit dan bertujuan untuk menyelamatkan bumi kita tercinta. Betapa berjasanya mereka bukan?



Bioteknologi putih adalah penerapan bioteknologi dalam bidang industri. Bioteknologi putih juga memiliki satu motto terkenal, yaitu “fuel the world”. Bioteknologi putih berkaitan dengan erat untuk memperbaiki bumi. Salah satu faktor yang merusak atmosfer bumi adalah karbon dioksida yang dihasilkan oleh pembakaran di pabrik maupun kendaraan bermotor. Bioteknologi putih memperkirakan semuanya itu. Pembuatan cerobong asap dengan prinsip koagulasi memungkinkan gas karbon dioksida yang dihasilkan pabrik dapat dikumpulkan dan tidak lepas ke udara bebas
Selain itu, pembuatan bio-ethanol dan bio-diesel merupakan bentuk kepedulian untuk mengurangi emisi karbon dioksida pada asap kendaran bermotor. Kedua bahan bakar tersebut menggunakan tumbuh-tumbuhan dan alga sebagai bahan baku produksi. Hal ini bertujuan untuk mengurangi pemakaian minyak bumi yang semakin menipis.

Sumber




Baca Selengkapnya..

FINGER TUTTING



Jadi Finger tutting itu semacam breakdance yang fokusnya cuma sama jari-jari aja (jari-jari? matematika SD kali ya gan). Finger tutting itu salah satu aliran street dance yang mengandalkan jari dan tangan.

Konon kabarnya nih, finger tutting itu terinspirasi dari hieroglif Mesir lho. Ane ciyus loh ini gan. Simpelnya ya, intinya tuh gerakan jari dan tangan ngikutin irama musik dengan model gaya robotik alias rada-rada kaku gitu. Nah, karena terinspirasi dari zaman Mesir kuno, jadi namanya juga ngikutin nama raja Mesir jaman itu, Tutankhamun.

Tutting di awal kemunculannya itu ngelibatin gerakan semua anggota tubuh, tapi yang bikin ane kaget gan, kemudian berkembang gaya baru yaitu cuma dengan menggunakan jari dan lengan, namanya finger tutting (Ane masih ciyus ya gan). Jenis street dance yang satu ini aslinya udah terkenal di YouTube sejak awal-awal 2000-an, trus mendadak heboh lagi sejak 2009.

Nah, kalo finger tutter yang terkenal itu ada JayFunk nih gan. Si Jay Funk ini sering posting video pribadinya Finger tutter, ada juga yang nih Gan yang jago juga terkenal namanya J.Smooth. Dia nongol di ending scene Step Up 3D.

Selain karena kekerenan dan kerumitan gerakannya, finger tutting semakin menyebar karena semua orang bisa mempelajarinya

Sumber
Baca Selengkapnya..

Bento, Seni Merangkai Bekal Ala Masyarakat Jepang


Bento atau o-bento adalah istilah bahasa Jepang untuk makanan bekal berupa nasi berikut lauk-pauk dalam kemasan praktis yang bisa dibawa-bawa dan dimakan di tempat lain. Seperti halnya nasi bungkus, bento bisa dimakan sebagai makan siang, makan malam, atau bekal piknik.
Bento biasanya dikemas untuk porsi satu orang, walaupun dalam arti luas bisa berarti makanan bekal untuk kelompok atau keluarga. Bento dibeli atau disiapkan sendiri di rumah. Ketika dibeli, bento sudah dilengkapi dengan sumpit sekali pakai, berikut penyedap rasa yang disesuaikan dengan lauk, seperti kecap asin atau saus uster dalam kemasan mini.
Ciri khas bento adalah pengaturan jenis lauk dan warna agar sedap dipandang serta mengundang selera. Bento dapat pula dihias dan disusun rapi dalam gaya yang disebut kyaraben. Kemasan bento selalu memiliki tutup, dan wadah bento bisa berupa kotak atau nampan segi empat dari plastik, kotak roti, atau kotak kayu kerajinan tangan yang dipernis. Ibu rumah tangga di Jepang dianggap perlu terampil menyiapkan bento, walaupun bento bisa dibeli di mana-mana. Di Indonesia, hidangan ala bento mulai dipopulerkan jaringan restoran siap saji Hoka Hoka Bento sejak tahun 1985.


Sejarah Bento

Pada akhir zaman Kamakura, orang Jepang mengenal makanan praktis berupa nasi yang ditanak dan dikeringkan. Makanan ini disebut hoshi-ii (nasi kering) dan dibawa di dalam tas kecil. Hoshi-ii bisa dimakan begitu saja, atau direbus di dalam air sebelum dimakan. Di zaman Azuchi Momoyama (1568-1600), orang sudah mulai senang makan di luar, dan kotak kayu yang dipernis digunakan sebagai wadah membawa makanan. Bento mulai dikenal sebagai makanan praktis dalam kesempatan hanami atau upacara minum teh.
Pada zaman Edo (1603-1867), kebudayaan bento semakin meluas di kalangan rakyat banyak. Orang yang bepergian atau berwisata membawa makanan praktis yang disebut koshibento (bento di pinggang). Isinya beberapa onigiri yang dibungkus daun bambu, atau nasi di dalam kemasan kotak beranyam dari bambu yang diikatkan di pinggang. Salah satu jenis bento yang disebut makunouchi bento populer di kalangan rakyat yang menonton pertunjukan noh dan kabuki. Bento dimakan sewaktu pergantian layar panggung (maku) sehingga dinamakan makunouchi bento. Di zaman Edo, cara memasak, mengemas, dan menyiapkan bento untuk kesempatan hanami dan hinamatsuri sudah diterbitkan dalam buku resep masakan.
Penjualan paket nasi yang disebut ekiben (bento stasiun) dimulai sejak zaman Meiji. Ekiben dimaksudkan untuk dinikmati di atas kereta, dan sering merupakan hidangan khas dari daerah tempat stasiun kereta api tersebut berada. Stasiun KA Utsunomiya (Prefektur Ibaraki) merupakan salah satu stasiun yang mengklaim sebagai penjual ekiben yang pertama. Pada 16 Juli 1885, di Stasiun KA Utsunomiya dijual ekiben berupa dua buah onigiri berisi umeboshi dan potongan asinan lobak (takuan) dengan pembungkus daun bambu. Bekal bento yang dibawa murid dan guru juga mulai populer di zaman Meiji. Jam pelajaran baru selesai di petang hari, dan sekolah-sekolah belum memiliki dapur dan kafetaria yang menyediakan makan siang. Selain bento berisi nasi, penjual bento juga mulai menyediakan bento ala Eropa berisi sandwich.
Pada zaman Taisho (1912 - 1926), perbedaan kaya-miskin yang tajam seusai Perang Dunia I menimbulkan gerakan sosial untuk menghentikan kebiasaan membawa bento ke sekolah. Bento dituduh sebagai sarana pamer kekayaan bagi anak orang berada yang mampu membawa nasi ke sekolah.
Pada awal zaman Showa, kotak dari aluminum untuk membawa bento sangat digemari orang Jepang dan merupakan barang mewah. Setelah Perang Dunia II, tradisi membawa bento secara berangsur-angsur hilang sejalan dengan semakin banyaknya sekolah yang menyediakan ransum makan siang.
Bento kembali populer di tahun 1980-an setelah dikenal kemasan kotak plastik polistirena sekali pakai, oven microwave, dan semakin meluasnya toko kelontong 24 jam. Sementara itu, bento buatan ibu kembali mulai digemari, dan tradisi membawa bento dari rumah hidup kembali. Keahlian menyiapkan bento untuk anak-anak merupakan kebanggaan tersendiri bagi ibu rumah tangga. Lauk seperti sosis dan nori dipotong-potong atau digunting untuk dijadikan hiasan, seperti daun, bunga, binatang, hingga karakter anime.

Jenis-jenis Bento

Shokado bento
Bento yang dihidangkan di dalam kotak kayu dengan tutup yang bisa menutup dengan rapat, dan di dalamnya terdapat pembatas untuk membagi wadah menjadi 4 bagian.
Chuka bento
Kemasan bento berisi makanan Cina

Kamameshi bento

Bento yang menggunakan periuk tanah liat sebagai kemasan.

Makunouchi bento
Bento tradisional berisi nasi dan lauk.

Noriben
Bento berisi nasi ditutupi nori yang sudah dicelupkan ke dalam kecap asin.

Hinomaru bento
Bento yang hanya terdiri dari nasi putih dan sebuah umeboshi yang diletakkan di tengah-tengah seperti bendera Jepang.

Kouraku bento
Semua jenis bento yang dimakan pada jalan-jalan, seperti untuk melihat cherry blossom. Bisa menjadi bento makunouchi rumit, atau sesuatu yang dicampur pada sebuah toko.

Ohanami bento
Sebuah bento yang dimakan sambil mengagumi bunga sakura.

Omotenashi bento
Bento yang disajikan untuk tamu, biasanya jenis bento makunouchi.

Juku bento
Bento ringan yang makan pada malam hari pada saat juku (ujian persiapan) sekolah.

Istilah yang terkait dengan Bento

Hoka bento (bento panas)
Bento yang dibeli dari rumah makan bento untuk dibawa pergi, disertai nasi panas yang baru dimasak (hokahoka) disertai menu sampingan yang baru matang pula. Istilah ini populer setelah munculnya Hokka Hokka Tei.

Shidashi bento (bento kiriman)
Bento yang tidak dibuat di rumah, melainkan dibeli di penjual bento atau rumah makan.

Hayaben (bento lebih awal)
Perbuatan murid sekolah yang memakan bento sebelum waktu makan siang tiba.

Soraben (bento udara)
Bento yang dijual di bandar udara.

Rokeben (bento lokasi)
Bento yang disediakan di lokasi syuting film atau acara televisi.

Aisai bento (bento istri tercinta)
Bento yang disiapkan istri di rumah untuk suami di kantor.

Reito mikan (bento jeruk beku)
Pencuci mulut berupa jeruk yang dibekukan dan dijual di stasiun KA atau di atas KA bersama ekiben.

Kaskus.co.id
Baca Selengkapnya..

Sunday, November 25, 2012

Fadjar Sidik Maestro Lukis Indonesia



Fadjar Sidik, pria kelahiran Peneleh, Surabaya, 8 Februari 1930 ini, telah berjuang sebagai seorang modernis dalam lingkungan seni lukis Yogyakarta yang kuat mengembangkan paradigma estetik kerakyatan. Dalam lukisan-lukisannya, ia menciptakan bentuk-bentuk abstrak yang disebutnya “desain ekspresif”.

Karya-karyanya telah bergeser dari pokok figuratif ke raut nirmana; dari ruang representasional (pictorial) ke bidang yang cuma asyik mencacah bentuk (picturesque). Dan alasan kehadiran seni lukisnya, katanya, sama saja dengan cap tangan manusia purba yang tertera di dinding gua 20 ribu tahun silam.
Salah satu manifestasi pencapaian bentuk abstrak murni Fadjar Sidik, bisa dilihat dalam lukisannya Dinamika Keruangan (1969). Dalam karyanya ini, ia menampilkan ritme-ritme bentuk dari dua gugusan elemen visual dengan dominan warna hitam dan warna kuning oker. Di sela-sela susunan bentuk terdapat bulatan-bulatan merah yang memberikan aksentuasi seluruh ritme itu, sehingga timbul klimaks yang menetaskan kelegaan.
Jika dalam lukisan ini terdapat bentuk bulan dan sabit, hal itu sama sekali bukan representasi religius yang berkaitan dengan nilai simbolik bulan penuh dan bulan sabit. Demikian juga dengan gugusan bentuk-bentuk segi empat dan geliat sulur garis hitam, bukan abstraksi bentuk ular dan sarangnya yang mempunyai nilai magis simbolik. Pelukis lebih menekankan bagaimana dalam kanvasnya hadir ekspresi visual yang membuat dinamika, ketegangan, ritme, keseimbangan, atau karakter-karakter lain.
Kemudian mengenai judul-judul lukisan abstraknya, secara semantik, kata-kata dalam judul mempunyai koherensi yang kuat dengan karakter bentuk-bentuk karyanya. Seperti pada serial “Dinamika Keruangan”, “Interior”, “Fantasi Lurik”, “Metropol”, serta “Sangkala”, walaupun tidak memiliki muatan nilai-nilai literer atau sosial, namun tetap mencerminkan karakter-karakter visual yang mempunyai koherensi dengan prinsip-prinsip visual yang mengasosiasikan bentuk-bentuk pada serial judul-judul itu.
Dalam perjalanan kesenian Fadjar Sidik, ada dua unsur kuat yang memberikan warna pengaruh. Unsur pertama adalah pemikiran-pemikiran Barat yang terbentuk lewat pendididkan formal dan suasana kultural dalam kehidupan masa kecil. Dan unsur kedua adalah pendidikan sanggar, yang memberikan dasar-dasar penguasaan teknik dan pemahaman atas sikap serta etos kerja seniman.
Fadjar Sidik lahir dari keluarga yang kental dengan kultur Islam. Ayahnya yaitu M. Sidik adalah seorang pengikut Muhammadiyah yang aktif, dan ibunya, yaitu Dewi Maryam adalah pengurus Aisiyah. Namun demikian, keluarga yang kental dengan kultur Islam ini kena imbas semangat nasionalisme dari tokoh-tokoh pergerakan nasional yang banyak lahir di daerahnya.
Tahun 1942 Fadjar Sidik dikirim ke HIS Muhammadiyah Ngupasan Yogyakarta. Harapannya agar ia berinteraksi dengan kemajuan pendidikan Barat sekaligus nasionalis dan religius seperti tokoh-tokoh pergerakan nasional yang dikagumi ayahnya. Tapi di HIS, Fadjar justru sangat antusias dengan pelajaran menggambar.
Minat pada seni lukis semakin mendapat suasana yang kondusif lewat bacaan-bacaan. Di tempat pemondokannya, yaitu di Kauman, rumah keluarga H. Mochtar seorang pegawai Raad van Agama, ia dapat menyerap bacaan-bacaan dari majalah Orient dan Djawa Baroe yang menjadi langganan keluarga itu.
Kemudian pada masa sekolah di SMA tahun 1949, Fadjar Sidik telah mulai mencoba membuat sketsa dan vignette yang dikirim ke majalah-majalah kebudayaan, dan dimuat. Hal ini selain memberikan kepercayaan pada bakat melukisnya, juga membulatkan wacana pada kebudayaan yang berorientasi pada modernisme Barat.
Tahun 1952 Fadjar Sidik meneruskan kuliah di Sastra UGM. Jurusan itu telah menyuburkan minatnya terhadap kebudayaan Barat. Selanjutnya untuk menyalurkan hasrat melukisnya, ia masuk ASRI bagian V, yaitu guru gambar. Tapi di situ pun Fadjar lebih banyak porsi teori. Lalu ia mendatangi Sudjojono untuk belajar, tapi ia disarankan ke Sanggar Pelukis Rakyat. Di sanggar inilah ia dapat menguasai sketsa menjadi bahasa visualnya.
Tahun 1957, pada konggres Lekra di Solo, Sanggar Pelukis Rakyat resmi menjadi underbrow PKI. Fadjar Sidik yang telah terisi dengan berbagai konstruk pemikiran Barat, meninggalkan sanggar itu dan meneruskan petualangan estetiknya ke Bali.
Di Bali Fadjar Sidik dapat menemukan gairah baru dalam berkarya. Di sini objek-objek artistik melimpah, komunitas seniman tersebar, dan pendukung komersial kuat, hingga menyuburkan kreativitas. Sketsa-sketsa Fadjar Sidik pun mengalir deras merekam aktivitas kehidupan sehari-hari yang unik.
Akan tetapi pembangunan pariwisata telah mengubah wajah Bali. Dengan cepat, gedung, listrik, mobil, jalan aspal, radio tape, alat-alat plastik mengubah Bali yang natural menjadi artificial. Fadjar Sidik pun gelisah karena kehilangan objek-objek yang artistik dan puitis.
Menurut Fadjar Sidik, hasil industri itu memang banyak yang bentuknya indah dan enak dilihat, tapi tidak untuk dilukis. Mereka perlu rusak dulu baru bisa dilukis atau dibuat patung. Dan dalam melukis ini, ia mengaku tidak sampai hati.
Ia yang kecewa karena kehilangan dunia idealnya, akhirnya memutuskan, daripada menggambar obyek-obyek hasil kreasi para desainer industri itu, lebih baik menciptakan bentuk sendiri saja untuk keperluan ekspresi murni. Dan terjadilah bentuk-bentuk abstrak ciptaannya.
Tahun 1961, Abas Alibasyah mengajak Fadjar Sidik pulang ke Yogyakarta untuk mengajar di ASRI. Di situlah fadjar Sidik semakin kuat mengeksplorasi bentuk-bentuk abstrak dalam karyanya. Bentuk-bentuk yang ia ciptakan sendiri, tanpa merepresentasikan bentuk-bentuk apapun di alam itu, merupakan sikap yang purna dari pencarian dan pemberontakan estetiknya.
Tapi tak sejalan dengan proses pencarian kemurniannya, penghargaan terhadap lukisannya cukup memprihatinkan. Pernah, seorang art dealer membeli sejumlah besar lukisannya dengan harga murah. Dan yang memprihatinkan lagi, penggemarnya di Indonesia sangat sedikit , dan malah banyak di luar negeri.
Fadjar Sidik yang meninggal dunia pada 18 Januari 2004 di rumahnya Yogyakarta, terbukti selama 40 tahun lebih telah mempertahankan keyakinan estetik abstraknya secara kuat. Ia telah menjadi agen perubahan dalam seni lukis modern sekaligus pelopor seni lukis abstrak di Indonesia. (yunisa)
Sumber:
Wawancara Oei Hong Djien, oleh Muhidin M Dahlan.
M. Dwi Marianto dan M. Agus Burhan, Fadjar Sidik, Dinamika bentuk dan ruang, Jakarta: Rupa-rupa seni, 2002.
Hendro Wiyanto, Jejak Modernisme Fadjar Sidik dalam http://majalah.tempointeraktif.com.

http://www.galeri-nasional.or.id.

Baca Selengkapnya..

But Muchtar


Lahir di Bandung, 20 Desember 1930, dan meninggal di kota yang sarna, 31 Juni 1993. Menyelesaikan pendidikan di Departemen Seni Rupa, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia di Bandung (ITB) (1952-1959), Rhode Island School of Design, Provedence, R.I. USA (1960-1961), Art Students League of New York, N.Y., USA (1961), Sculpture Center of New York, N.Y, USA (1961-1962), Bedi-Rasi Art Foundry, New York, N.Y., USA (1962), Research Fellow, Masschusetts Institut of Technology, USA (1962-2963).

Berbagai jabatan pernah dipangkunya antara lain: Ketua Departemen Seni Rupa ITB (1975-1977), Sekretaris ITB bidang Komunikasi dan Kebudayaan (1977-1980), Sekretaris Rektor Bidang Komunikasi dan Kebudayaan, ITB (1980-1984), dan sejak tahun 1984 menjabat Rektor Institut Seni Indonesia.

Terlibat aktif dalam berbagai kegiatan, baik nasional maupun internasional, antara lain: sebagai juri sayembara Arsitektur Gedung Kotamadya Bandung (1979), Panitia Juri Sayembara Monumen Proklamator RI, Jakarta (1980), Ketua Design Canter Pavilion Indonesia, EXPO’86, Vancouver, Canada (1985).

Kertas kerja Acces towarel Art Activities disampaikan dalam Simposium “On Enviromental Design” yang diselenggarakan oleh International Association of Artst, Manila, Philippines (1982). Pendidikan Seni Patung dan Seni Rupa di Indonesia kertas ketua dalam rangka Third Asean Sculpture Symposium di Jakarta (1984), A Search for New Identity, makalah “Symposium Art and Development” Titofrad-Yugoslavia (1985). Aktif berpameran, baik tunggal maupun bersama, sejak tahun 1953 hingga sekarang, berbagai kota di Indonesia maupun mancanegara. Sumbangan karya patung monumentalnya di Jakarta antara lain: Relief Kayu di Wisma Bahari, Tanjung Priok (1964), Relief Metal di Gedung DPR/MPR, Jakarta (1970), Relief Metal di Gedung DPA, Jakarta (1982).
Baca Selengkapnya..

Mochtar Apin


Senirupawan, lahir di Bukit Tinggi, Padang Panjang, Sumatera Barat, 23 Desember 1923 dan meninggal di Bandung, 1 Januari 1994. Seorang putera dari seorang pegawai kereta api. Ia mendapatkan pendidikan luas, yang pada tahun 1948 mencoba meraih gelar sarjana sastra di Universitas Indonesia di Jakarta. Walaupun berbakat dalam puisi serta menulis, melukis menjadi gairahnya sementara ia masih di sekolah (1939-1940). Lulus Seni Rupa ITB, Bandung (1951), Seni Rupa dan Kria, Amsterdam (1952), Ecole Nationale Superieure des Beaux Art, Paris (1957), dan Deutsche Akademie der Kunste, Berlin (Jerman) tahun 1958. Salah seorang pendiri organisasi budaya Gelanggang. Sejak tahun 1950 sampai akhir hayatnya, aktif mengikuti pameran bersama ataupun tunggal.

Di bawah pemerintahan Jepang, seperti begitu banyak seniman kerabatnya, ia bekerja di Pusat Kebudayaan. Pada tahun 1946 ia aktif sebagai editor sebuah jurnal, Nusantara, dan pada tahun 1947 ia bekerja untuk majalah berkala Pembangunan dan Gema Suasana, sementara juga memproduksi ilustrasi-ilustrasi untuk organisasi penerbitan pemerintah, Balai Pustaka. Dengan berdirinya Sekolah Seni Rupa di Bandung pada tahun 1948, Apin ditemukan oleh Admiral, direktur pertamanya, dan menjadi seorang teman dekat serta mahasiswa dari Ries Mulder, pelukis Belanda serta pengajar utarna di Bandung. Pada tahun 1951 ia pergi ke Holland atas beasiswa dari STICUSA di mana ia bekerja dan berpameran selama dua tahun. Pada 1953, ia pergi ke Paris untuk belajar selama empat tahun di Ecole Nationale Superieure des Beaux-Arts, menghabiskan waktu cukup banyak pada seni grafis serta fotografi.

Bekerja cukup banyak pada seni gratis serta fotografi. Sementara bekerja serta mengadakan perjalanan ke luar negeri, ia dikontrak untuk melukis mural di gedung Kedutaan Besar Indonesia di Paris. Di Jerman ia mendekorasi sebuah restoran Indonesia di Dusseldorf dengan mural. Pada Mei 1958 Mochtar Apin kembali ke Indonesia, bergabung dengan staf pengajar di Institut Teknologi Bandung sebagai seorang dari pengajar-pengajar seni terkemuka. Pada tahun 1966 ia adalah kepala Bagian Grafis dari Departemen Seni Rupa.
Baca Selengkapnya..